Perbedaan Skripsi, Tesis, Disertasi - Skripsi, tesis, dan disertasi sama-sama karya ilmiah yang jadi syarat kelulusan, tapi levelnya berbeda jauh. Skripsi dikerjakan mahasiswa S1, tesis untuk S2, dan disertasi untuk S3 — dan semakin tinggi jenjangnya, semakin dalam pula riset yang dituntut.
Banyak orang mengira ketiganya cuma beda nama sesuai jenjang, padahal perbedaannya jauh lebih dari itu — mulai dari jumlah rumusan masalah, kedalaman analisis, sampai syarat publikasi yang ternyata belakangan ini berubah cukup signifikan. Kalau Anda menyamaratakan ketiganya, bisa-bisa Anda kaget saat harus lanjut S2 dan mendapati beban risetnya jauh berbeda dari skripsi.
Artikel ini akan mengupas perbedaan skripsi, tesis, dan disertasi satu per satu, termasuk update kebijakan terbaru soal kewajiban publikasi jurnal yang jarang dibahas tuntas di tempat lain. Kalau Anda sedang berada di tahap menyusun skripsi, panduan cara membuat skripsi bisa jadi pegangan lengkap untuk proses Anda saat ini.
Definisi Singkat: Skripsi, Tesis, dan Disertasi Itu Apa
Sebelum masuk ke perbedaannya, ada baiknya kita samakan dulu pemahaman dasarnya. Skripsi adalah karya ilmiah yang disusun mahasiswa jenjang Sarjana (S1) sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana. Kalau Anda ingin penjelasan lebih lengkap soal ini, silakan cek dulu artikel apa itu skripsi sebagai dasar.
Tesis menempati posisi setingkat lebih tinggi — ditulis mahasiswa jenjang Magister (S2) dan dituntut menghasilkan analisis yang lebih mendalam dibanding skripsi. Sementara itu, disertasi adalah karya ilmiah paling kompleks, disusun mahasiswa jenjang Doktor (S3), yang harus mampu menemukan atau mengembangkan teori baru di bidang keilmuannya. Karena itu, urutan bobot ilmiahnya jelas: skripsi paling ringan, disertasi paling berat, dan tesis ada di tengah-tengahnya.
Perbedaan dari Segi Jenjang dan Gelar Akademik
Cara paling mudah membedakan ketiganya adalah lewat jenjang pendidikan dan gelar yang diperoleh. Skripsi mengantar mahasiswa menuju gelar Sarjana, tesis menuju gelar Magister, dan disertasi menuju gelar Doktor — masing-masing dengan tuntutan akademik yang meningkat drastis seiring jenjangnya.
Tabel Perbandingan Lengkap Skripsi, Tesis, dan Disertasi
Supaya lebih mudah dilihat sekilas, berikut rangkuman perbedaan utama dari berbagai aspek:
| Aspek | Skripsi (S1) | Tesis (S2) | Disertasi (S3) |
|---|---|---|---|
| Gelar yang diperoleh | Sarjana | Magister | Doktor |
| Bobot ilmiah | Rendah–sedang | Sedang–tinggi | Tertinggi |
| Jumlah rumusan masalah | Umumnya 1–2 | Minimal 3 | Bisa lebih dari 3 |
| Cara pemaparan | Deskriptif | Deskriptif dan analitik | Analitik mendalam |
| Tuntutan kebaruan | Tidak wajib teori baru | Pengembangan teori | Wajib teori/temuan baru |
| Peran mahasiswa vs pembimbing | Estimasi umum 50–60% mahasiswa | Estimasi umum 80% mahasiswa | Estimasi umum 90% mahasiswa |
Catatan: angka persentase peran mahasiswa vs pembimbing di atas adalah estimasi umum yang banyak beredar di kalangan akademik, bukan angka resmi dari regulasi tertulis manapun — jadi jangan dijadikan patokan mutlak.
Perbedaan Kedalaman Riset dan Jumlah Rumusan Masalah
Salah satu indikator paling gampang dikenali adalah jumlah rumusan masalah yang diangkat. Skripsi biasanya cukup dengan satu atau dua rumusan masalah saja, karena tujuannya memang melatih mahasiswa memahami proses penelitian dari awal sampai akhir, bukan menghasilkan temuan yang rumit.
Begitu naik ke tesis, tuntutannya berubah — mahasiswa diharapkan mengangkat minimal tiga rumusan masalah dengan analisis yang lebih tajam. Disertasi bahkan bisa melampaui itu, karena mahasiswa S3 dituntut menggali persoalan secara menyeluruh sampai menemukan sesuatu yang benar-benar baru bagi bidang ilmunya, bukan sekadar mengonfirmasi teori yang sudah ada.
Perbedaan Peran Mahasiswa dan Dosen Pembimbing
Semakin tinggi jenjangnya, semakin besar pula tanggung jawab mandiri yang dipikul mahasiswa. Pada skripsi, dosen pembimbing biasanya masih terlibat cukup intensif, karena mahasiswa baru pertama kali belajar meneliti secara utuh.
Berikut gambaran umum pola peran ini di tiap jenjang:
- Skripsi: mahasiswa berperan besar dalam eksekusi, tapi bimbingan masih intensif karena ini pengalaman pertama meneliti secara mandiri
- Tesis: peran mahasiswa meningkat signifikan, pembimbing lebih banyak mengarahkan daripada menuntun langkah demi langkah
- Disertasi: mahasiswa hampir sepenuhnya mandiri, promotor hanya mendampingi di titik-titik krusial
Pola ini masuk akal kalau dipikir lagi — semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar pula ekspektasi bahwa Anda sudah mampu berpikir dan meneliti sendiri tanpa dituntun terus-menerus.
Perbedaan Metode Penelitian dan Cara Pemaparan
Dari segi metode, skripsi umumnya memakai pendekatan kualitatif, kuantitatif, atau campuran yang relatif standar sesuai bidang studi. Tesis mulai menuntut pendekatan yang lebih kompleks, sering kali multidisiplin atau interdisiplin, karena masalah yang diangkat biasanya tidak bisa dijawab hanya dari satu sudut pandang keilmuan.
Disertasi melangkah lebih jauh lagi dengan pendekatan yang bisa bersifat transdisiplin — menggabungkan berbagai bidang ilmu sekaligus untuk menjawab persoalan yang kompleks. Cara pemaparannya pun berbeda: skripsi cenderung deskriptif (menjelaskan apa yang terjadi), tesis memadukan deskriptif dan analitik, sementara disertasi dituntut analitik secara mendalam, membedah persoalan sampai ke akar-akarnya.
Perbedaan Syarat Publikasi Jurnal: Ini yang Sudah Berubah
Ini bagian yang sering luput dari artikel-artikel lain, padahal cukup penting untuk diketahui. Dulu, lewat surat edaran Ditjen Dikti tahun 2012, mahasiswa S1 diwajibkan menghasilkan makalah di jurnal ilmiah, mahasiswa S2 wajib publikasi di jurnal nasional (idealnya terakreditasi), dan mahasiswa S3 wajib publikasi di jurnal internasional sebagai syarat kelulusan.
Namun, aturan ini berubah signifikan lewat Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. Salah satu alasan utamanya adalah mengurangi risiko mahasiswa dan dosen terjebak jurnal predator demi mengejar syarat kelulusan semata. Meski begitu, "tidak wajib secara nasional" bukan berarti otomatis bebas — banyak program studi, terutama untuk jenjang S2 dan S3, tetap mencantumkan publikasi jurnal sebagai syarat lewat SOP internal fakultas atau program pascasarjana masing-masing.
[DATA TERBARU — perlu dicek: kebijakan ini bisa terus berkembang, jadi selalu konfirmasi ke buku pedoman akademik program studi Anda untuk memastikan status terbaru syarat publikasi di kampus Anda.] Untuk detail lengkap regulasinya, Anda bisa merujuk pada dokumen resmi Permendikbudristek yang dipublikasikan Kemendikbudristek.
Apakah Skripsi Sekarang Masih Wajib?
Pertanyaan ini makin sering muncul sejak kebijakan Merdeka Belajar bergulir. Jawabannya: skripsi tidak lagi menjadi satu-satunya bentuk tugas akhir yang wajib secara nasional. Kampus kini diberi keleluasaan mengganti skripsi dengan bentuk lain, seperti proyek, prototipe produk, atau bentuk karya tugas akhir lain yang dianggap lebih relevan dengan profil lulusan program studi tertentu.
Meski begitu, ini bukan berarti skripsi otomatis hilang di semua kampus. Banyak program studi tetap mempertahankan skripsi sebagai bentuk tugas akhir karena dianggap paling sesuai untuk melatih kemampuan riset dasar mahasiswanya. Jadi, kalau Anda masih diwajibkan menyusun skripsi, itu murni kebijakan program studi Anda, bukan lagi aturan tunggal dari pemerintah pusat.
Disclaimer: kebijakan pendidikan tinggi terus berkembang dari waktu ke waktu. Selalu cek pedoman akademik terbaru dari kampus dan program studi Anda untuk memastikan aturan yang berlaku saat ini, karena artikel ini hanya merangkum kebijakan yang berlaku sampai saat ditulis.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa beda skripsi dan tesis?
Skripsi ditulis mahasiswa S1 dengan bobot ilmiah rendah-sedang dan biasanya 1-2 rumusan masalah, sementara tesis ditulis mahasiswa S2 dengan bobot lebih tinggi, minimal 3 rumusan masalah, dan analisis yang lebih mendalam.
Disertasi itu untuk jenjang apa?
Disertasi disusun oleh mahasiswa jenjang Doktor (S3) sebagai syarat memperoleh gelar doktor, dengan tuntutan menemukan atau mengembangkan teori baru di bidang keilmuannya.
Apakah skripsi sekarang wajib?
Tidak lagi wajib secara nasional sejak Permendikbudristek No. 53 Tahun 2023, karena kampus diberi kebebasan mengganti skripsi dengan bentuk tugas akhir lain. Namun, banyak program studi tetap mempertahankan skripsi lewat kebijakan internal masing-masing.
Apakah tesis dan disertasi wajib publikasi jurnal?
Secara nasional, kewajiban publikasi jurnal untuk syarat kelulusan sudah dicabut sejak 2023. Tapi dalam praktiknya, banyak program pascasarjana tetap mensyaratkan publikasi jurnal lewat SOP internal, terutama untuk jenjang S3.
Berapa lama waktu mengerjakan skripsi, tesis, dan disertasi?
Durasi bervariasi tergantung kompleksitas topik dan kebijakan kampus, tapi secara umum disertasi membutuhkan waktu paling lama karena tuntutan risetnya yang jauh lebih dalam dibanding skripsi maupun tesis.
Kesimpulan
Skripsi, tesis, dan disertasi memang sama-sama karya ilmiah wajib kelulusan, tapi bobot, kedalaman riset, dan tuntutannya meningkat drastis seiring jenjang pendidikan — dari S1 ke S2 sampai S3. Yang perlu diingat, sejak 2023 aturan soal kewajiban skripsi dan publikasi jurnal sudah tidak lagi seragam secara nasional, sehingga kebijakan program studi Anda saat ini adalah acuan paling akurat, bukan aturan lama yang mungkin sudah tidak berlaku lagi.