Inquiry Learning: Pengertian, Tahapan, Kelebihan, dan Contoh Penerapannya

Inquiry Learning: Pengertian, Tahapan, Kelebihan, dan Contoh Penerapannya
Foto: Ilustrasi Inquiry Learning: Pengertian, Tahapan, Kelebihan, dan Contoh Penerapannya.

Inquiry Learning atau pembelajaran inkuiri merupakan model pembelajaran yang mendorong murid memperoleh pemahaman melalui proses bertanya, menyelidiki, mengumpulkan bukti, menganalisis informasi, dan menarik kesimpulan. Guru tidak langsung memberikan seluruh jawaban, tetapi menciptakan kondisi agar murid aktif menemukan hubungan antarkonsep berdasarkan proses penyelidikan yang terarah.

Model ini dapat digunakan pada berbagai mata pelajaran, terutama ketika tujuan belajar menuntut kemampuan mengamati, mempertanyakan, menalar, membandingkan bukti, dan menjelaskan suatu temuan. Dalam konteks pendidikan Indonesia pada 2026, pembelajaran aktif semacam ini relevan dengan Standar Proses terbaru yang menekankan pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan serta pengalaman belajar untuk memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan.

Meski demikian, Inquiry Learning bukan berarti murid dibiarkan mencari pengetahuan tanpa arah. Guru tetap perlu menentukan tujuan, menyediakan situasi pemantik, menyesuaikan tingkat bantuan, memeriksa ketepatan informasi, dan memastikan kegiatan penyelidikan benar-benar membantu murid memahami materi.

Pengertian Inquiry Learning

Inquiry Learning adalah model pembelajaran yang menempatkan proses penyelidikan sebagai bagian utama kegiatan belajar. Murid tidak sekadar menerima informasi, tetapi diarahkan untuk menemukan jawaban melalui pertanyaan, dugaan, pengumpulan informasi atau data, analisis, serta penarikan kesimpulan.

Istilah inquiry berkaitan dengan kegiatan mencari tahu atau melakukan penyelidikan. Dalam konteks pembelajaran, yang dicari bukan hanya jawaban akhir, melainkan alasan mengapa sebuah jawaban dapat dianggap benar.

Contohnya dapat terlihat dalam pelajaran IPA.

Alih-alih langsung mengatakan bahwa cahaya memengaruhi pertumbuhan tanaman, guru dapat menampilkan dua tanaman sejenis dengan kondisi pertumbuhan berbeda.

Guru kemudian bertanya:

“Mengapa tanaman yang satu tumbuh lebih tinggi tetapi warnanya lebih pucat?”

Murid dapat mengembangkan dugaan, membandingkan kondisi tanaman, menentukan informasi yang diperlukan, melakukan percobaan sederhana, lalu menjelaskan hubungan antara cahaya dan pertumbuhan.

Proses semacam itu menunjukkan inti Inquiry Learning. Pengetahuan dibangun melalui penyelidikan yang memiliki arah, bukan sekadar diberikan sebagai fakta yang harus dihafalkan.

Model pembelajaran inkuiri juga menuntut murid menggunakan proses berpikir sistematis, kritis, dan analitis ketika mencari jawaban atas permasalahan yang sedang dipelajari.

Karakteristik Inquiry Learning

Inquiry Learning dapat dikenali melalui beberapa karakteristik. Ciri-ciri ini penting karena tidak setiap kegiatan bertanya atau eksperimen otomatis dapat disebut pembelajaran inkuiri.

  • Berawal dari pertanyaan atau fenomena. Pembelajaran memiliki sesuatu yang perlu dicari penjelasannya, baik berupa peristiwa, data, gambar, kasus, percobaan, maupun pertanyaan.

  • Murid aktif mencari jawaban. Informasi tidak seluruhnya diberikan sejak awal. Murid perlu melakukan pengamatan, membaca, mengukur, membandingkan, berdiskusi, atau menggunakan cara lain untuk memperoleh bukti.

  • Menggunakan proses berpikir. Murid tidak hanya mengumpulkan fakta, tetapi menghubungkan fakta tersebut dengan pertanyaan yang sedang diselidiki.

  • Jawaban didasarkan pada bukti. Kesimpulan sebaiknya dapat dijelaskan melalui hasil pengamatan, data, sumber yang relevan, atau penalaran yang dapat diperiksa.

  • Guru memberikan bantuan sesuai kebutuhan. Pada murid yang masih membutuhkan arahan, guru dapat menyediakan pertanyaan, prosedur, atau sebagian informasi. Tingkat bantuan dapat dikurangi ketika kemampuan inkuiri berkembang.

  • Terdapat proses pemeriksaan kesimpulan. Murid perlu melihat kembali apakah bukti benar-benar mendukung hasil yang diperoleh.

  • Refleksi menjadi bagian pembelajaran. Murid memikirkan apa yang ditemukan, bagaimana cara menemukannya, serta bagian penyelidikan yang perlu diperbaiki.

Karena itu, aktivitas seperti membaca satu paragraf kemudian menjawab pertanyaan yang jawabannya sudah tertulis secara langsung belum menunjukkan proses inkuiri yang kuat.

Baca Juga: 12 Aplikasi AI Terbaik untuk Pelajar dan Mahasiswa di 2026

Tujuan dan Manfaat Inquiry Learning

Inquiry Learning digunakan bukan sekadar untuk membuat kelas lebih aktif. Aktivitas penyelidikan harus memiliki hubungan langsung dengan kemampuan yang hendak dibangun.

1. Membangun rasa ingin tahu

Pembelajaran dimulai dari sesuatu yang belum sepenuhnya diketahui murid.

Ketika muncul pertanyaan seperti “mengapa?”, “bagaimana?”, atau “apa yang terjadi jika?”, murid memiliki alasan untuk mencari informasi lebih lanjut.

2. Melatih berpikir kritis

Murid belajar bahwa tidak semua informasi harus langsung diterima.

Mereka perlu menanyakan:

“Bukti apa yang mendukungnya?”

“Apakah ada kemungkinan penjelasan lain?”

“Apakah data ini cukup?”

Kebiasaan tersebut membantu murid membedakan dugaan dengan kesimpulan yang telah memiliki dasar.

3. Membantu memahami konsep

Konsep yang ditemukan melalui pengamatan dan analisis dapat menjadi lebih mudah dihubungkan dengan situasi nyata.

Dalam Matematika, misalnya, guru dapat memberikan beberapa pola bilangan dan meminta murid menentukan hubungan yang terdapat di dalamnya sebelum rumus umum diperkenalkan.

4. Mengembangkan keterampilan penyelidikan

Inquiry Learning dapat melatih kemampuan:

  • merumuskan pertanyaan;

  • membuat dugaan;

  • melakukan observasi;

  • mengumpulkan informasi;

  • mengelompokkan data;

  • membandingkan hasil;

  • menguji penjelasan;

  • dan menarik kesimpulan.

Kemampuan tersebut sangat berguna terutama pada pembelajaran sains, tetapi prinsipnya juga dapat diterapkan pada mata pelajaran lain.

5. Mendorong kemandirian belajar

Murid mulai memahami bahwa belajar tidak selalu berarti menunggu penjelasan guru.

Ketika menemukan sesuatu yang belum dipahami, mereka dapat menentukan pertanyaan, mencari sumber, membandingkan informasi, kemudian memeriksa pemahamannya.

6. Melatih komunikasi

Hasil penyelidikan perlu dikomunikasikan.

Murid belajar menjelaskan apa yang diamati, data yang digunakan, alasan memilih suatu kesimpulan, dan bagaimana menjawab pertanyaan dari orang lain.

7. Mengembangkan sikap terhadap bukti

Salah satu nilai penting pembelajaran inkuiri adalah membiasakan murid mengubah kesimpulan apabila bukti baru menunjukkan hal yang berbeda.

Dengan begitu, tujuan belajar bukan mempertahankan jawaban pertama, tetapi menemukan penjelasan yang paling sesuai dengan informasi yang tersedia.

Tahapan Inquiry Learning

Tahapan Inquiry Learning dapat memiliki istilah berbeda tergantung rancangan pembelajaran. Namun, prosesnya umumnya bergerak dari orientasi terhadap fenomena hingga penyusunan dan pemeriksaan kesimpulan.

1. Orientasi terhadap fenomena atau masalah

Guru memberikan kondisi yang dapat memancing rasa ingin tahu.

Pemantik dapat berupa:

  • demonstrasi;

  • gambar;

  • data;

  • cerita kasus;

  • percobaan;

  • video;

  • benda nyata;

  • atau peristiwa yang dekat dengan kehidupan murid.

Misalnya, guru menampilkan es batu yang diletakkan pada piring logam dan piring plastik.

Pertanyaannya bukan langsung “apa yang disebut perpindahan kalor?”, melainkan:

“Mengapa es pada salah satu permukaan mencair lebih cepat?”

Fenomena tersebut memberikan alasan untuk melakukan penyelidikan.

2. Merumuskan pertanyaan

Murid menentukan apa yang ingin diketahui.

Pertanyaan harus cukup terarah sehingga memungkinkan untuk diselidiki.

Contoh kurang tepat:

“Mengapa alam menarik?”

Pertanyaan tersebut terlalu luas.

Contoh yang lebih tepat:

“Apakah jenis permukaan memengaruhi kecepatan mencairnya es?”

Pertanyaan kedua lebih mudah diterjemahkan menjadi kegiatan pengamatan atau percobaan.

3. Membuat dugaan atau hipotesis

Murid dapat membuat jawaban sementara berdasarkan pengetahuan awal.

Misalnya:

“Es yang berada di atas logam akan mencair lebih cepat karena logam memindahkan panas lebih cepat dibandingkan plastik.”

Dugaan tidak harus langsung benar. Fungsinya adalah memberikan sesuatu yang dapat diperiksa melalui bukti.

4. Mengumpulkan data atau informasi

Murid mencari bukti yang diperlukan.

Kegiatan dapat berupa:

  1. melakukan percobaan;

  2. mengamati objek;

  3. mencatat hasil pengukuran;

  4. membaca sumber;

  5. melakukan survei;

  6. membandingkan contoh;

  7. atau menganalisis data yang diberikan guru.

Dalam pembelajaran sains, proses inkuiri dapat melibatkan perumusan masalah, pengajuan hipotesis, pengumpulan dan pengolahan data hingga komunikasi hasil.

5. Menganalisis dan menguji dugaan

Data yang terkumpul belum otomatis menjadi jawaban.

Murid perlu mencari pola dan hubungan.

Jika tiga percobaan menunjukkan es di permukaan logam selalu lebih cepat mencair daripada di permukaan plastik, mereka mulai memiliki bukti yang dapat dibandingkan dengan dugaan awal.

Pada tahap ini guru dapat bertanya:

“Apakah seluruh hasil mendukung dugaan?”

“Adakah data yang berbeda?”

“Apa kemungkinan penyebabnya?”

6. Menarik kesimpulan

Murid menyusun jawaban berdasarkan bukti.

Kesimpulan yang baik tidak hanya berbunyi:

“Hipotesis kami benar.”

Lebih baik:

“Pada percobaan yang dilakukan, es di atas permukaan logam mencair lebih cepat dibandingkan es di atas plastik. Hasil tersebut mendukung dugaan bahwa jenis bahan memengaruhi perpindahan panas.”

Kesimpulan menjadi lebih kuat karena menunjukkan hubungan antara data dan penjelasan.

7. Mengomunikasikan dan merefleksikan hasil

Hasil penyelidikan dapat dipresentasikan secara lisan, ditulis sebagai laporan, dibuat menjadi grafik, atau didiskusikan bersama kelas.

Setelah itu, murid dapat mengevaluasi:

  • apakah pertanyaannya sudah terjawab;

  • apakah data cukup;

  • apakah terdapat kesalahan prosedur;

  • dan apa yang perlu dilakukan jika percobaan diulang.

Refleksi membuat murid belajar bukan hanya dari hasil, tetapi juga dari cara memperoleh hasil tersebut.

Baca Juga: Deep Learning dalam Pendidikan: Pengertian, Prinsip, Penerapan, Manfaat, dan Contohnya

Jenis-Jenis Inquiry Learning

Tingkat kebebasan murid dalam Inquiry Learning tidak selalu sama. Guru dapat mengatur tingkat bantuan sesuai usia, pengalaman, dan kesiapan murid.

1. Inkuiri Terstruktur

Pada inkuiri terstruktur, pertanyaan dan prosedur penyelidikan sebagian besar disediakan oleh guru.

Murid menjalankan prosedur tersebut, mencatat hasil, menganalisis data, kemudian menentukan kesimpulan.

Pendekatan ini cocok untuk murid yang baru mulai belajar melakukan penyelidikan.

Contohnya, guru memberikan pertanyaan tentang pengaruh suhu air terhadap kecepatan gula larut sekaligus menyediakan langkah percobaan.

Murid tetap perlu mengolah hasil dan menjelaskan kesimpulannya.

2. Inkuiri Terbimbing

Pada guided inquiry atau inkuiri terbimbing, guru biasanya menyediakan pertanyaan atau masalah utama, sementara murid memiliki ruang lebih besar untuk menentukan cara menemukan jawabannya.

Misalnya:

“Bagaimana intensitas cahaya memengaruhi pertumbuhan kecambah?”

Kelompok dapat menentukan apa yang akan dibandingkan, bagaimana mencatat pertumbuhan, serta bagaimana menyajikan data dengan bimbingan guru.

Inkuiri terbimbing sering menjadi pilihan yang realistis karena murid memperoleh kebebasan menyelidiki tanpa kehilangan arah.

3. Inkuiri Terbuka

Pada inkuiri terbuka, murid memiliki kemandirian lebih tinggi.

Mereka dapat:

  • menentukan pertanyaan;

  • merancang penyelidikan;

  • memilih cara mengumpulkan data;

  • menganalisis hasil;

  • hingga mempertanggungjawabkan kesimpulan.

Jenis ini menuntut kesiapan yang lebih tinggi. Memberikan inkuiri terbuka kepada murid yang belum menguasai keterampilan dasar penelitian justru dapat membuat pembelajaran membingungkan.

Karena itu, tingkat kebebasan sebaiknya diberikan secara bertahap.

Contoh Inquiry Learning dalam Pembelajaran

Inquiry Learning tidak hanya dapat digunakan dalam IPA. Prinsip penyelidikan juga dapat diterapkan dalam Matematika, Bahasa Indonesia, IPS, dan mata pelajaran lainnya.

Contoh Inquiry Learning IPA: Pengaruh Cahaya terhadap Tanaman

Guru menyediakan beberapa tanaman dengan kondisi pertumbuhan berbeda.

Murid diminta mencari jawaban atas pertanyaan:

“Mengapa bentuk dan warna tanaman berbeda meskipun jenisnya sama?”

Mereka kemudian:

  1. mengamati tanaman;

  2. mengidentifikasi perbedaan;

  3. membuat dugaan;

  4. menentukan variabel yang mungkin berpengaruh;

  5. melakukan percobaan sederhana;

  6. mencatat pertumbuhan;

  7. membandingkan data;

  8. menarik kesimpulan.

Ciri inkuirinya terdapat pada proses menemukan hubungan antara kondisi lingkungan dan hasil pertumbuhan berdasarkan pengamatan.

Contoh Inquiry Learning Matematika: Menemukan Rumus

Guru dapat memberikan beberapa persegi dengan ukuran sisi berbeda.

Murid menghitung panjang sisi dan luas masing-masing, lalu mengamati pola.

Dari beberapa contoh, mereka diarahkan menemukan hubungan bahwa luas persegi diperoleh dari perkalian sisi dengan sisi.

Kegiatan semacam ini berbeda dengan guru langsung memberikan rumus kemudian meminta murid menghafalnya.

Namun, setelah murid menemukan pola, guru tetap perlu memberikan penguatan agar konsep yang terbentuk tepat.

Contoh Inquiry Learning Bahasa Indonesia: Menemukan Ciri Teks Persuasi

Guru memberikan tiga teks pendek tanpa langsung menjelaskan ciri-ciri teks persuasi.

Murid diminta membandingkan:

  • tujuan teks;

  • pilihan kata;

  • penggunaan alasan;

  • keberadaan ajakan;

  • dan cara penulis memengaruhi pembaca.

Dari perbandingan tersebut, murid menyusun dugaan tentang karakteristik teks persuasi.

Guru kemudian membantu memeriksa dan memperbaiki kesimpulan mereka.

Cara ini menunjukkan bahwa inkuiri tidak selalu membutuhkan laboratorium atau eksperimen.

Contoh Inquiry Learning IPS: Mengapa Harga Barang Berubah?

Guru memberikan data harga cabai selama beberapa minggu disertai informasi tentang kondisi pasokan.

Murid diminta menjawab:

“Mengapa harga mengalami perubahan?”

Mereka mengidentifikasi pola harga, membandingkannya dengan data pasokan, mencari kemungkinan hubungan, lalu menjelaskan penyebab berdasarkan konsep permintaan dan penawaran.

Kegiatan tersebut dapat membantu murid melihat bagaimana konsep ekonomi digunakan untuk membaca fenomena.

Baca Juga: Cara Membuat Animasi Edukasi dengan AI Tanpa Perlu Keahlian Desain

Kelebihan dan Kekurangan Inquiry Learning

Inquiry Learning memiliki banyak kelebihan, tetapi penerapannya juga mempunyai keterbatasan yang perlu diperhatikan.

Kelebihan Inquiry Learning

Membuat murid aktif secara intelektual. Aktivitas bukan hanya bergerak atau berdiskusi, tetapi juga mempertanyakan, membandingkan, dan menarik hubungan.

Melatih kemampuan berpikir kritis. Murid perlu membedakan dugaan, fakta, bukti, dan kesimpulan.

Meningkatkan rasa ingin tahu. Fenomena yang belum memiliki jawaban langsung dapat mendorong keinginan untuk mencari tahu.

Membantu penguasaan keterampilan proses. Murid belajar mengamati, mengumpulkan data, menganalisis, menyimpulkan, dan mengomunikasikan hasil.

Mendorong pemahaman konsep. Murid memperoleh kesempatan melihat hubungan yang mendasari suatu konsep, bukan hanya menghafal definisi.

Memberikan ruang bagi diskusi. Hasil penyelidikan dapat dibandingkan sehingga murid mengetahui bahwa kesimpulan memerlukan dasar yang dapat diperiksa.

Kekurangan Inquiry Learning

Memerlukan waktu. Proses membuat pertanyaan, menyelidiki, dan membahas hasil dapat memakan waktu lebih lama daripada penjelasan langsung.

Murid dapat kehilangan arah. Hal ini biasanya terjadi apabila pertanyaan terlalu terbuka atau bantuan yang diberikan terlalu sedikit.

Membutuhkan pengetahuan awal. Sulit meminta murid menyelidiki sesuatu apabila mereka sama sekali belum memiliki konsep dasar yang diperlukan.

Pengelolaan kelas lebih menantang. Beberapa kelompok dapat menghasilkan cara penyelidikan dan kemajuan yang berbeda.

Kesimpulan murid dapat keliru. Proses menemukan sendiri tidak menjamin bahwa pemahaman yang terbentuk selalu benar.

Karena itu, guru tetap memiliki peran penting untuk melakukan penguatan dan koreksi. Membiarkan miskonsepsi dengan alasan “murid harus menemukan sendiri” justru bertentangan dengan tujuan pembelajaran.

Perbedaan Inquiry Learning, Discovery Learning, dan Problem Based Learning

Inquiry Learning sering disamakan dengan Discovery Learning dan Problem Based Learning karena ketiganya menempatkan murid dalam posisi aktif.

Perbedaannya dapat dilihat dari pusat kegiatan.

Inquiry Learning menekankan proses bertanya dan menyelidiki untuk memperoleh penjelasan berdasarkan bukti.

Discovery Learning lebih menekankan proses menemukan konsep atau prinsip melalui pengamatan, pengelompokan, pola, atau contoh yang telah dirancang dalam pembelajaran.

Problem Based Learning menggunakan permasalahan kontekstual sebagai titik awal untuk mengembangkan pengetahuan dan menyusun kemungkinan solusi.

Contohnya pada topik kualitas air.

Dalam Inquiry Learning, murid dapat menyelidiki pertanyaan, “Apakah perbedaan lokasi memengaruhi kondisi air?”

Dalam Discovery Learning, murid dapat memperoleh beberapa data karakteristik air kemudian menemukan pola untuk memahami konsep tertentu.

Dalam Problem Based Learning, murid dapat diberi kasus pencemaran sungai dan diminta menentukan kemungkinan penyebab serta langkah penanganannya.

Ketiganya dapat saling beririsan. Karena itu, pemilihan model lebih baik didasarkan pada tujuan belajar daripada sekadar memilih istilah yang dianggap paling modern.

Cara Menilai Pembelajaran Inquiry Learning

Penilaian dalam Inquiry Learning sebaiknya tidak hanya berfokus pada kesimpulan akhir.

Murid yang memperoleh jawaban benar melalui tebakan belum tentu menunjukkan kemampuan inkuiri yang baik. Sebaliknya, murid yang menemukan hasil berbeda tetapi mampu mengidentifikasi kesalahan percobaan dapat menunjukkan proses berpikir yang berharga.

Aspek yang dapat dinilai antara lain:

  • Kualitas pertanyaan. Apakah pertanyaan dapat diselidiki dan berhubungan dengan tujuan belajar?

  • Penyusunan dugaan. Apakah dugaan memiliki alasan yang dapat diperiksa?

  • Proses pengumpulan data. Apakah informasi diperoleh melalui cara yang sesuai?

  • Analisis. Apakah murid mampu menemukan hubungan atau pola dari data?

  • Penggunaan bukti. Apakah kesimpulan benar-benar didukung hasil penyelidikan?

  • Pemahaman konsep. Apakah penjelasan sesuai materi yang sedang dipelajari?

  • Komunikasi. Apakah murid mampu menjelaskan proses dan hasil secara runtut?

  • Refleksi. Apakah murid mampu mengenali keterbatasan atau kesalahan proses?

Guru dapat menggunakan lembar observasi, laporan singkat, presentasi, pertanyaan lisan, jurnal refleksi, maupun rubrik.

Jika kegiatan dilakukan berkelompok, penilaian individu tetap diperlukan untuk memastikan setiap murid memahami hasil penyelidikan.

Kesalahan Umum dalam Menerapkan Inquiry Learning

Pelaksanaan inkuiri dapat kehilangan tujuan apabila perhatian hanya tertuju pada aktivitas.

Guru memberikan pertanyaan sekaligus jawabannya

Misalnya guru bertanya:

“Tanaman membutuhkan cahaya untuk fotosintesis, bukan?”

Pertanyaan tersebut mengarahkan murid langsung pada jawaban yang diinginkan.

Lebih baik bertanya:

“Apa yang berbeda dari kedua tanaman ini dan faktor apa yang mungkin menyebabkannya?”

Percobaan dilakukan seperti mengikuti resep

Murid dapat menyelesaikan seluruh langkah laboratorium tetapi tidak memahami apa yang sedang dicari.

Sebelum kegiatan, pastikan mereka mengetahui pertanyaan yang ingin dijawab.

Semua penemuan dianggap benar

Inquiry Learning bukan berarti setiap kesimpulan murid harus diterima.

Guru perlu membantu menguji kesimpulan berdasarkan bukti dan konsep yang berlaku.

Masalah terlalu sulit

Memberikan kebebasan penuh kepada murid yang belum terbiasa melakukan penyelidikan dapat menghasilkan kebingungan.

Solusinya adalah menggunakan inkuiri terstruktur atau terbimbing terlebih dahulu.

Fokus hanya pada hasil yang “sesuai teori”

Data yang tidak sesuai dugaan bukan selalu kegagalan.

Murid justru dapat diminta memeriksa kemungkinan kesalahan pengukuran, variabel yang tidak terkendali, atau penjelasan lain.

Tidak ada refleksi

Jika kegiatan selesai setelah kesimpulan ditulis, murid kehilangan kesempatan untuk memikirkan kualitas prosesnya.

Refleksi dapat dibuat sederhana dengan tiga pertanyaan: Apa yang ditemukan? Bukti apa yang mendukungnya? Apa yang akan diperbaiki jika penyelidikan dilakukan kembali?

Baca Juga: Aplikasi AI Terbaik untuk Guru 2026: Membuat Materi, Soal, dan Media Pembelajaran

Tips Menerapkan Inquiry Learning secara Efektif

Guru tidak perlu langsung menggunakan inkuiri terbuka. Pembelajaran dapat dimulai secara bertahap sesuai kesiapan murid.

Mulai dengan fenomena yang dekat. Es mencair, tanaman tumbuh, perubahan harga, kebiasaan membaca, atau penggunaan listrik dapat lebih mudah memancing pertanyaan dibandingkan kasus yang terlalu abstrak.

Tentukan tujuan sebelum merancang penyelidikan. Aktivitas eksperimen yang menarik tidak banyak membantu apabila tidak berhubungan dengan kemampuan yang sedang dipelajari.

Berikan bantuan secukupnya. Guru dapat menyediakan data, prosedur awal, pertanyaan pemantik, atau contoh apabila murid mengalami kesulitan.

Gunakan pertanyaan untuk membimbing. Daripada langsung mengatakan jawaban salah, guru dapat bertanya, “Bukti mana yang mendukung kesimpulan tersebut?”

Ajarkan cara memeriksa informasi. Jika penyelidikan menggunakan internet atau alat berbasis AI, murid perlu membandingkan hasilnya dengan buku, data pengamatan, sumber resmi, atau sumber akademik yang relevan.

Batasi ruang lingkup penyelidikan. Pertanyaan yang terlalu luas biasanya memerlukan waktu besar dan menghasilkan jawaban dangkal.

Sediakan waktu untuk penguatan konsep. Setelah murid melakukan penyelidikan, guru perlu membantu menyusun temuan menjadi konsep yang benar.

Pendekatan tersebut sejalan dengan arah Standar Proses pendidikan Indonesia yang berlaku sejak 5 Januari 2026. Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 mengatur perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran serta menggantikan Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022.

Guru yang perlu memeriksa perubahan atau dokumen hukum pendidikan terbaru dapat menggunakan JDIH Kemendikdasmen sebagai portal resmi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa yang dimaksud dengan Inquiry Learning?

Inquiry Learning adalah model pembelajaran yang mendorong murid membangun pemahaman melalui pertanyaan dan penyelidikan. Murid mengumpulkan informasi atau data, menganalisis bukti, kemudian menyusun kesimpulan dengan bimbingan guru sesuai kebutuhan.

Apa saja tahapan Inquiry Learning?

Tahapannya umumnya mencakup orientasi terhadap fenomena, merumuskan pertanyaan, membuat dugaan atau hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis hasil, menarik kesimpulan, kemudian mengomunikasikan dan merefleksikan hasil penyelidikan. Rinciannya dapat disesuaikan dengan tujuan dan jenjang pendidikan.

Apa perbedaan Inquiry Learning dan Discovery Learning?

Inquiry Learning lebih menonjolkan proses bertanya serta penyelidikan untuk memperoleh jawaban berdasarkan bukti. Discovery Learning lebih menekankan proses menemukan konsep atau prinsip dari contoh, data, maupun situasi yang disusun dalam pembelajaran.

Apakah Inquiry Learning hanya cocok untuk pelajaran IPA?

Tidak. Inquiry Learning dapat diterapkan dalam Matematika, Bahasa Indonesia, IPS, dan mata pelajaran lain selama terdapat pertanyaan atau fenomena yang memungkinkan murid melakukan penyelidikan. Bentuk penyelidikannya tidak harus berupa eksperimen laboratorium.

Apa kelemahan utama Inquiry Learning?

Penerapannya dapat membutuhkan waktu lebih panjang dan murid berisiko kehilangan arah jika bantuan terlalu sedikit. Guru dapat mengatasinya dengan mempersempit pertanyaan, menyediakan panduan bertahap, serta memilih jenis inkuiri sesuai kesiapan murid.

Penutup

Inquiry Learning menempatkan rasa ingin tahu sebagai awal pembelajaran dan bukti sebagai dasar untuk membangun kesimpulan. Murid tidak hanya diminta mengetahui jawaban, tetapi memahami bagaimana jawaban tersebut diperoleh melalui pertanyaan, dugaan, pengumpulan data, analisis, dan refleksi.

Penerapannya tidak harus selalu berupa eksperimen besar. Guru dapat menggunakan fenomena sederhana, teks, grafik, data, benda di sekitar sekolah, atau kasus yang dekat dengan kehidupan murid. Kunci utamanya adalah menyesuaikan tingkat kebebasan dengan kesiapan murid dan tetap memberikan penguatan agar tidak muncul miskonsepsi. Untuk penerapan yang berkaitan dengan kebijakan dan standar proses pendidikan, guru dapat memeriksa ketentuan terbaru melalui portal resmi Kemendikdasmen sebelum menyusun perangkat pembelajaran.

Artikel terkait