Asesmen diagnostik digunakan untuk mengetahui kondisi awal peserta didik sebelum guru menentukan strategi pembelajaran. Melalui asesmen ini, guru dapat melihat materi yang sudah dikuasai, bagian yang masih sulit dipahami, hingga kebutuhan belajar yang perlu mendapat perhatian.
Fungsi tersebut membuat asesmen diagnostik berbeda dari tes yang sekadar menghasilkan angka. Informasi yang diperoleh seharusnya membantu guru menentukan langkah berikutnya, misalnya memberikan penguatan materi prasyarat, menyesuaikan tingkat kesulitan pembelajaran, melakukan pendampingan, atau menyiapkan kegiatan pengayaan.
Dalam praktik pembelajaran, asesmen pada awal kegiatan juga dapat digunakan untuk mengenali karakteristik, potensi, kebutuhan, perkembangan, dan capaian belajar murid. Informasi itu kemudian menjadi dasar agar pembelajaran tidak diterapkan dengan cara yang sama kepada semua siswa tanpa mempertimbangkan kesiapan mereka.
Karena itu, keberhasilan asesmen diagnostik bukan ditentukan oleh banyaknya soal, tetapi oleh seberapa berguna hasilnya untuk memperbaiki proses belajar.
Pengertian Asesmen Diagnostik
Asesmen diagnostik adalah proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui kemampuan awal, pengetahuan, kebutuhan, atau hambatan belajar peserta didik sebelum maupun ketika guru akan memulai pembelajaran tertentu.
Istilah "diagnostik" dalam konteks pendidikan bukan berarti guru memberikan diagnosis medis atau psikologis. Maknanya lebih dekat dengan kegiatan memetakan kondisi awal belajar sehingga keputusan pembelajaran dibuat berdasarkan informasi, bukan perkiraan semata.
Misalnya, guru akan mengajarkan materi pecahan. Sebelum masuk ke materi utama, guru dapat memberikan beberapa pertanyaan sederhana mengenai pembagian, perkalian, dan konsep bagian dari keseluruhan.
Apabila banyak siswa ternyata belum memahami pembagian dasar, guru memperoleh informasi penting bahwa materi prasyarat tersebut perlu diperkuat terlebih dahulu.
Dalam kondisi seperti ini, asesmen diagnostik membantu menjawab tiga pertanyaan penting:
-
Apa yang sudah dikuasai siswa?
-
Bagian mana yang masih belum dipahami?
-
Pembelajaran seperti apa yang perlu dilakukan setelahnya?
Itulah alasan asesmen diagnostik tidak seharusnya berhenti pada perolehan nilai.
Baca Juga: Cara Menulis Surat Resmi yang Baik dan Benar: Struktur, Format, Kaidah, dan Contohnya
Tujuan Asesmen Diagnostik dalam Pembelajaran
Tujuan utama asesmen diagnostik adalah membantu guru menentukan pembelajaran berdasarkan kondisi nyata peserta didik.
Informasinya dapat diperoleh melalui soal tertulis, pertanyaan lisan, observasi, diskusi, tugas sederhana, angket, maupun bentuk lain yang sesuai.
Beberapa tujuan asesmen diagnostik antara lain:
-
Mengetahui kemampuan awal siswa. Guru dapat mengetahui kompetensi yang sudah dimiliki sebelum memperkenalkan materi baru.
-
Menemukan kesenjangan pemahaman. Siswa dalam satu kelas dapat memiliki tingkat kesiapan yang berbeda walaupun mempelajari materi yang sama.
-
Memeriksa materi prasyarat. Sejumlah materi baru memerlukan pemahaman sebelumnya agar dapat dipelajari dengan baik.
-
Menentukan kebutuhan penguatan. Siswa yang masih mengalami kesulitan dapat memperoleh pembelajaran tambahan sebelum masuk ke konsep yang lebih sulit.
-
Menentukan kebutuhan pengayaan. Siswa yang sudah menguasai kemampuan dasar dapat diberikan tantangan yang lebih sesuai.
-
Membantu menyusun strategi pembelajaran. Guru dapat menyesuaikan materi, metode, aktivitas, tempo belajar, atau bentuk pendampingan.
-
Mengenali kondisi belajar siswa. Informasi mengenai motivasi, konsentrasi, pengalaman belajar sebelumnya, atau hambatan tertentu dapat membantu guru memahami kondisi kelas.
Dalam penerapannya, guru dapat memanfaatkan layanan dan informasi pendidikan melalui portal resmi Rumah Pendidikan Kemendikdasmen apabila membutuhkan perangkat atau informasi pendukung asesmen yang disediakan pemerintah.
Hal terpenting adalah hasil asesmen harus benar-benar digunakan.
Jika guru memberikan asesmen tetapi tetap menggunakan strategi pembelajaran yang sama tanpa mempertimbangkan hasilnya, fungsi diagnostik menjadi kurang bermakna.
Jenis Asesmen Diagnostik
Asesmen diagnostik dapat digunakan untuk melihat kemampuan akademik maupun kondisi lain yang berhubungan dengan kesiapan belajar siswa.
Pembagiannya tidak harus selalu kaku, tetapi secara praktis dapat dipahami melalui dua kelompok berikut.
1. Asesmen Diagnostik Kognitif
Asesmen diagnostik kognitif berfokus pada pengetahuan dan keterampilan akademik peserta didik.
Guru menggunakannya untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai kemampuan yang dibutuhkan sebelum mempelajari materi berikutnya.
Bentuk asesmennya dapat berupa:
-
soal pilihan ganda;
-
pertanyaan terbuka;
-
soal uraian;
-
tugas pemecahan masalah;
-
kegiatan membaca dan menjawab pertanyaan;
-
demonstrasi keterampilan;
-
kuis singkat;
-
wawancara akademik.
Misalnya, guru IPA akan mengajarkan sistem pernapasan manusia.
Sebelumnya, siswa diberikan beberapa pertanyaan mengenai fungsi organ tubuh. Hasilnya menunjukkan sebagian siswa masih keliru membedakan fungsi paru-paru dan jantung.
Guru kemudian dapat melakukan penguatan konsep sebelum masuk ke materi yang lebih kompleks.
Dalam asesmen seperti ini, yang dicari bukan siswa dengan nilai tertinggi, melainkan pola pemahaman dan kesalahan.
2. Asesmen terhadap Kondisi dan Kebutuhan Belajar
Guru juga dapat mengumpulkan informasi mengenai faktor yang berhubungan dengan proses belajar.
Contohnya meliputi:
-
motivasi belajar;
-
konsentrasi;
-
pengalaman belajar sebelumnya;
-
minat;
-
kenyamanan belajar;
-
hambatan mengikuti pembelajaran;
-
kondisi lingkungan belajar.
Instrumennya tidak harus berupa tes.
Guru dapat menggunakan:
-
angket singkat;
-
observasi;
-
wawancara;
-
percakapan individu;
-
jurnal siswa;
-
refleksi tertulis;
-
komunikasi dengan orang tua atau wali jika diperlukan.
Contohnya, seorang siswa terus memperoleh hasil rendah dalam tugas membaca.
Guru tidak langsung menyimpulkan bahwa siswa tersebut tidak mampu. Guru dapat terlebih dahulu memeriksa apakah kesulitan berasal dari pemahaman bacaan, kosakata, konsentrasi, atau penyebab lain yang berkaitan dengan kegiatan belajar.
Namun, guru tetap perlu memahami batas kewenangannya.
Asesmen pembelajaran tidak digunakan untuk memberikan diagnosis medis atau psikologis. Apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, penanganannya perlu melibatkan pihak yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya.
Baca Juga: Cara Membuat Proposal : Struktur, Jenis, Format Penulisan, dan Contoh
Ciri-Ciri Asesmen Diagnostik yang Baik
Tidak semua tes yang diberikan pada awal pembelajaran otomatis dapat disebut asesmen diagnostik.
Sebuah asesmen memiliki fungsi diagnostik ketika instrumennya mampu menghasilkan informasi yang benar-benar membantu menentukan pembelajaran berikutnya.
Memiliki tujuan yang jelas
Guru harus mengetahui kemampuan apa yang ingin dipetakan.
Jika siswa akan mempelajari persamaan linear, misalnya, asesmen dapat difokuskan pada operasi hitung dan aljabar dasar yang benar-benar dibutuhkan.
Tidak perlu menguji semua materi sebelumnya.
Mengukur kemampuan yang relevan
Soal yang terlalu banyak belum tentu memberikan informasi yang lebih baik.
Beberapa pertanyaan yang disusun secara tepat sering kali lebih berguna daripada puluhan soal dengan cakupan terlalu luas.
Tidak berorientasi pada peringkat
Tujuan utamanya bukan menentukan siapa siswa paling pintar atau paling lemah.
Guru perlu mengetahui kebutuhan belajar setiap siswa atau kelompok siswa agar strategi pembelajaran dapat disesuaikan.
Mampu menunjukkan pola kesalahan
Angka 60 atau 70 saja belum memberikan informasi yang cukup.
Guru membutuhkan informasi yang lebih spesifik, misalnya:
-
siswa sudah memahami perkalian tetapi masih kesulitan pembagian;
-
siswa mampu menemukan gagasan utama tetapi belum bisa membedakan fakta dan opini;
-
siswa memahami rumus tetapi kesulitan menerapkannya dalam soal cerita.
Informasi semacam ini lebih mudah ditindaklanjuti.
Memiliki tindak lanjut
Asesmen diagnostik seharusnya berujung pada keputusan pembelajaran.
Guru dapat mengubah metode, memberikan penguatan, menyesuaikan urutan materi, membuat kelompok belajar fleksibel, atau menyediakan pengayaan.
Tanpa tindak lanjut, asesmen hanya menjadi kegiatan mengumpulkan nilai.
Perbedaan Asesmen Diagnostik, Formatif, dan Sumatif
Asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif sama-sama digunakan dalam pembelajaran, tetapi tujuan penggunaannya berbeda.
Perbedaan paling mudah dipahami dari pertanyaan yang ingin dijawab oleh masing-masing asesmen.
| Jenis Asesmen | Fokus Utama | Waktu Penggunaan | Pemanfaatan Hasil |
|---|---|---|---|
| Diagnostik | Mengetahui kemampuan dan kondisi awal | Sebelum atau pada awal pembelajaran | Menentukan titik awal serta kebutuhan belajar |
| Formatif | Memantau perkembangan siswa | Selama pembelajaran berlangsung | Memberikan umpan balik dan memperbaiki proses belajar |
| Sumatif | Mengetahui pencapaian belajar | Setelah unit atau periode pembelajaran | Menilai hasil belajar yang telah dicapai |
Cara mudah mengingat perbedaannya adalah melalui tiga pertanyaan.
Asesmen diagnostik: Dari mana siswa harus mulai?
Asesmen formatif: Bagaimana perkembangan siswa selama belajar?
Asesmen sumatif: Apa yang sudah berhasil dicapai siswa?
Dalam praktiknya, asesmen diagnostik dan formatif dapat saling berkaitan karena keduanya sama-sama dapat digunakan untuk memperbaiki pembelajaran.
Perbedaannya terutama terletak pada fokus. Diagnostik lebih menekankan pemetaan kondisi awal, sedangkan formatif digunakan untuk melihat perkembangan ketika proses pembelajaran sudah berlangsung.
Cara Melaksanakan Asesmen Diagnostik
Asesmen diagnostik tidak harus rumit dan tidak selalu membutuhkan aplikasi khusus.
Guru dapat melaksanakannya dengan langkah sederhana berikut.
1. Tentukan tujuan pembelajaran
Guru perlu mengetahui kompetensi apa yang akan dicapai siswa.
Misalnya, siswa akan mempelajari luas segitiga. Guru kemudian mengidentifikasi kemampuan yang diperlukan sebelum siswa masuk ke materi tersebut.
2. Tentukan materi prasyarat
Pilih kemampuan sebelumnya yang benar-benar berhubungan dengan materi baru.
Dalam contoh luas segitiga, siswa mungkin perlu memahami perkalian, satuan panjang, unsur bangun datar, serta konsep luas.
Dengan cara ini, asesmen menjadi lebih terarah.
3. Susun instrumen asesmen
Instrumen dapat berupa soal, pertanyaan lisan, tugas praktik, diskusi, atau kombinasi beberapa bentuk.
Soal juga dapat disusun bertingkat dari mudah menuju lebih menantang.
Tujuannya agar guru dapat mengetahui titik kemampuan siswa dengan lebih jelas.
4. Jelaskan tujuan asesmen kepada siswa
Siswa perlu mengetahui bahwa kegiatan tersebut digunakan untuk membantu menentukan pembelajaran, bukan sekadar mencari nilai.
Pemahaman ini penting agar mereka menjawab sesuai kemampuan sebenarnya.
Jika siswa terlalu takut salah, mereka mungkin menebak atau mencari jawaban dari teman sehingga hasil asesmen tidak lagi menggambarkan kondisi nyata.
5. Analisis jawaban berdasarkan pola
Jangan hanya menghitung jumlah jawaban benar.
Periksa:
-
soal mana yang paling banyak salah;
-
konsep apa yang sudah dikuasai;
-
kesalahan apa yang sering muncul;
-
siswa mana yang membutuhkan penguatan;
-
siswa mana yang sudah siap mengikuti tantangan lebih tinggi.
6. Kelompokkan kebutuhan secara fleksibel
Guru dapat membuat kelompok berdasarkan kebutuhan pembelajaran.
Contohnya:
-
kelompok penguatan konsep dasar;
-
kelompok pembelajaran utama;
-
kelompok pengayaan.
Kelompok tersebut tidak boleh dianggap permanen.
Siswa dapat berpindah kelompok setelah menunjukkan perkembangan.
7. Tindak lanjuti hasil asesmen
Guru dapat menyesuaikan pembelajaran melalui:
-
pengajaran ulang singkat;
-
latihan tambahan;
-
penggunaan contoh lebih sederhana;
-
pendampingan individu;
-
pembelajaran kelompok;
-
aktivitas pengayaan;
-
perubahan metode mengajar.
Tahap ini justru menjadi bagian paling penting dari asesmen diagnostik.
Baca Juga: Cara Menulis Abstrak Penelitian yang Benar: Struktur, Unsur, Format, dan Contohnya
Contoh Penerapan Asesmen Diagnostik di Sekolah
Contoh asesmen diagnostik dapat berbeda menurut jenjang pendidikan, mata pelajaran, dan kompetensi yang akan dipelajari.
Berikut beberapa ilustrasinya.
Contoh Asesmen Diagnostik Matematika SD
Guru kelas IV akan mengajarkan pembagian dengan bilangan yang lebih besar.
Sebelum masuk ke materi utama, guru memberikan beberapa pertanyaan:
-
Hitung 6 × 4.
-
Hitung 24 ÷ 6.
-
Lengkapi 5 × ... = 35.
-
Rina memiliki 20 permen dan membagikannya kepada 5 anak secara sama rata. Berapa permen yang diterima setiap anak?
-
Apa arti 4 × 3 menurut pemahamanmu?
-
Operasi apa yang digunakan untuk membagi 32 buku ke dalam 8 kelompok sama banyak?
Misalnya, hasil menunjukkan sebagian besar siswa telah memahami perkalian tetapi masih kesulitan menerjemahkan soal cerita menjadi operasi pembagian.
Guru tidak harus mengulang seluruh materi perkalian.
Pembelajaran dapat diarahkan pada hubungan antara pembagian dan situasi sehari-hari.
Contoh Asesmen Diagnostik Bahasa Indonesia SMP
Guru akan mengajarkan teks argumentasi.
Sebelumnya, siswa diminta membaca sebuah paragraf pendek kemudian:
-
menemukan pendapat penulis;
-
menentukan alasan yang digunakan;
-
membedakan fakta dan opini;
-
membuat satu alasan untuk mendukung sebuah pendapat.
Jika siswa mampu menemukan opini tetapi kesulitan menyusun alasan, guru dapat menekankan hubungan antara pendapat, alasan, dan bukti pada pembelajaran berikutnya.
Contoh Asesmen Diagnostik Matematika SMA
Sebelum mempelajari fungsi kuadrat, guru memberikan soal tentang:
-
operasi aljabar;
-
faktorisasi;
-
persamaan linear;
-
koordinat;
-
grafik sederhana.
Apabila sejumlah siswa masih mengalami kesulitan memfaktorkan bentuk aljabar, guru dapat memberikan penguatan terlebih dahulu.
Langkah ini mencegah kesulitan prasyarat terbawa ke materi yang lebih kompleks.
Contoh Asesmen Kondisi Belajar
Guru dapat memberikan pertanyaan refleksi seperti:
-
Bagian pembelajaran sebelumnya yang paling sulit menurutmu apa?
-
Materi apa yang masih belum kamu pahami?
-
Apakah kamu lebih mudah memahami materi melalui contoh atau penjelasan teori terlebih dahulu?
-
Apa yang biasanya membuatmu sulit berkonsentrasi ketika belajar?
Jawaban tidak perlu diberi nilai.
Informasinya digunakan untuk membantu guru memahami pengalaman belajar siswa dan merancang aktivitas yang lebih sesuai.
Cara Menindaklanjuti Hasil Asesmen Diagnostik
Asesmen diagnostik baru memberikan manfaat ketika hasilnya digunakan untuk mengambil keputusan.
Jika mayoritas siswa belum menguasai materi prasyarat, guru dapat melakukan penguatan sebelum melanjutkan.
Jika hanya sebagian kecil siswa yang mengalami kesulitan, pembelajaran tambahan dapat diberikan kepada kelompok tersebut tanpa harus mengulang seluruh materi untuk satu kelas.
Sebaliknya, siswa yang sudah menguasai kompetensi dasar dapat memperoleh:
-
latihan dengan tingkat penalaran lebih tinggi;
-
soal pengayaan;
-
proyek sederhana;
-
aktivitas eksplorasi;
-
tugas penerapan konsep.
Guru juga perlu menghindari penggunaan label permanen.
Istilah seperti "kelompok pintar", "kelompok lemah", atau "siswa lambat" dapat menciptakan persepsi bahwa kemampuan siswa tidak dapat berubah.
Padahal hasil asesmen hanya menggambarkan kondisi pada waktu tertentu.
Siswa yang saat ini membutuhkan penguatan dapat berkembang setelah memperoleh pembelajaran yang tepat.
Karena itu, kelompok belajar sebaiknya bersifat fleksibel dan terus dievaluasi.
Baca Juga: Cara Menulis Kutipan Langsung dan Tidak Langsung yang Benar Beserta Contohnya
Kesalahan yang Harus Dihindari dalam Asesmen Diagnostik
Asesmen diagnostik dapat kehilangan manfaat jika dilaksanakan seperti ujian biasa.
Beberapa kesalahan berikut perlu dihindari.
Membuat soal terlalu banyak
Jumlah soal yang berlebihan dapat membuat siswa kelelahan dan justru mengurangi kualitas informasi yang diperoleh.
Fokuslah pada kompetensi yang benar-benar ingin dipetakan.
Menguji materi terlalu luas
Asesmen tidak harus mencakup seluruh pelajaran semester sebelumnya.
Pilih materi yang mempunyai hubungan langsung dengan topik yang akan dipelajari.
Hanya melihat nilai akhir
Seorang siswa mendapatkan nilai 60 belum tentu berarti ia tidak memahami seluruh materi.
Bisa saja ia hanya mengalami kesulitan pada satu konsep tertentu.
Karena itu, guru perlu melihat pola jawaban.
Menggunakan hasil untuk menghukum siswa
Asesmen diagnostik tidak seharusnya digunakan untuk mempermalukan, menghukum, atau membandingkan siswa secara berlebihan.
Jika siswa takut mendapatkan hasil buruk, mereka mungkin tidak menunjukkan kemampuan sebenarnya.
Memberikan label berdasarkan hasil asesmen
Hasil asesmen bukan penilaian permanen terhadap kemampuan seseorang.
Guru sebaiknya menggunakan istilah berdasarkan kebutuhan belajar, misalnya "membutuhkan penguatan operasi hitung", bukan "siswa lemah Matematika".
Tidak melakukan tindak lanjut
Ini merupakan kesalahan paling mendasar.
Jika hasil asesmen tidak memengaruhi strategi pembelajaran, tujuan diagnostik menjadi tidak tercapai.
Menganggap satu asesmen menjelaskan semua masalah
Kesulitan belajar dapat disebabkan oleh berbagai faktor.
Jika informasi dari satu asesmen belum cukup, guru dapat melakukan observasi tambahan, berdiskusi dengan siswa, atau berkomunikasi dengan pihak lain yang relevan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah asesmen diagnostik harus dilakukan pada awal tahun ajaran?
Tidak. Asesmen diagnostik dapat dilakukan pada awal tahun, sebelum memulai materi baru, atau ketika guru membutuhkan informasi mengenai kemampuan dan kebutuhan belajar siswa. Waktunya menyesuaikan tujuan asesmen.
Apakah nilai asesmen diagnostik masuk rapor?
Tujuan utama asesmen diagnostik bukan menghasilkan nilai akhir untuk rapor. Hasilnya lebih berguna sebagai bahan untuk menentukan strategi, materi penguatan, pendampingan, dan kebutuhan pembelajaran berikutnya.
Apakah asesmen diagnostik harus berupa soal tertulis?
Tidak. Guru dapat menggunakan pertanyaan lisan, tugas praktik, observasi, diskusi, angket, refleksi, maupun kombinasi beberapa metode. Bentuk asesmen harus menyesuaikan informasi yang ingin diperoleh.
Apa perbedaan asesmen diagnostik dan pretest?
Pretest adalah tes yang diberikan sebelum pembelajaran, sedangkan asesmen diagnostik lebih menekankan fungsi pemetaan. Pretest dapat digunakan sebagai asesmen diagnostik apabila hasilnya dianalisis untuk menemukan kemampuan awal dan menentukan tindak lanjut pembelajaran.
Apa yang harus dilakukan setelah asesmen diagnostik?
Guru perlu menganalisis hasil kemudian menyesuaikan pembelajaran. Tindak lanjut dapat berupa penguatan materi, perubahan metode, pendampingan, pembentukan kelompok belajar fleksibel, remedial, maupun pengayaan.
Penutup
Asesmen diagnostik membantu guru mengetahui titik awal belajar peserta didik sebelum menentukan strategi pembelajaran. Informasi yang diperoleh tidak sebatas nilai, tetapi mencakup materi yang sudah dikuasai, kemampuan prasyarat yang masih lemah, serta kebutuhan belajar yang perlu mendapatkan perhatian.
Pelaksanaannya tidak harus menggunakan tes panjang. Instrumen sederhana dapat memberikan informasi yang berguna selama pertanyaannya relevan dan hasilnya benar-benar dianalisis.
Hal yang paling penting adalah tindak lanjut. Guru dapat menggunakan hasil asesmen untuk memberikan penguatan, menyesuaikan metode, mengatur tingkat kesulitan, melakukan pendampingan, atau menyiapkan pengayaan. Dengan cara tersebut, asesmen diagnostik menjadi bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar kegiatan memberikan soal kepada siswa.