Teks Diskusi: Pengertian, Unsur, Struktur, Ciri, Kaidah Kebahasaan, dan Contoh

Teks Diskusi: Pengertian, Unsur, Struktur, Ciri, Kaidah Kebahasaan, dan Contoh
Foto: Ilustrasi Teks Diskusi: Pengertian, Unsur, Struktur, Ciri, Kaidah Kebahasaan, dan Contoh.

Memahami apa itu teks diskusi tidak cukup dengan menghafal bahwa teks ini memuat pendapat yang mendukung dan menolak suatu persoalan.

Pembaca juga perlu mengetahui cara membedakan pendapat dari fakta, menemukan alasan di balik setiap argumen, serta menilai apakah kesimpulan yang disampaikan benar-benar sesuai dengan pembahasan.

Keterampilan tersebut dibutuhkan ketika siswa membaca berita, mengikuti rapat kelas, membahas peraturan sekolah, atau menghadapi informasi yang memunculkan perbedaan pandangan. Seseorang yang memahami teks diskusi akan lebih terbiasa melihat masalah dari beberapa sisi sebelum mengambil keputusan.

Materi teks diskusi juga dipelajari dalam Bahasa Indonesia tingkat SMP/MTs. Dalam buku Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX Edisi Revisi 2025, pembahasan teks diskusi ditempatkan pada bab “Berbagi Argumentasi dalam Teks Diskusi” dengan perhatian pada isu, pandangan pro dan kontra, serta penyusunan kesimpulan.

Lalu, bagaimana bentuk teks diskusi yang benar dan apa yang membedakannya dari teks argumentasi biasa?

Apa Itu Teks Diskusi?

Teks diskusi adalah teks yang menyajikan suatu masalah dari beberapa sudut pandang, terutama pandangan yang mendukung dan menolak, sebelum memberikan simpulan atau penyelesaian.

Masalah yang dibahas biasanya memungkinkan munculnya perbedaan pendapat. Contohnya adalah penggunaan telepon seluler di sekolah, pemberian pekerjaan rumah, penerapan seragam, kegiatan ekstrakurikuler wajib, atau pembatasan media sosial bagi pelajar.

Kata “diskusi” dalam istilah ini tidak selalu berarti percakapan langsung antara beberapa orang. Teks diskusi dapat berbentuk tulisan yang memaparkan seolah-olah dua kelompok sedang menanggapi persoalan yang sama.

Sebuah teks belum dapat disebut sebagai teks diskusi apabila hanya menyampaikan satu pendapat. Harus ada pandangan lain yang digunakan sebagai pembanding sehingga pembaca memperoleh gambaran lebih seimbang.

Misalnya, pernyataan “Membawa ponsel ke sekolah membantu siswa mencari informasi” hanya menunjukkan satu pendapat. Teks diskusi perlu menjelaskan manfaat tersebut sekaligus kemungkinan masalahnya, seperti gangguan konsentrasi atau penyalahgunaan saat pelajaran.

Dengan demikian, inti teks diskusi bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan penyajian alasan dari setiap sisi secara teratur dan masuk akal.

Baca Juga: Teks Deskripsi: Pengertian, Ciri, Struktur, Jenis, dan Contohnya Lengkap

Tujuan dan Fungsi Teks Diskusi

Tujuan utama teks diskusi adalah membantu pembaca memahami suatu persoalan melalui lebih dari satu sudut pandang.

Pembaca tidak langsung diarahkan untuk menerima pendapat penulis. Mereka diberi kesempatan melihat keuntungan, kelemahan, akibat, serta alasan yang melatarbelakangi setiap pilihan.

Beberapa fungsi teks diskusi antara lain:

  • Menyajikan persoalan secara berimbang. Penulis menunjukkan bahwa sebuah keputusan dapat membawa manfaat sekaligus risiko.

  • Melatih kemampuan berpikir kritis. Pembaca perlu menilai kekuatan alasan, bukti, dan hubungan antara pernyataan dengan kesimpulan.

  • Membantu proses pengambilan keputusan. Pandangan pro dan kontra dapat menjadi bahan pertimbangan sebelum memilih suatu tindakan.

  • Mengembangkan sikap terbuka. Pembaca belajar bahwa orang lain dapat memiliki pendapat berbeda tanpa harus dianggap salah.

  • Melatih penyampaian argumen. Penulis dituntut memberikan alasan yang jelas, bukan sekadar menyatakan setuju atau tidak setuju.

Di lingkungan sekolah, fungsi tersebut dapat terlihat ketika siswa membahas rencana kunjungan belajar. Sebagian siswa mungkin mendukung karena kegiatan itu memberikan pengalaman baru, sedangkan siswa lain mempertimbangkan biaya dan waktu pelaksanaan.

Diskusi yang baik tidak berhenti pada pertentangan. Hasil akhirnya seharusnya membantu peserta menemukan keputusan, rekomendasi, atau jalan tengah.

Baca Juga: Teks Observasi: Pengertian, Ciri-Ciri, Struktur, Tujuan, dan Contohnya Lengkap

Ciri-Ciri Teks Diskusi

Teks diskusi dapat dikenali melalui isi, cara penyusunan, serta bahasa yang digunakan.

Buku Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas IX Edisi Revisi menjelaskan tiga ciri pokok, yaitu memiliki masalah atau topik, memuat argumen pro dan kontra, serta diakhiri simpulan atau resolusi.

Penjelasan lebih lengkapnya sebagai berikut.

  • Membahas masalah yang dapat diperdebatkan. Topiknya tidak memiliki satu jawaban mutlak dan memungkinkan munculnya beberapa pendapat.

  • Memuat setidaknya dua sudut pandang. Biasanya terdapat argumen yang mendukung dan argumen yang menolak.

  • Setiap pendapat disertai alasan. Pernyataan harus dijelaskan melalui contoh, akibat, fakta, atau pertimbangan yang masuk akal.

  • Penyajiannya relatif berimbang. Penulis tidak seharusnya membuat satu pihak tampak selalu benar sambil mengabaikan alasan pihak lain.

  • Memiliki alur pembahasan yang teratur. Masalah diperkenalkan terlebih dahulu, lalu diikuti argumen dan kesimpulan.

  • Menggunakan penanda hubungan antargagasan. Kata seperti namun, sebaliknya, karena, dan oleh sebab itu membantu menunjukkan hubungan antarpendapat.

  • Diakhiri dengan simpulan atau rekomendasi. Bagian akhir merangkum pembahasan dan dapat menawarkan keputusan atau jalan tengah.

Ciri paling mudah dikenali adalah keberadaan dua pandangan. Namun, sekadar mencantumkan kata “setuju” dan “tidak setuju” belum cukup apabila keduanya tidak dilengkapi alasan.

Baca Juga: Teks Argumentasi: Pengertian, Struktur, Ciri-Ciri, Tujuan, Jenis, dan Contohnya

Struktur Teks Diskusi dan Fungsinya

Struktur teks diskusi membantu penulis menyusun gagasan agar pembaca tidak kehilangan arah pembahasan.

Secara umum, struktur tersebut terdiri atas isu, argumen pendukung, argumen penentang, dan simpulan atau resolusi.

1. Isu atau Pengenalan Masalah

Bagian isu menjelaskan persoalan yang akan dibahas. Penulis dapat memberikan latar belakang singkat, penyebab munculnya perbedaan pendapat, dan pertanyaan utama yang perlu dijawab.

Contohnya:

Sebagian sekolah mulai membatasi penggunaan telepon seluler selama jam pelajaran. Kebijakan tersebut didukung karena dianggap dapat menjaga konsentrasi, tetapi juga dipersoalkan karena ponsel dapat digunakan sebagai alat belajar.

Bagian itu belum berisi keputusan. Fungsinya hanya memperkenalkan konteks dan menunjukkan bahwa terdapat dua kemungkinan pandangan.

2. Argumen Pendukung atau Pro

Bagian ini memuat pendapat yang menyetujui gagasan, aturan, atau tindakan yang sedang dibahas.

Argumen pendukung harus menjelaskan alasan suatu pilihan dianggap bermanfaat. Penulis juga dapat menyertakan contoh, akibat positif, hasil pengamatan, atau fakta yang relevan.

Contohnya, pihak yang mendukung penggunaan ponsel di sekolah dapat menjelaskan bahwa perangkat tersebut membantu pencarian istilah, penggunaan kamus digital, dan akses terhadap bahan belajar.

3. Argumen Penentang atau Kontra

Argumen kontra menyampaikan alasan yang menolak, meragukan, atau menunjukkan kelemahan gagasan tersebut.

Bagian kontra bukan dibuat untuk menyerang pendapat sebelumnya. Tujuannya adalah memperlihatkan risiko atau keadaan lain yang perlu dipertimbangkan.

Dalam persoalan ponsel, pihak yang menolak dapat menyoroti kemungkinan siswa membuka permainan, merekam orang lain tanpa izin, atau kehilangan perhatian saat guru menjelaskan.

4. Simpulan atau Resolusi

Bagian akhir merangkum pandangan yang telah dipaparkan. Penulis dapat memilih salah satu pendapat, memberikan rekomendasi, atau menawarkan jalan tengah.

Simpulan yang baik tidak menghadirkan gagasan baru secara tiba-tiba. Isinya harus berasal dari argumen yang telah dijelaskan.

Sebagai contoh, penggunaan ponsel tidak harus dilarang sepenuhnya, tetapi dapat dibatasi dan hanya diizinkan ketika guru memerlukannya untuk kegiatan pembelajaran.

Baca Juga: Teks Narasi: Pengertian, Ciri, Struktur, Jenis, dan Contohnya Lengkap

Kaidah Kebahasaan Teks Diskusi

Bahasa dalam teks diskusi digunakan untuk memperjelas hubungan antara masalah, alasan, pertentangan, dan kesimpulan.

Buku Bahasa Indonesia Kelas IX Edisi Revisi mencantumkan beberapa unsur kebahasaan, termasuk istilah teknis, konjungsi penerang, konjungsi penyebaban, kata perujukan, kata ganti orang, serta kata yang menyatakan saran atau rekomendasi.

Berikut penerapannya.

Menggunakan Konjungsi Pertentangan

Konjungsi pertentangan menghubungkan dua gagasan yang berbeda atau berlawanan.

Contohnya adalah tetapi, namun, sedangkan, sebaliknya, dan meskipun demikian.

Kalimat contoh:

Ponsel dapat digunakan untuk mencari bahan pelajaran, tetapi penggunaannya tanpa pengawasan bisa mengganggu konsentrasi.

Menggunakan Konjungsi Sebab dan Akibat

Kata penghubung ini menjelaskan alasan atau dampak suatu tindakan.

Contohnya adalah karena, sebab, akibatnya, sehingga, dan oleh sebab itu.

Kalimat contoh:

Sebagian siswa menolak larangan total karena mereka memerlukan ponsel untuk menghubungi keluarga setelah kegiatan sekolah.

Menggunakan Kata Rujukan

Kata rujukan menunjukkan sumber pendapat atau dasar suatu pernyataan.

Contohnya adalah menurut, berdasarkan, merujuk pada, dan dari hasil pengamatan.

Sumber yang disebutkan harus benar-benar tersedia. Penulis tidak boleh mencantumkan nama penelitian, lembaga, atau tokoh yang tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut.

Menggunakan Kata Modalitas

Kata modalitas menunjukkan kemungkinan, keharusan, kemampuan, atau saran.

Contohnya adalah dapat, mungkin, sebaiknya, perlu, harus, dan hendaknya.

Kalimat “Sekolah sebaiknya menyediakan tempat penyimpanan ponsel” memiliki tingkat tuntutan berbeda dari kalimat “Sekolah harus melarang semua siswa membawa ponsel.”

Menggunakan Kosakata Sesuai Topik

Setiap teks diskusi dapat memiliki istilah khusus. Teks tentang sampah menggunakan kata daur ulang, limbah, dan pencemaran, sedangkan pembahasan pendidikan dapat menggunakan istilah evaluasi, literasi, atau kegiatan pembelajaran.

Istilah tersebut perlu dijelaskan apabila diperkirakan belum dipahami oleh pembaca.

Perbedaan Teks Diskusi, Eksposisi, dan Debat

Teks diskusi sering disamakan dengan teks eksposisi atau debat karena ketiganya melibatkan pendapat dan alasan.

Perbedaannya dapat dilihat pada tujuan dan cara penyampaian berikut.

Aspek Teks Diskusi Teks Eksposisi Debat
Sudut pandang Menyajikan pro dan kontra Biasanya menguatkan satu pendapat Mempertemukan pihak yang berlawanan
Bentuk Umumnya berupa tulisan Umumnya berupa tulisan Biasanya berlangsung secara lisan
Tujuan Mempertimbangkan beberapa sisi masalah Meyakinkan pembaca terhadap gagasan tertentu Mempertahankan pendapat dan menanggapi lawan
Bagian akhir Simpulan, rekomendasi, atau jalan tengah Penegasan kembali pendapat Kesimpulan atau hasil penilaian debat
Peran penulis Menyajikan dan menilai beberapa pandangan Membela tesis tertentu Setiap peserta membela posisi masing-masing

Perbedaan utamanya terletak pada keseimbangan sudut pandang. Teks eksposisi dapat mengakui pandangan lain, tetapi pusat pembahasannya tetap menguatkan pendapat penulis.

Sementara itu, debat melibatkan tanggapan langsung antara peserta. Teks diskusi dapat ditulis oleh satu orang yang menyajikan seluruh pandangan tanpa menghadirkan perdebatan langsung.

Cara Mengidentifikasi Teks Diskusi

Saat mengerjakan soal, jangan hanya mencari kata pro dan kontra. Gunakan langkah berikut agar identifikasi lebih tepat.

  1. Temukan persoalan utama. Ringkas topik teks dalam satu kalimat atau satu pertanyaan.

  2. Tandai pendapat pertama. Periksa apakah bagian tersebut mendukung atau menolak persoalan.

  3. Cari alasan yang menyertai pendapat. Pisahkan alasan dari contoh dan pernyataan utama.

  4. Temukan pandangan pembanding. Perhatikan konjungsi seperti namun, sebaliknya, atau di sisi lain.

  5. Periksa bagian akhir. Tentukan apakah penulis memberikan simpulan, saran, atau penyelesaian.

  6. Nilai keseimbangan isi. Pastikan kedua sisi benar-benar dijelaskan, bukan hanya disebutkan sepintas.

Cara sederhana untuk mengingat strukturnya adalah menggunakan pola I–D–T–S, yaitu Isu, Dukungan, Tentangan, dan Simpulan.

Pola tersebut tidak harus ditulis sebagai nama bagian dalam teks. Fungsinya adalah membantu pembaca mengenali alur pembahasan.

Cara Menulis Teks Diskusi yang Baik

Menulis teks diskusi sebaiknya dimulai dari pengumpulan informasi, bukan langsung menyatakan pendapat pribadi.

1. Pilih Persoalan yang Memiliki Dua Sisi

Pilih topik yang memungkinkan munculnya perbedaan pendapat.

Topik “Matahari terbit dari timur” tidak cocok karena merupakan fakta. Sebaliknya, topik “Perlukah jam masuk sekolah dibuat lebih siang?” dapat dibahas dari sisi kesehatan, transportasi, kebiasaan belajar, dan kegiatan keluarga.

2. Tentukan Pertanyaan Utama

Ubah topik menjadi pertanyaan agar pembahasan tetap terarah.

Contohnya:

Apakah kegiatan ekstrakurikuler perlu diwajibkan bagi seluruh siswa?

Pertanyaan itu akan membantu penulis memilih argumen yang benar-benar berkaitan dengan masalah.

3. Kumpulkan Alasan dari Kedua Sisi

Tuliskan alasan pendukung dan penentang secara terpisah.

Jangan membuat argumen kontra yang sengaja dilemahkan agar pendapat pilihan penulis terlihat lebih unggul. Setiap sisi perlu diberi kesempatan yang adil untuk menjelaskan alasannya.

4. Susun Kerangka

Urutkan isi menjadi pengenalan isu, argumen pro, argumen kontra, dan simpulan.

Apabila terdapat beberapa alasan, tempatkan alasan yang paling mudah dipahami terlebih dahulu. Setelah itu, lanjutkan dengan alasan yang membutuhkan penjelasan lebih terperinci.

5. Periksa Hubungan Alasan dengan Pendapat

Setiap alasan harus menjawab pertanyaan “mengapa”.

Pernyataan “Saya tidak setuju karena kegiatan itu kurang bagus” terlalu umum. Perbaikannya dapat berbunyi, “Kegiatan tersebut tidak sebaiknya diwajibkan karena jadwal dan minat setiap siswa berbeda.”

6. Buat Simpulan Berdasarkan Pembahasan

Simpulan tidak harus memilih salah satu sisi secara mutlak. Dalam banyak persoalan, jalan tengah justru lebih masuk akal.

Penulis dapat menyarankan aturan bersyarat, pelaksanaan terbatas, masa percobaan, atau evaluasi berkala.

Contoh Teks Diskusi tentang Hari Tanpa Ponsel di Sekolah

Perlukah Sekolah Menerapkan Hari Tanpa Ponsel?

Ponsel telah menjadi bagian dari kehidupan pelajar. Perangkat tersebut digunakan untuk berkomunikasi, mencari informasi, memotret catatan, dan mengakses berbagai bahan pembelajaran. Namun, penggunaan ponsel selama berada di sekolah juga dapat mengalihkan perhatian siswa. Kondisi ini memunculkan usulan agar sekolah menetapkan satu hari tanpa ponsel setiap minggu.

Pihak yang mendukung menilai kegiatan tersebut dapat membantu siswa beristirahat dari layar. Tanpa ponsel, siswa lebih terdorong berbicara dengan teman secara langsung, membaca buku cetak, atau mengikuti kegiatan sekolah tanpa terus memeriksa notifikasi. Guru juga lebih mudah menjaga perhatian kelas karena tidak perlu berulang kali mengingatkan siswa untuk menyimpan perangkat.

Hari tanpa ponsel juga dapat digunakan untuk melatih kebiasaan mengatur penggunaan teknologi. Siswa tidak selalu harus menjawab pesan atau membuka media sosial saat itu juga. Dengan pembatasan terjadwal, mereka dapat belajar bahwa ponsel merupakan alat yang penggunaannya perlu disesuaikan dengan keadaan.

Sebaliknya, sebagian siswa dan orang tua mungkin tidak menyetujui kebijakan tersebut. Ponsel dibutuhkan untuk menghubungi keluarga, terutama bagi siswa yang pulang menggunakan transportasi umum atau mengikuti kegiatan tambahan. Perangkat itu juga dapat digunakan ketika guru meminta siswa mencari istilah, membaca bahan digital, atau mengerjakan kuis pembelajaran.

Larangan penuh juga belum tentu menyelesaikan masalah. Siswa dapat membawa ponsel secara diam-diam, sedangkan sekolah akan kesulitan memeriksa barang pribadi seluruh peserta didik. Kebijakan yang terlalu ketat berisiko menimbulkan pelanggaran baru tanpa mengajarkan cara menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Berdasarkan kedua pandangan tersebut, hari tanpa ponsel dapat diterapkan dengan beberapa pengecualian. Siswa tetap boleh membawa perangkat, tetapi menyimpannya selama pelajaran dan menggunakannya hanya dengan izin guru atau dalam keadaan mendesak. Aturan semacam ini menjaga manfaat ponsel tanpa mengabaikan kebutuhan siswa untuk belajar mengendalikan penggunaannya.

Analisis Struktur Contoh Teks Diskusi

Contoh di atas dapat dibagi menjadi empat bagian.

  • Isu: Paragraf pertama mengenalkan penggunaan ponsel dan usulan hari tanpa ponsel.

  • Argumen pro: Paragraf kedua dan ketiga menjelaskan manfaat bagi konsentrasi, interaksi langsung, dan pengendalian kebiasaan.

  • Argumen kontra: Paragraf keempat dan kelima membahas kebutuhan komunikasi, fungsi pembelajaran, dan kelemahan larangan penuh.

  • Simpulan: Paragraf terakhir menawarkan pembatasan dengan pengecualian, bukan larangan mutlak.

Contoh tersebut termasuk teks diskusi karena kedua pandangan mendapatkan alasan yang jelas. Simpulannya juga berasal dari persoalan yang telah dibahas, bukan berupa pendapat baru yang muncul pada bagian akhir.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Salah satu kesalahan paling umum adalah menulis pendapat tanpa alasan.

Kalimat “Saya setuju siswa membawa ponsel” baru menunjukkan posisi. Kalimat itu perlu dikembangkan menjadi “Saya setuju siswa membawa ponsel karena perangkat tersebut diperlukan untuk komunikasi setelah jam sekolah.”

Kesalahan lainnya meliputi:

  • Hanya menjelaskan satu sisi. Tulisan seperti ini lebih dekat dengan teks eksposisi.

  • Mengulang argumen dengan kata berbeda. Setiap paragraf seharusnya menambahkan alasan atau sudut pandang baru.

  • Menggunakan serangan pribadi. Teks harus menilai gagasan, bukan merendahkan orang yang memiliki pendapat berbeda.

  • Mencantumkan fakta tanpa sumber yang jelas. Data yang tidak dapat diperiksa justru melemahkan argumen.

  • Membuat simpulan yang tidak berhubungan. Rekomendasi harus didasarkan pada argumen yang telah disampaikan.

  • Menyamakan kontra dengan pernyataan negatif. Argumen kontra tetap memerlukan penjelasan yang masuk akal.

  • Menggunakan bahasa terlalu emosional. Kata-kata berlebihan dapat membuat tulisan terasa memihak dan kurang objektif.

Sebelum mengumpulkan tugas, periksa apakah setiap pendapat telah memiliki alasan dan setiap alasan masih berhubungan dengan isu utama.

Strategi Mudah Mempelajari Teks Diskusi

Cara terbaik memahami teks diskusi adalah berlatih memetakan isi bacaan.

Buat tiga kolom sederhana dengan judul pro, kontra, dan simpulan. Setelah membaca teks, masukkan setiap gagasan ke dalam kolom yang sesuai.

Kamu juga dapat menguji pemahaman dengan menjawab empat pertanyaan:

  1. Masalah apa yang sedang dibahas?

  2. Mengapa sebagian orang mendukungnya?

  3. Mengapa sebagian orang menolaknya?

  4. Keputusan atau penyelesaian apa yang diberikan?

Pemahaman dapat dianggap baik apabila kamu mampu menjelaskan kedua sisi dengan kata-kata sendiri tanpa mengubah maksud penulis.

Saat mengerjakan soal pilihan ganda, perhatikan kata penanda. Kata sebaliknya biasanya menunjukkan perpindahan sudut pandang, sedangkan oleh sebab itu sering mengantarkan pembaca menuju akibat atau kesimpulan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa yang dimaksud dengan teks diskusi?

Teks diskusi adalah tulisan yang membahas sebuah persoalan melalui beberapa sudut pandang, terutama argumen pendukung dan penentang. Pembahasannya kemudian diakhiri dengan simpulan, rekomendasi, atau penyelesaian.

Apa saja struktur teks diskusi?

Struktur teks diskusi terdiri atas pengenalan isu, argumen pro, argumen kontra, dan simpulan atau resolusi. Dalam beberapa buku pelajaran, argumen pro dan kontra dapat disebut sebagai satu bagian besar berupa rangkaian argumentasi.

Apakah teks diskusi harus selalu memiliki pendapat pro dan kontra?

Teks diskusi perlu menghadirkan lebih dari satu sudut pandang. Penyebutannya tidak harus menggunakan kata pro dan kontra, tetapi pembaca harus dapat menemukan pendapat yang mendukung serta pandangan yang mempertanyakan atau menolak.

Apa perbedaan teks diskusi dan teks argumentasi?

Teks diskusi menyajikan beberapa pandangan terhadap satu masalah secara berimbang. Teks argumentasi biasanya berpusat pada usaha penulis membuktikan atau mempertahankan satu pendapat tertentu.

Bagaimana cara membuat simpulan teks diskusi?

Ringkas alasan utama dari kedua sisi, kemudian tentukan keputusan atau rekomendasi yang paling sesuai dengan pembahasan. Jangan memasukkan alasan baru yang belum dijelaskan pada bagian sebelumnya.

Penutup

Teks diskusi merupakan tulisan yang membantu pembaca memahami persoalan melalui pandangan yang mendukung dan menolak. Unsur utamanya meliputi isu, rangkaian argumen, serta simpulan atau resolusi yang disusun berdasarkan pembahasan.

Memahami apa itu teks diskusi juga melatih kemampuan menilai alasan, membedakan pendapat dari fakta, dan menghargai perbedaan sudut pandang. Keterampilan ini dapat digunakan ketika mengerjakan soal Bahasa Indonesia maupun saat menghadapi persoalan sehari-hari.

Agar lebih cepat menguasainya, cobalah membaca satu masalah sederhana lalu pisahkan isinya menjadi argumen pro, argumen kontra, dan simpulan. Setelah terbiasa mengenali pola tersebut, kamu dapat mulai menulis teks diskusi sendiri dengan alasan yang jelas, bahasa yang tertib, serta keputusan yang tidak terburu-buru.

Artikel terkait