Cara Menulis Latar Belakang Masalah, Paragraf demi Paragraf

Cara Menulis Latar Belakang Masalah, Paragraf demi Paragraf
Foto: Ilustrasi Cara Menulis Latar Belakang Masalah, Paragraf demi Paragraf.

Latar belakang masalah adalah bagian pembuka Bab I proposal atau skripsi yang menjelaskan mengapa sebuah penelitian perlu dilakukan. Cara menulisnya: mulai dari gambaran umum yang relevan dengan topikmu, tunjukkan kesenjangan antara kondisi ideal dan kenyataan berdasarkan data, jelaskan celah yang belum dijawab penelitian terdahulu, lalu tutup dengan urgensi yang mengarah ke rumusan masalah.

Banyak mahasiswa kesulitan menulis bagian ini. Draf pertama sering hanya mengulang-ulang teori tanpa benar-benar menunjukkan masalah nyata di lapangan, sehingga dosen pembimbing mencoretnya dan meminta revisi berkali-kali. Bagian ini adalah salah satu fondasi dari cara membuat skripsi secara keseluruhan — kalau latar belakangnya lemah, seluruh bab berikutnya ikut goyah karena rumusan masalah dan tujuan penelitian bertumpu di sini.

Artikel ini membedah alurnya paragraf demi paragraf, lengkap dengan dua contoh berjalan dari bidang pendidikan (kuantitatif) dan bisnis (kualitatif), cara mencari dan menulis data yang bisa dipertanggungjawabkan, perbandingan versi lemah versus versi yang sudah diperbaiki, sampai kesalahan-kesalahan yang paling sering membuat latar belakang dikembalikan pembimbing.

Apa Itu Latar Belakang Masalah dan Apa Tugasnya di Proposal dan Skripsi

Latar belakang masalah adalah bagian yang membangun argumen mengapa topik penelitianmu penting dan layak diteliti, sebelum masuk ke rumusan masalah. Ia bukan ringkasan teori, dan bukan pula tempat untuk memaparkan seluruh isi bab tinjauan pustaka lebih awal. Tugasnya sempit tapi krusial: meyakinkan pembaca — biasanya penguji atau pembimbing — bahwa ada masalah nyata, masalah itu belum terjawab tuntas, dan penelitianmu adalah langkah yang masuk akal untuk menjawabnya.

Fungsi Latar Belakang: Menjawab "Kenapa Penelitian Ini Perlu Dilakukan?"

Pertanyaan yang ada di kepala penguji Bagian latar belakang yang menjawab
Topik ini penting untuk siapa dan kenapa sekarang? Paragraf gambaran umum di awal
Apa buktinya bahwa ini benar-benar masalah, bukan asumsi penulis? Paragraf data dan kondisi lapangan
Apakah orang lain sudah meneliti ini, dan apa yang belum mereka jawab? Paragraf penelitian terdahulu dan celahnya
Kenapa harus diteliti sekarang, dengan pendekatan ini? Paragraf urgensi dan jembatan ke rumusan masalah

Latar belakang adalah pembuka Bab I yang biasanya juga membuka keseluruhan alur cara membuat proposal skripsi — begitu bagian ini solid, menulis rumusan masalah dan tujuan penelitian menjadi jauh lebih mudah karena tinggal menegaskan ulang celah yang sudah dibangun di sini.

Bedanya dengan Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah

Ketiganya sering tertukar. Latar belakang menjelaskan konteks dan alasan — kenapa masalah ini penting dibahas. Identifikasi masalah memetakan daftar kemungkinan masalah yang muncul dari konteks tadi, biasanya dalam bentuk poin-poin, sebelum salah satunya dipersempit. Rumusan masalah mengubah satu masalah terpilih itu menjadi pertanyaan penelitian yang spesifik dan bisa dijawab lewat riset. Urutannya konteks → daftar masalah → satu pertanyaan tajam.

Berapa Panjangnya dan Di Mana Letak Research Gap-nya

Tidak ada patokan baku berapa halaman atau berapa kata untuk latar belakang — panjangnya bergantung pada kedalaman masalah yang dibahas dan kebiasaan program studi masing-masing, umumnya berkisar 2–4 halaman untuk skripsi S1. Letak research gap juga tidak seragam: sebagian kampus meminta research gap ditulis eksplisit di akhir latar belakang, sebagian lain meminta dibahas di bab tinjauan pustaka setelah kajian teori dipaparkan. Karena variasinya cukup besar, cek pedoman penulisan skripsi dari program studimu dan konfirmasi ke pembimbing sebelum menentukan format akhir.

Dua Jenis Kesenjangan yang Membangun Latar Belakang: Fenomena Gap dan Research Gap

Dua istilah ini sering membingungkan karena sama-sama disebut "gap", padahal sumbernya berbeda. Memahami keduanya membuat latar belakangmu punya dua lapis argumen yang saling menguatkan, bukan hanya satu.

Fenomena Gap: Jarak antara Harapan dan Kenyataan

Fenomena gap adalah jarak antara kondisi ideal yang diharapkan (das sollen) dengan kondisi nyata yang terjadi di lapangan (das sein). Sumbernya observasi, data lapangan, berita, atau laporan resmi — bukan literatur akademik.

Jenis gap Arti Contoh pendidikan Contoh bisnis
Fenomena gap Selisih antara harapan dan kenyataan di lapangan Hasil belajar matematika yang diharapkan meningkat, tapi nilai ulangan harian siswa di sekolah tetap rendah meski sudah memakai metode konvensional Sebuah usaha menargetkan penjualan naik lewat media sosial, tapi engagement dan konversi tetap stagnan meski sudah rutin memposting
Research gap Celah yang belum dijawab tuntas oleh penelitian sebelumnya Penelitian terdahulu banyak menguji media video untuk mata pelajaran IPA, tapi belum banyak yang menguji efeknya khusus pada pemahaman konsep pecahan di matematika Penelitian terdahulu banyak membahas strategi konten di Instagram untuk brand besar, tapi jarang mengangkat strategi pemasaran digital pada usaha mikro dengan modal dan tim yang sangat terbatas

Research Gap: Celah dari Penelitian Terdahulu

Research gap ditemukan dengan membaca beberapa penelitian sejenis, lalu mencatat apa yang belum mereka bahas: celah teoretis (konsep yang belum dijelaskan tuntas), celah empiris (belum diuji di konteks atau populasi tertentu), atau celah metodologis (metode yang belum dicoba). Cara paling praktis mencarinya adalah menelusuri artikel jurnal terkait topikmu lewat Google Scholar atau portal GARUDA milik Kemdiktisaintek, lalu membandingkan bagian "saran" atau "keterbatasan penelitian" dari beberapa artikel sekaligus — di situ biasanya penulis sudah menyebut apa yang belum sempat mereka teliti.

Kapan Memakai Salah Satu, Kapan Keduanya

Penelitian yang bersifat terapan atau memecahkan masalah praktis di lapangan biasanya bertumpu lebih berat pada fenomena gap. Penelitian yang menguji atau mengembangkan teori biasanya bertumpu pada research gap. Untuk skripsi S1, keduanya sering dipadukan: fenomena gap membuka argumen ("ini masalah nyata"), research gap menutupnya ("dan penelitian sebelumnya belum menjawabnya secara ini"). Kombinasi mana yang lebih ditekankan sebaiknya tetap didiskusikan dengan pembimbing, karena penekanannya bisa berbeda antar program studi.

Alur Menulis Latar Belakang Paragraf demi Paragraf

Ini bagian inti. Alur di bawah memecah latar belakang menjadi lima paragraf dengan fungsi berbeda, supaya kamu tidak menulis satu blok teks panjang yang mengalir tanpa arah.

Kerangka Lima Paragraf: dari Gambaran Umum sampai Arah Penelitian

Paragraf Fungsi Isi
1–2 Membuka konteks dan menunjukkan pentingnya topik Gambaran umum bidang, lalu menyempit ke isu spesifik yang relevan dengan judul
3 Menunjukkan fenomena gap dengan bukti Kondisi nyata di lokasi penelitian, didukung data atau observasi
4 Menunjukkan research gap Ringkasan singkat penelitian terdahulu dan apa yang belum mereka jawab
5 Menegaskan urgensi dan mengarahkan pembaca Kenapa penelitian ini perlu, lalu jembatan singkat ke rumusan masalah

Paragraf 1–2: Gambaran Umum dan Pentingnya Topik

Paragraf pembuka dimulai dari hal yang cukup umum agar pembaca dari luar bidangmu tetap paham, lalu perlahan menyempit ke topik spesifik. Hindari memulai dari definisi kamus ("Pendidikan adalah...") karena terasa generik dan tidak menunjukkan arah argumen.

Contoh pendidikan: Pembelajaran matematika di sekolah dasar sering dianggap sulit oleh siswa karena penyampaiannya masih didominasi metode ceramah dan latihan soal di papan tulis. Media pembelajaran berbasis video mulai banyak digunakan guru sebagai alternatif karena dianggap mampu memvisualisasikan konsep abstrak, khususnya pada materi pecahan yang selama ini menjadi salah satu materi dengan tingkat kesalahan siswa paling tinggi.

Contoh bisnis: Media sosial kini menjadi kanal pemasaran utama bagi pelaku usaha kecil karena biayanya rendah dan jangkauannya luas dibanding metode konvensional. Namun, kemudahan membuat akun bisnis tidak serta-merta menjamin strategi kontennya efektif, terutama bagi usaha mikro yang sering mengelola media sosial tanpa perencanaan konten yang terstruktur.

Paragraf 3: Data dan Kondisi di Lokasi Penelitian

Di sinilah fenomena gap ditunjukkan lewat bukti, bukan asumsi. Pola kalimatnya: sebutkan sumber data, tahun, angka atau temuan, lalu jelaskan maknanya untuk topikmu.

Contoh bisnis (dengan data resmi bertanggal): Transformasi digital pelaku usaha kecil di Indonesia sebenarnya sudah berjalan cukup pesat — Kementerian Koperasi dan UKM mencatat hingga Juli 2024 sekitar 25,5 juta UMKM telah bertransformasi dan masuk ke dalam ekosistem digital. Meski begitu, sekadar "masuk ke ekosistem digital" tidak sama dengan memiliki strategi pemasaran yang terarah; banyak usaha yang aktif di media sosial namun belum menyusun perencanaan konten, target audiens, atau evaluasi hasil secara sistematis — kondisi yang tampak pula pada [nama usaha/lokasi penelitianmu].

Untuk contoh pendidikan, polanya sama tapi datanya bersifat lokal per sekolah, bukan angka nasional tunggal (lihat penjelasan di bagian berikutnya):

Contoh pendidikan (pola isian): Berdasarkan hasil Asesmen Nasional yang tertuang dalam Rapor Pendidikan [nama sekolah] tahun [tahun ajaran], capaian numerasi siswa kelas [kelas] berada pada kategori [kategori capaian sesuai laporan sekolah], dengan materi bilangan dan pecahan menjadi salah satu area yang paling sering menyumbang kesalahan.

Paragraf 4: Penelitian Terdahulu dan Celahnya

Ringkas 2–3 penelitian relevan dalam satu sampai dua kalimat masing-masing, lalu tutup dengan kalimat yang eksplisit menyebut apa yang belum mereka jawab. Hindari menyalin abstrak penelitian orang lain kata demi kata; tulis ulang dengan kalimatmu sendiri dan cantumkan sitasi sesuai gaya kampus (APA, IEEE, atau lainnya).

Contoh pendidikan: Penelitian terdahulu banyak menguji efektivitas media video pada mata pelajaran IPA dan bahasa, sementara penerapannya khusus pada materi pecahan di sekolah dasar masih terbatas jumlahnya dan jarang mengukur dampaknya secara kuantitatif terhadap hasil belajar. Celah inilah yang akan diisi oleh penelitian ini.

Paragraf 5: Urgensi dan Jembatan ke Rumusan Masalah

Paragraf penutup menegaskan kenapa penelitian ini penting dilakukan sekarang, dengan pendekatan yang kamu pilih, lalu mengarahkan pembaca ke rumusan masalah tanpa mengulang seluruh isi paragraf sebelumnya.

Contoh bisnis: Berdasarkan uraian di atas, diperlukan kajian mendalam mengenai strategi pemasaran digital yang diterapkan pelaku usaha mikro, khususnya untuk memahami bagaimana keterbatasan sumber daya memengaruhi pilihan strategi konten dan hasil yang dicapai. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi strategi pemasaran digital pada [nama usaha].

Kalau macet di paragraf mana pun, penyebab paling umum adalah belum punya data atau observasi yang cukup spesifik. Solusinya: kembali dulu ke lapangan atau ke jurnal, jangan dipaksakan ditulis dari asumsi.

Cara Mencari dan Memakai Data agar Latar Belakang Tidak Sekadar Opini

Sumber Data yang Kredibel

Jenis data Contoh sumber Cocok untuk
Data pendidikan Rapor Pendidikan (Kemendikdasmen), hasil Asesmen Nasional per satuan pendidikan Skripsi bidang pendidikan, kondisi sekolah spesifik
Data ekonomi dan bisnis Statistik resmi BPS, data Kementerian Koperasi dan UKM Skripsi bidang manajemen, ekonomi, bisnis digital
Data hasil riset akademik Jurnal terindeks di Google Scholar, GARUDA, atau SINTA Semua bidang, untuk membangun research gap
Data internal lokasi penelitian Observasi awal, wawancara pra-riset, dokumen instansi/usaha Semua bidang, melengkapi data sekunder dengan konteks lokal

Satu hal penting soal Rapor Pendidikan: platform ini menyajikan hasil Asesmen Nasional per satuan pendidikan dan per wilayah, bukan satu angka nasional tunggal yang berlaku untuk semua sekolah. Karena itu, kalau topikmu tentang kondisi sekolah tertentu, ambil langsung angkanya dari Rapor Pendidikan untuk sekolah dan tahun yang relevan dengan penelitianmu, bukan dari angka nasional yang kamu temukan di artikel lain — karena kondisi tiap sekolah bisa jauh berbeda.

Untuk data ekonomi berskala nasional, kamu bisa memakai statistik resmi seperti data unit usaha UMKM per 31 Desember 2024 yang mencatat total 30.178.617 unit UMKM tersebar di 38 provinsi menurut data SIDT-UMKM — angka semacam ini cocok dipakai untuk membuka konteks makro sebelum menyempit ke lokasi penelitianmu.

Observasi Awal dan Wawancara Pra-Riset

Kalau data sekunder belum cukup spesifik untuk lokasi penelitianmu, lakukan observasi awal: kunjungi lokasi, ajukan beberapa pertanyaan singkat ke pihak terkait (guru, pemilik usaha, pengelola), dan catat temuannya sebagai data primer pendukung. Selalu minta izin resmi sebelum mengambil data dari instansi atau usaha, dan jaga kerahasiaan identitas narasumber sesuai etika penelitian yang berlaku di kampusmu.

Cara Menulis Data dan Sitasi dalam Kalimat

Rumus sederhana untuk menulis data dalam kalimat: (sumber, tahun) + angka + makna angka itu untuk argumenmu. Jangan berhenti di angka saja — selalu jelaskan kenapa angka itu relevan dengan masalah yang kamu angkat.

Contoh: Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, hingga Juli 2024 sekitar 25,5 juta UMKM telah masuk ke ekosistem digital, namun jumlah ini belum tentu mencerminkan kualitas strategi pemasaran yang diterapkan, karena "masuk ekosistem digital" umumnya diukur dari kepemilikan akun atau penggunaan QRIS, bukan dari keberadaan strategi konten yang terencana.

Jangan pernah mengarang angka atau membulatkan data dari ingatan tanpa mengecek ulang ke sumber aslinya — selain berisiko keliru, ini juga bisa dianggap pelanggaran integritas akademik oleh penguji.

Contoh Latar Belakang Sebelum dan Sesudah Diperbaiki

Contoh Pendidikan (Kuantitatif): Versi Lemah dan Versi Lebih Kuat

Versi lemah Masalahnya Versi diperbaiki
"Pendidikan sangat penting bagi kehidupan manusia. Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang wajib dipelajari siswa. Namun banyak siswa yang tidak suka matematika." Terlalu umum, tidak ada data, tidak menyebut lokasi atau masalah spesifik "Materi pecahan tercatat sebagai salah satu area dengan capaian numerasi terendah pada Rapor Pendidikan [sekolah] tahun [tahun ajaran], sementara metode pembelajaran yang digunakan masih didominasi ceramah tanpa media visual."
"Banyak penelitian menunjukkan media video efektif untuk pembelajaran." Klaim tanpa rujukan yang bisa ditelusuri, tidak menyebut penelitian mana "Penelitian [nama peneliti, tahun] pada mata pelajaran IPA menemukan bahwa media video meningkatkan pemahaman konsep siswa, namun penerapannya pada materi pecahan matematika di sekolah dasar masih jarang dikaji."

Contoh Bisnis (Kualitatif): Versi Lemah dan Versi Lebih Kuat

Versi lemah Masalahnya Versi diperbaiki
"Di era digital ini, pemasaran online sangat penting bagi UMKM agar bisa bersaing." Kalimat pembuka klise, tidak menyempit ke masalah spesifik usaha yang diteliti "Meski hingga Juli 2024 sekitar 25,5 juta UMKM tercatat telah masuk ke ekosistem digital, sebagian besar di antaranya — termasuk [nama usaha] — masih mengelola media sosial tanpa perencanaan konten yang terstruktur."
"[Nama usaha] ingin meningkatkan penjualan melalui media sosial." Tidak menunjukkan masalah, hanya menyebut keinginan "[Nama usaha] telah aktif memposting konten di Instagram sejak [tahun], namun belum mengalami peningkatan penjualan yang signifikan, yang mengindikasikan strategi konten yang diterapkan belum optimal."

Perbedaan Penekanan untuk Kuantitatif, Kualitatif, dan Pengembangan

  • Kuantitatif: penekanan pada data numerik dan variabel yang akan diukur; latar belakang perlu menunjukkan kesenjangan dalam bentuk angka sejak awal.
  • Kualitatif: penekanan pada konteks dan fenomena yang kompleks; data pendukung bisa berupa observasi, wawancara awal, atau laporan naratif, bukan semata angka.
  • Penelitian dan pengembangan (R&D): penekanan pada kebutuhan akan produk, model, atau alat baru; latar belakang perlu menunjukkan bahwa solusi yang sudah ada belum memadai untuk masalah spesifik yang diangkat.

Kesalahan Umum dan Cara Memeriksa Latar Belakangmu

Kesalahan yang Paling Sering Muncul

Kesalahan Kenapa bermasalah Perbaikan
Hanya mengulang teori dari buku tanpa menunjukkan masalah nyata Tidak menjawab "kenapa penelitian ini perlu" Tambahkan data atau observasi lapangan sebagai bukti masalah
Tidak fokus, membahas banyak topik sekaligus Pembaca kehilangan arah argumen sebelum sampai ke rumusan masalah Pastikan setiap paragraf menyempit ke satu topik yang sama
Opini pribadi tanpa data pendukung Tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademik Ganti klaim opini dengan data atau rujukan yang bisa ditelusuri
Memakai data usang tanpa tahun atau sumber jelas Berisiko dianggap tidak kredibel oleh penguji Selalu cantumkan sumber dan tahun data yang dipakai

Checklist Sebelum Mengirim ke Pembimbing

  • Setiap klaim penting sudah didukung data atau rujukan yang bisa ditelusuri
  • Fenomena gap dan research gap sama-sama tersampaikan, tidak hanya salah satu
  • Alurnya mengalir dari umum ke spesifik, bukan meloncat-loncat topik
  • Paragraf terakhir mengarah jelas ke rumusan masalah, tidak menggantung
  • Data yang dipakai sudah dicek ulang ke sumber aslinya, bukan dari ingatan atau artikel sekunder
  • Tidak ada kalimat yang disalin mentah dari sumber lain tanpa parafrase dan sitasi

Memakai AI dan Parafrase dengan Bijak

AI dapat membantu merapikan struktur kalimat atau memberi ide alur argumen, tetapi data, angka, dan rujukan yang dihasilkan tetap wajib diverifikasi ke sumber aslinya sebelum dipakai — model AI bisa keliru menyebut angka atau sumber yang sebenarnya tidak ada. Sebelum menggunakan AI untuk membantu menulis bagian akademik, cek juga kebijakan program studi atau kampusmu soal batasan penggunaannya, karena aturannya berbeda-beda antar institusi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa panjang latar belakang masalah yang ideal?

Tidak ada patokan baku secara universal; umumnya berkisar 2–4 halaman untuk skripsi S1, tapi selalu cek pedoman penulisan dari program studimu karena standarnya bisa berbeda.

Apa bedanya latar belakang dan rumusan masalah?

Latar belakang menjelaskan konteks dan alasan sebuah topik penting diteliti, sedangkan rumusan masalah mengubah masalah yang sudah dibangun di latar belakang menjadi pertanyaan penelitian yang spesifik dan bisa dijawab.

Apakah latar belakang harus memuat penelitian terdahulu?

Sebaiknya iya, meski hanya ringkas, karena di situlah research gap ditunjukkan. Pembahasan lebih lengkapnya baru dijabarkan di bab tinjauan pustaka.

Bolehkah memakai data dari berita atau blog?

Boleh sebagai pelengkap konteks, tapi usahakan data inti berasal dari sumber resmi seperti lembaga pemerintah atau jurnal ilmiah agar lebih kredibel di mata penguji.

Bagaimana menulis latar belakang kalau belum turun ke lapangan?

Gunakan dulu data sekunder yang tersedia (laporan resmi, jurnal, statistik), lalu tandai bagian yang perlu dilengkapi observasi awal begitu kamu sudah bisa mengunjungi lokasi penelitian.

Kesimpulan

Latar belakang masalah yang kuat dibangun dari alur yang jelas: gambaran umum yang menyempit, fenomena gap yang dibuktikan dengan data, research gap yang menunjukkan celah penelitian terdahulu, dan urgensi yang mengarah ke rumusan masalah. Kuncinya bukan sekadar mengikuti struktur, tapi mengisi tiap bagian dengan bukti yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan — bukan opini atau angka yang dikarang.

Struktur dan aturan penulisan latar belakang bisa berbeda antarkampus dan antarprodi. Beberapa contoh kalimat dan data di atas bersifat ilustrasi pola penulisan; sebagian data (seperti angka UMKM go digital dan total unit UMKM) berasal dari sumber resmi bertanggal, sementara nama sekolah/usaha dalam contoh perlu kamu ganti dengan lokasi penelitianmu sendiri. Utamakan selalu pedoman terbaru dari program studi/fakultas dan arahan dosen pembimbing.

Artikel terkait