Deep Learning dalam Pendidikan: Pengertian, Prinsip, Penerapan, Manfaat, dan Contohnya

Deep Learning dalam Pendidikan: Pengertian, Prinsip, Penerapan, Manfaat, dan Contohnya
Foto: Ilustrasi Deep Learning dalam Pendidikan: Pengertian, Prinsip, Penerapan, Manfaat, dan Contohnya.

Deep learning dalam pendidikan menjadi pendekatan yang semakin banyak diterapkan untuk membantu murid memahami pelajaran, bukan sekadar menghafal materi. Istilah ini diterjemahkan sebagai pembelajaran mendalam, yaitu proses belajar yang mendorong murid menyadari tujuan belajar, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, menerapkannya, lalu merefleksikan hasilnya.

Dalam konteks pendidikan Indonesia, deep learning tidak merujuk pada teknologi kecerdasan buatan yang menggunakan jaringan saraf komputer. Istilah tersebut digunakan untuk menjelaskan pendekatan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Penerapannya dapat dilakukan pada berbagai jenjang dan mata pelajaran. Guru dapat menggunakannya ketika mengajarkan konsep matematika, bahasa, sains, sejarah, keterampilan, maupun pendidikan karakter. Fokusnya bukan membuat kegiatan sebanyak mungkin, melainkan menciptakan pengalaman belajar yang membantu murid membangun pemahaman secara utuh.

Apa Itu Deep Learning dalam Pendidikan?

Deep learning dalam pendidikan adalah pendekatan yang mengarahkan murid untuk mempelajari suatu konsep sampai mampu menjelaskan, menggunakan, menghubungkan, dan mengevaluasinya.

Sistem Informasi Kurikulum Nasional Kemendikdasmen mendefinisikan Pembelajaran Mendalam sebagai pendekatan yang memuliakan dengan menciptakan suasana belajar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik serta terpadu.

Dengan pendekatan ini, keberhasilan belajar tidak hanya diukur berdasarkan banyaknya informasi yang diingat. Murid juga perlu memahami alasan suatu konsep dipelajari, mengetahui cara menggunakannya, dan mampu menilai kembali proses belajarnya.

Contohnya, murid tidak cukup menghafal rumus luas bangun datar. Mereka perlu memahami asal rumus, menggunakannya untuk menghitung kebutuhan keramik sebuah ruangan, kemudian memeriksa apakah jawabannya masuk akal.

Proses tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tidak berhenti sebagai teori. Pengetahuan berubah menjadi kemampuan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan.

Perbedaannya dengan Deep Learning dalam Kecerdasan Buatan

Istilah deep learning juga digunakan dalam bidang teknologi. Namun, pengertiannya berbeda dengan pembelajaran mendalam di sekolah.

Aspek Deep Learning dalam Pendidikan Deep Learning dalam Teknologi
Pengertian Pendekatan pembelajaran untuk membangun pemahaman yang mendalam Metode kecerdasan buatan yang menggunakan jaringan saraf berlapis
Pelaku utama Guru, murid, sekolah, dan mitra belajar Pengembang, peneliti, komputer, dan sistem AI
Tujuan Mengembangkan pengetahuan, keterampilan, karakter, dan kemampuan refleksi Mengenali pola dan menghasilkan prediksi dari data
Contoh Murid meneliti pencemaran sungai dan menyusun solusi Sistem mengenali wajah atau mengklasifikasikan gambar
Hasil Pemahaman dan kompetensi murid Model atau keluaran sistem komputer

Karena itu, pembahasan deep learning dalam pendidikan tidak selalu berkaitan dengan penggunaan aplikasi AI. Teknologi dapat digunakan sebagai alat bantu, tetapi bukan inti dari pendekatan tersebut.

Apakah Pembelajaran Mendalam Merupakan Kurikulum Baru?

Pembelajaran mendalam bukan kurikulum baru. Pendekatan ini digunakan untuk memperkuat proses belajar dalam kurikulum yang berlaku.

Ringkasan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 pada Sistem Informasi Kurikulum Nasional menyebutkan bahwa tidak ada pergantian kurikulum. Penyesuaian yang dilakukan mencakup penerapan pendekatan pembelajaran mendalam, penambahan mata pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial, serta penyesuaian kegiatan kokurikuler.

Arah tersebut kemudian diperkuat melalui Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses pada PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Peraturan yang berlaku sejak 5 Januari 2026 itu mengatur perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran serta menggantikan Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022.

Guru tetap mengacu pada tujuan dan capaian pembelajaran yang berlaku. Perbedaannya terletak pada cara kegiatan belajar dirancang agar murid lebih aktif memahami, menerapkan, dan merefleksikan pengetahuan.

Baca Juga: 15 AI Terbaik untuk Belajar di 2026: Pilihan Gratis dan Berbayar bagi Pelajar dan Mahasiswa

Tiga Prinsip Utama Pembelajaran Mendalam

Pembelajaran mendalam memiliki tiga prinsip yang saling berkaitan, yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Ketiganya perlu terlihat dalam proses belajar, bukan hanya dicantumkan dalam rencana pembelajaran.

1. Berkesadaran

Berkesadaran berarti murid memahami apa yang sedang dipelajari, tujuan yang akan dicapai, serta strategi yang dapat digunakan untuk mencapainya.

Sebelum memulai pelajaran, guru dapat menjelaskan tujuan menggunakan bahasa sederhana. Murid juga dapat diminta menuliskan hal yang sudah diketahui, bagian yang belum dipahami, dan cara belajar yang paling membantu.

Kesadaran tersebut membuat murid tidak sekadar mengikuti instruksi. Mereka belajar mengatur perhatian, memilih strategi, memantau perkembangan, dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya.

2. Bermakna

Pembelajaran menjadi bermakna ketika materi memiliki hubungan dengan pengalaman, pengetahuan sebelumnya, bidang ilmu lain, atau persoalan nyata.

Ketika mengajarkan persentase, misalnya, guru dapat menggunakan contoh potongan harga, bunga tabungan, hasil survei kelas, atau perubahan jumlah penduduk. Murid akan lebih mudah memahami konsep karena mengetahui kegunaannya.

Bermakna tidak berarti setiap pelajaran harus dibuat menjadi proyek besar. Contoh sederhana, pertanyaan kontekstual, eksperimen singkat, atau pembahasan kasus sudah dapat membantu murid melihat hubungan antara teori dan kenyataan.

3. Menggembirakan

Menggembirakan berarti menciptakan lingkungan belajar yang aman, positif, menantang, dan membuat murid merasa dihargai.

Prinsip ini sering disalahartikan sebagai kegiatan yang harus selalu berisi permainan. Padahal, murid tetap dapat menghadapi soal sulit, melakukan revisi, menerima umpan balik, dan berusaha menyelesaikan tugas yang menantang.

Pembelajaran terasa menggembirakan ketika murid tidak takut salah, berani mengemukakan pendapat, memperoleh dukungan, dan merasakan kepuasan setelah berhasil memahami sesuatu.

Pengalaman Belajar: Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi

Pembelajaran mendalam memberikan tiga pengalaman utama kepada murid, yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Ketiganya tidak selalu berlangsung secara kaku, tetapi perlu hadir dalam rangkaian kegiatan belajar.

Memahami

Pada tahap memahami, murid membangun pengetahuan melalui kegiatan mengamati, membaca, mendengarkan, bertanya, berdiskusi, mencoba, dan membandingkan informasi.

Guru tidak hanya memberikan definisi. Guru perlu membantu murid mengetahui hubungan antarkonsep, alasan suatu proses terjadi, dan bukti yang mendukung sebuah kesimpulan.

Pemahaman dapat diperiksa dengan meminta murid menjelaskan menggunakan kata-kata sendiri, membuat peta konsep, memberikan contoh baru, atau membandingkan dua gagasan.

Mengaplikasi

Mengaplikasi berarti menggunakan pengetahuan dalam konteks tertentu. Murid dapat menyelesaikan masalah, melakukan percobaan, membuat produk, menganalisis kasus, atau menerapkan konsep dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, setelah memahami struktur teks persuasif, murid dapat membuat poster kampanye pengurangan sampah. Tugas tersebut menunjukkan apakah murid benar-benar mampu menggunakan struktur dan unsur kebahasaan yang telah dipelajari.

Merefleksi

Merefleksi merupakan kegiatan menilai proses dan hasil belajar. Murid memikirkan hal yang berhasil, kesulitan yang muncul, kesalahan yang dilakukan, dan rencana perbaikan berikutnya.

Refleksi dapat dilakukan melalui jurnal singkat, diskusi, pertanyaan penutup, penilaian diri, atau umpan balik antarteman.

Pertanyaan refleksi tidak perlu rumit. Guru dapat menggunakan pertanyaan berikut:

  • Konsep apa yang paling kamu pahami hari ini?

  • Bagian mana yang masih membingungkan?

  • Strategi apa yang membantumu menyelesaikan tugas?

  • Kesalahan apa yang berhasil kamu perbaiki?

  • Di mana pengetahuan ini dapat digunakan?

Baca Juga: Cara Menulis Surat Lamaran Kerja yang Baik dan Benar: Struktur, Format, Tips, dan Contohnya

Kerangka Pembelajaran Mendalam

Penerapan pembelajaran mendalam didukung oleh empat unsur, yaitu praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi digital. Kerangka ini membantu guru merancang kegiatan yang sesuai dengan tujuan serta karakteristik murid.

Praktik Pedagogis

Praktik pedagogis berkaitan dengan strategi yang digunakan guru untuk membantu murid belajar. Guru dapat memilih pembelajaran berbasis masalah, inkuiri, proyek, diskusi, eksperimen, studi kasus, demonstrasi, atau pengajaran langsung.

Tidak ada satu metode yang harus digunakan dalam semua situasi. Pengajaran langsung tetap dapat dipakai ketika murid membutuhkan penjelasan dasar, selama dilanjutkan dengan kegiatan yang membantu mereka memproses dan menggunakan pengetahuan.

Kemitraan Pembelajaran

Belajar tidak hanya melibatkan guru dan murid. Orang tua, masyarakat, perguruan tinggi, pelaku usaha, komunitas, dan lembaga lain dapat menjadi mitra sesuai kebutuhan.

Pada pelajaran kewirausahaan, misalnya, sekolah dapat mengundang pelaku usaha untuk menjelaskan proses produksi dan pemasaran. Murid kemudian menganalisis tantangan usaha serta menyusun gagasan pengembangan produk.

Kemitraan harus memiliki tujuan yang jelas. Menghadirkan narasumber tanpa kegiatan lanjutan belum tentu menghasilkan pembelajaran yang mendalam.

Lingkungan Pembelajaran

Lingkungan pembelajaran mencakup kondisi fisik, sosial, emosional, dan budaya yang mendukung kegiatan belajar.

Kelas perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk bertanya, bekerja sama, mencoba, melakukan kesalahan, dan memperbaiki hasil. Guru juga perlu memastikan tidak ada murid yang direndahkan karena kemampuan, kondisi ekonomi, bahasa, latar belakang, atau kebutuhan belajarnya.

Pemanfaatan Teknologi Digital

Teknologi dapat membantu murid mengakses informasi, mengolah data, membuat karya, berkolaborasi, dan memperoleh umpan balik.

Namun, penggunaan teknologi harus didasarkan pada kebutuhan pembelajaran. Mengganti buku dengan layar tanpa mengubah proses berpikir murid belum dapat disebut sebagai pembelajaran mendalam.

Guru juga perlu membimbing murid memeriksa sumber, melindungi data pribadi, mencantumkan referensi, serta tidak menyerahkan seluruh proses berpikir kepada aplikasi AI.

Cara Menerapkan Deep Learning dalam Pembelajaran

Pembelajaran mendalam dapat dimulai dari perencanaan yang sederhana. Guru tidak harus mengubah seluruh materi menjadi proyek besar dalam satu waktu.

Berikut tahapan yang dapat digunakan:

  1. Tentukan tujuan pembelajaran yang jelas. Pilih kompetensi utama yang perlu dikuasai murid, bukan hanya jumlah materi yang harus selesai.

  2. Kenali pemahaman awal murid. Gunakan pertanyaan, kuis diagnostik, diskusi, atau contoh singkat untuk mengetahui pengetahuan dan miskonsepsi mereka.

  3. Pilih konteks yang relevan. Hubungkan konsep dengan persoalan, pengalaman, lingkungan, atau kebutuhan yang dekat dengan kehidupan murid.

  4. Susun kegiatan memahami. Berikan sumber dan aktivitas yang membantu murid menemukan hubungan, pola, alasan, dan konsep utama.

  5. Berikan kesempatan mengaplikasi. Minta murid menggunakan pengetahuan melalui soal, eksperimen, studi kasus, proyek, simulasi, atau pembuatan produk.

  6. Sediakan umpan balik. Umpan balik perlu menunjukkan bagian yang sudah baik, kesalahan yang harus diperbaiki, dan langkah perbaikan yang dapat dilakukan.

  7. Akhiri dengan refleksi. Murid perlu menilai hasil dan proses belajarnya, bukan hanya melihat nilai akhir.

  8. Gunakan hasil asesmen untuk perbaikan. Guru dapat menyesuaikan penjelasan, memberikan pengayaan, atau menyusun pendampingan berdasarkan kebutuhan murid.

Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 menempatkan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran sebagai cakupan utama standar proses. Penilaian tidak hanya digunakan untuk memberi nilai, tetapi juga memberikan umpan balik bagi perbaikan pembelajaran.

Contoh Penerapan Deep Learning dalam Pendidikan

Penerapan pembelajaran mendalam dapat disesuaikan dengan usia, mata pelajaran, fasilitas, dan kondisi sekolah.

Contoh pada Pelajaran IPA

Guru mengangkat persoalan pencemaran air di sekitar tempat tinggal murid. Murid mempelajari ciri air tercemar, penyebab, dampak terhadap makhluk hidup, serta cara menjaga kualitas air.

Setelah memahami konsep, murid mengamati sumber air, mencatat kondisi lingkungan, dan menyusun saran pencegahan pencemaran. Mereka kemudian merefleksikan kebiasaan sehari-hari yang dapat memengaruhi kualitas air.

Contoh pada Pelajaran Matematika

Murid mempelajari perbandingan melalui kegiatan menyusun resep minuman. Mereka menghitung perubahan jumlah bahan ketika jumlah porsi ditambah atau dikurangi.

Kegiatan tersebut tidak hanya menguji kemampuan menghitung. Murid perlu menjelaskan alasan perbandingan harus tetap sama dan memeriksa apakah hasil perhitungannya masuk akal.

Contoh pada Pelajaran Bahasa Indonesia

Murid membaca dua teks berita tentang peristiwa yang sama. Mereka membandingkan informasi, pilihan kata, sumber, judul, dan kelengkapan unsur berita.

Setelah itu, murid menulis berita berdasarkan hasil wawancara di lingkungan sekolah. Refleksi dilakukan dengan memeriksa apakah tulisan sudah membedakan fakta, pendapat, dan asumsi.

Contoh pada Pelajaran IPS

Guru membahas perubahan penggunaan lahan di sebuah daerah. Murid mempelajari data, peta, penyebab perubahan, dampak ekonomi, dan risiko lingkungan.

Mereka kemudian berdiskusi sebagai warga, pemerintah, petani, serta pengembang untuk menyusun keputusan yang mempertimbangkan kepentingan berbagai pihak.

Contoh pada Jenjang PAUD

Pembelajaran mendalam pada PAUD dapat dilakukan melalui kegiatan mengamati tanaman, bertanya, mencoba merawatnya, bekerja sama, dan menceritakan kembali perubahan yang terlihat.

Pada Juli 2026, Kemendikdasmen memublikasikan praktik pembelajaran mendalam di jenjang taman kanak-kanak yang mendorong anak aktif mengamati, bertanya, bereksplorasi, dan berkolaborasi.

Baca Juga: Cara Membuat CV ATS Friendly yang Menarik agar Mudah Dibaca Rekruter

Manfaat Deep Learning dalam Pendidikan

Penerapan pembelajaran mendalam dapat memberikan manfaat bagi murid maupun guru apabila dilakukan secara konsisten.

Pertama, memperkuat pemahaman konsep. Murid tidak hanya mengingat jawaban, tetapi memahami alasan dan hubungan di baliknya.

Kedua, melatih penalaran kritis. Murid terbiasa memeriksa informasi, membandingkan bukti, mengajukan pertanyaan, dan menyusun kesimpulan.

Ketiga, membantu transfer pengetahuan. Konsep yang dipahami dapat digunakan pada persoalan atau situasi yang berbeda.

Keempat, membangun kemandirian belajar. Tahap refleksi membantu murid mengenali strategi yang efektif dan mengetahui bagian yang perlu diperbaiki.

Kelima, meningkatkan kemampuan komunikasi dan kolaborasi. Diskusi, presentasi, dan tugas kelompok memberi kesempatan kepada murid untuk menyampaikan gagasan serta mendengarkan sudut pandang lain.

Keenam, mengembangkan karakter secara utuh. Pembelajaran melibatkan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga, bukan hanya kemampuan akademik.

Pendekatan ini diarahkan untuk mendukung delapan dimensi profil lulusan, yaitu keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.

Tantangan Penerapan dan Cara Mengatasinya

Pembelajaran mendalam tidak otomatis berhasil hanya dengan mengganti nama metode atau menambahkan proyek dalam modul ajar.

Salah satu tantangannya adalah keterbatasan waktu. Guru dapat mengatasinya dengan memilih konsep esensial dan mengurangi kegiatan yang hanya mengulang informasi tanpa menambah pemahaman.

Tantangan berikutnya adalah perbedaan kemampuan murid. Guru dapat menyediakan bahan dengan tingkat dukungan berbeda, memberikan contoh bertahap, serta mengatur kelompok belajar secara fleksibel.

Fasilitas yang terbatas juga sering dianggap sebagai penghambat. Padahal, pembelajaran mendalam tidak selalu membutuhkan perangkat digital. Lingkungan sekitar, barang bekas, berita, pengalaman keluarga, dan persoalan lokal dapat digunakan sebagai sumber belajar.

Kesulitan lain muncul ketika kegiatan terlihat menarik tetapi tidak terhubung dengan tujuan pembelajaran. Untuk mencegahnya, guru perlu memeriksa tiga hal: konsep apa yang dipelajari, kemampuan apa yang dilatih, dan bukti apa yang menunjukkan bahwa murid telah memahami materi.

Penilaian juga perlu disesuaikan. Tes tertulis tetap dapat digunakan, tetapi sebaiknya dilengkapi dengan pengamatan, produk, unjuk kerja, presentasi, jurnal, atau refleksi sesuai kompetensi yang dinilai.

Peran Guru, Murid, dan Orang Tua

Guru berperan sebagai perancang pengalaman belajar, fasilitator, pemberi umpan balik, dan pendamping refleksi. Guru tetap menjelaskan materi, tetapi tidak menjadi satu-satunya sumber pengetahuan.

Murid menjadi subjek aktif yang bertanya, mencoba, berdiskusi, membuat keputusan, memeriksa kesalahan, dan bertanggung jawab terhadap perkembangan belajarnya.

Orang tua dapat mendukung dengan memberikan kesempatan anak menjelaskan apa yang dipelajari, menghubungkan materi dengan kehidupan rumah, serta menghargai proses belajar dan perbaikan, bukan hanya nilai.

Sekolah juga perlu memberi ruang kepada guru untuk berdiskusi, merancang pembelajaran bersama, mengamati praktik rekan, dan mengevaluasi hasilnya.

Pada Juli 2026, Kemendikdasmen memperluas pelatihan mandiri Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial melalui Ruang GTK pada Aplikasi Rumah Pendidikan. Program tersebut menyediakan modul dan video yang dapat digunakan guru untuk memperkuat pemahaman serta penerapan di sekolah.

Baca Juga: Cara Menulis Resensi Buku : Struktur, Unsur, Langkah-Langkah, dan Contohnya

Pembelajaran mendalam tidak menuntut kegiatan yang selalu rumit. Perubahan dapat dimulai dengan memperjelas tujuan, mengurangi hafalan tanpa pemahaman, memberikan persoalan kontekstual, serta menyediakan waktu bagi murid untuk mengaplikasikan dan merefleksikan pengetahuan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah deep learning merupakan kurikulum baru?

Tidak. Deep learning atau pembelajaran mendalam merupakan pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan kurikulum, bukan kurikulum pengganti. Guru tetap mengacu pada tujuan dan capaian pembelajaran yang berlaku.

Apakah pembelajaran mendalam harus menggunakan teknologi?

Tidak harus. Teknologi merupakan salah satu alat yang dapat mendukung pencarian informasi, kolaborasi, pengolahan data, dan pembuatan karya. Pembelajaran mendalam tetap dapat dilakukan menggunakan diskusi, pengamatan lingkungan, eksperimen sederhana, buku, dan benda di sekitar.

Apakah semua materi harus dibuat menjadi proyek?

Tidak. Metode harus disesuaikan dengan tujuan, karakter materi, kemampuan murid, dan waktu yang tersedia. Penjelasan langsung, latihan, demonstrasi, diskusi, inkuiri, serta proyek dapat dipadukan sesuai kebutuhan.

Apa perbedaan pembelajaran menyenangkan dan menggembirakan?

Pembelajaran menggembirakan tidak hanya berarti permainan atau hiburan. Suasana belajar disebut menggembirakan ketika murid merasa aman, dihargai, tertantang, berani mencoba, dan mendapatkan kepuasan setelah memahami materi.

Bagaimana mengetahui pembelajaran sudah berlangsung secara mendalam?

Indikatornya terlihat ketika murid mampu menjelaskan konsep dengan kata-kata sendiri, memberikan contoh baru, menggunakannya untuk memecahkan masalah, memeriksa kesalahan, dan merefleksikan proses belajarnya.

Penutup

Deep learning dalam pendidikan mengarahkan proses belajar dari sekadar mengingat informasi menuju kemampuan memahami, mengaplikasi, dan merefleksikan pengetahuan. Pendekatan ini dijalankan melalui pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan dengan tetap memperhatikan perkembangan pengetahuan, keterampilan, karakter, serta kondisi setiap murid.

Penerapannya tidak harus dimulai melalui proyek besar atau perangkat yang mahal. Guru dapat memulainya dari tujuan yang jelas, pertanyaan yang mendorong pemikiran, contoh kontekstual, kesempatan mencoba, umpan balik, dan refleksi singkat.

Murid pun perlu terlibat sebagai pembelajar aktif, bukan hanya penerima materi. Dengan dukungan guru, sekolah, dan orang tua, pembelajaran mendalam dapat membantu pengetahuan bertahan lebih lama sekaligus lebih mudah digunakan untuk menghadapi persoalan nyata.

Artikel terkait