Asesmen sumatif digunakan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran setelah menyelesaikan satu atau beberapa bagian pembelajaran. Hasilnya memberikan gambaran mengenai pencapaian belajar yang kemudian dapat digunakan sebagai bagian dari penilaian akhir maupun pertimbangan kelanjutan proses belajar.
Asesmen sumatif sering disamakan dengan ujian tertulis. Padahal bentuknya dapat lebih beragam, seperti praktik, proyek, produk, portofolio, presentasi, hingga tugas yang memungkinkan siswa menunjukkan kompetensi secara nyata. Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025 juga menegaskan bahwa asesmen sumatif tidak harus hanya menggunakan tes tertulis dan dapat memanfaatkan teknik observasi maupun performa.
Dalam konteks pendidikan dasar dan menengah, asesmen ini memiliki konsekuensi yang berbeda dari asesmen formatif karena hasilnya berkaitan dengan pencapaian belajar pada periode tertentu. Karena itu, penyusunannya perlu sesuai tujuan pembelajaran, menggunakan kriteria yang jelas, dan tidak sekadar mengejar angka.
Pengertian Asesmen Sumatif
Asesmen sumatif adalah kegiatan penilaian yang dilakukan untuk mengetahui pencapaian hasil belajar peserta didik setelah proses pembelajaran pada lingkup tertentu selesai.
Asesmen dapat dilakukan setelah satu atau beberapa tujuan pembelajaran, pada akhir periode pembelajaran, maupun pada tahap lain ketika pendidik membutuhkan informasi mengenai pencapaian hasil belajar.
Pada pendidikan dasar dan menengah, panduan resmi Kemendikdasmen menjelaskan bahwa asesmen sumatif digunakan untuk menilai pencapaian hasil belajar murid dan memastikan ketercapaian tujuan pembelajaran. Hasil tersebut juga menjadi bagian dari pertimbangan kelanjutan proses belajar peserta didik.
Misalnya, siswa kelas VIII selesai mempelajari sistem pencernaan manusia.
Guru kemudian memberikan tugas yang meminta siswa:
-
mengidentifikasi organ pencernaan;
-
menjelaskan fungsi setiap organ;
-
menyusun urutan proses pencernaan;
-
menganalisis gangguan sederhana pada sistem pencernaan.
Hasil pekerjaan tersebut digunakan untuk melihat pencapaian siswa setelah rangkaian pembelajaran selesai.
Dengan kata lain, pertanyaan utama dalam asesmen sumatif adalah:
"Seberapa jauh tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa?"
Hal inilah yang membedakannya dari asesmen formatif yang lebih berorientasi pada pemantauan dan perbaikan selama proses belajar masih berlangsung.
Baca Juga : Teks Persuasi: Pengertian, Ciri, Struktur, Kaidah Kebahasaan, dan Contohnya
Tujuan dan Fungsi Asesmen Sumatif
Tujuan asesmen sumatif tidak terbatas pada memperoleh nilai.
Informasi yang dihasilkan dapat membantu guru, sekolah, siswa, dan orang tua memahami pencapaian belajar pada periode tertentu.
Beberapa fungsi asesmen sumatif antara lain:
-
Mengukur pencapaian tujuan pembelajaran. Guru dapat mengetahui sejauh mana kompetensi yang ditargetkan telah dikuasai siswa.
-
Membandingkan pencapaian dengan kriteria yang telah ditentukan. Hasil siswa dinilai berdasarkan kriteria ketercapaian yang sesuai, bukan sekadar dibandingkan dengan nilai teman sekelas.
-
Menghasilkan informasi mengenai hasil belajar. Data dapat digunakan sebagai bagian dari pelaporan perkembangan dan pencapaian siswa.
-
Menjadi dasar pertimbangan kelanjutan belajar. Pada pendidikan dasar dan menengah, pencapaian belajar menjadi salah satu unsur yang dipertimbangkan dalam proses kenaikan kelas maupun kelulusan sesuai mekanisme satuan pendidikan.
-
Membantu mengevaluasi ketercapaian pembelajaran. Jika hasil banyak siswa berada jauh di bawah yang diharapkan, guru dan sekolah dapat meninjau kembali proses pembelajaran yang telah berlangsung.
Menurut Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025, asesmen sumatif pada pendidikan dasar dan menengah menjadi bagian dari perhitungan penilaian di akhir semester, akhir tahun ajaran, dan/atau akhir jenjang.
Namun, ini tidak berarti setiap asesmen sumatif harus berbentuk ujian besar.
Satu tujuan pembelajaran dapat dinilai melalui proyek, praktik, produk, portofolio, maupun tes yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dibuktikan.
Ciri-Ciri Asesmen Sumatif
Sebuah kegiatan tidak otomatis menjadi asesmen sumatif hanya karena diberikan setelah pembelajaran.
Ada beberapa ciri yang dapat digunakan untuk mengenalinya.
Dilakukan setelah lingkup pembelajaran tertentu selesai
Asesmen sumatif umumnya dilaksanakan ketika siswa telah mendapatkan kesempatan belajar yang cukup untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
Lingkupnya dapat berupa satu tujuan pembelajaran, beberapa tujuan yang berkaitan, satu materi, atau periode pembelajaran tertentu.
Berfokus pada pencapaian hasil belajar
Jika asesmen formatif bertanya "apa yang masih perlu diperbaiki selama proses belajar?", asesmen sumatif lebih menekankan "apa yang sudah mampu dicapai setelah pembelajaran?"
Karena itu, kompetensi yang dinilai harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Menggunakan kriteria penilaian
Jawaban atau performa siswa dibandingkan dengan kriteria pencapaian yang telah ditetapkan.
Pada tugas praktik, misalnya, guru dapat menggunakan rubrik yang memuat beberapa aspek seperti ketepatan prosedur, hasil, penjelasan, dan kemampuan menerapkan konsep.
Dapat berkontribusi terhadap nilai akhir
Berbeda dengan banyak kegiatan formatif yang berfungsi terutama sebagai umpan balik, hasil asesmen sumatif dapat digunakan dalam pengolahan nilai hasil belajar.
Karena memiliki konsekuensi tersebut, instrumennya harus dirancang secara proporsional dan memberikan kesempatan yang wajar kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan.
Tidak harus berbentuk tes tertulis
Kesalahan yang masih sering muncul adalah menganggap sumatif selalu identik dengan lembar soal.
Untuk kemampuan tertentu, tes tertulis memang tepat. Namun, kompetensi lain justru lebih baik dinilai melalui praktik, proyek, produk, atau portofolio.
Bentuk Asesmen Sumatif
Pemilihan bentuk asesmen harus dimulai dari kemampuan yang ingin diukur, bukan dari kebiasaan menggunakan jenis soal tertentu.
Panduan resmi pembelajaran dan asesmen membuka penggunaan beragam teknik dan instrumen, termasuk tes tertulis, observasi, praktik, produk, dan proyek.
Berikut beberapa bentuk yang dapat diterapkan.
1. Tes Tertulis
Tes tertulis dapat menggunakan:
-
pilihan ganda;
-
pilihan ganda kompleks;
-
isian;
-
menjodohkan;
-
jawaban singkat;
-
uraian.
Tes tertulis cocok digunakan ketika kompetensi dapat diperlihatkan melalui jawaban tertulis.
Namun, jenis soal perlu menyesuaikan kemampuan yang diuji.
Jika tujuan pembelajaran meminta siswa menganalisis suatu fenomena, memberikan seluruh soal berupa hafalan istilah akan menghasilkan bukti yang kurang sesuai.
2. Tes Lisan
Guru dapat meminta siswa menjelaskan konsep, menjawab pertanyaan, mempertahankan pendapat, atau mempresentasikan pemahamannya.
Teknik ini dapat digunakan ketika kemampuan komunikasi dan penjelasan menjadi bagian yang ingin dinilai.
3. Praktik
Asesmen praktik menilai kemampuan siswa ketika melakukan suatu keterampilan.
Contohnya:
-
melakukan teknik dasar olahraga;
-
menggunakan alat laboratorium;
-
melakukan percobaan;
-
membaca puisi;
-
memainkan alat musik;
-
melakukan prosedur tertentu di pendidikan kejuruan.
Guru sebaiknya menggunakan rubrik agar penilaian tidak hanya bergantung pada kesan.
4. Proyek
Proyek biasanya membutuhkan beberapa tahap pengerjaan dan menghasilkan karya, laporan, presentasi, atau bentuk hasil lainnya.
Contohnya, siswa diminta melakukan pengamatan sampah di lingkungan sekolah kemudian menyusun data, menganalisis penyebab, dan menawarkan cara mengurangi sampah.
Asesmen tidak hanya dapat melihat produk akhirnya, tetapi juga penerapan pengetahuan dan keterampilan dalam konteks nyata.
5. Produk
Siswa menghasilkan sesuatu yang menunjukkan penguasaan kompetensi.
Produk dapat berupa:
-
poster;
-
model;
-
karya seni;
-
teks;
-
laporan;
-
desain;
-
video;
-
hasil karya keterampilan.
Kriteria harus disampaikan dengan jelas agar siswa memahami unsur yang dinilai.
6. Portofolio
Portofolio merupakan kumpulan karya yang dapat menggambarkan pencapaian belajar siswa dalam periode tertentu.
Contohnya, guru Bahasa Indonesia menggunakan beberapa tulisan siswa untuk melihat pencapaian kemampuan menulis pada akhir semester.
Portofolio akan lebih bermakna jika karya yang dimasukkan memang mewakili kompetensi yang dinilai, bukan sekadar kumpulan seluruh tugas.
Baca Juga: Teks Prosedur: Pengertian, Ciri, Tujuan, Struktur, Jenis, dan Contohnya Lengkap
Perbedaan Asesmen Sumatif, Formatif, dan Diagnostik
Ketiga istilah ini sering tertukar karena semuanya sama-sama digunakan untuk memperoleh informasi tentang belajar siswa.
Perbedaannya terutama terletak pada tujuan penggunaan hasil asesmen.
| Jenis Asesmen | Fokus | Waktu Umum | Hasil Digunakan untuk |
|---|---|---|---|
| Diagnostik | Mengetahui kesiapan atau kondisi awal | Sebelum atau pada awal pembelajaran | Menentukan titik awal dan kebutuhan belajar |
| Formatif | Memantau perkembangan | Selama pembelajaran | Memberikan umpan balik dan memperbaiki proses |
| Sumatif | Menilai pencapaian hasil belajar | Setelah lingkup pembelajaran tertentu | Menentukan pencapaian dan menjadi bagian dari penilaian hasil belajar |
Cara sederhana mengingatnya adalah melalui tiga pertanyaan.
Diagnostik: Dari mana siswa mulai?
Formatif: Apa yang perlu diperbaiki selama siswa belajar?
Sumatif: Apa yang berhasil dicapai setelah siswa belajar?
Asesmen formatif dan sumatif bukan dua kegiatan yang saling menggantikan.
Pada 2026, kegiatan diseminasi pembelajaran dan penilaian Kemendikdasmen juga masih menempatkan penilaian formatif, sumatif, dan autentik sebagai bagian yang digunakan dalam membantu guru memahami perkembangan dan hasil belajar peserta didik.
Siswa dapat memperoleh umpan balik melalui asesmen formatif terlebih dahulu, memperbaiki pemahamannya, kemudian menunjukkan pencapaian melalui asesmen sumatif.
Alur seperti ini lebih masuk akal daripada memberikan penilaian akhir tanpa kesempatan belajar dan perbaikan sebelumnya.
Cara Menyusun Asesmen Sumatif yang Tepat
Asesmen yang baik dimulai dari tujuan pembelajaran, bukan dari menentukan jumlah soal.
Guru dapat menggunakan langkah berikut.
1. Identifikasi tujuan pembelajaran
Tentukan kompetensi yang seharusnya sudah dicapai siswa.
Misalnya:
"Siswa mampu menganalisis hubungan antara aktivitas manusia dan perubahan lingkungan."
Kata menganalisis menunjukkan bahwa asesmen sebaiknya tidak hanya meminta siswa menyebutkan jenis pencemaran.
2. Tentukan bukti keberhasilan
Guru perlu memikirkan bukti apa yang menunjukkan bahwa siswa benar-benar telah mencapai tujuan.
Pada contoh tersebut, siswa dapat diberikan sebuah kasus pencemaran sungai kemudian diminta:
-
mengidentifikasi aktivitas manusia yang menjadi penyebab;
-
menjelaskan akibatnya;
-
menghubungkan penyebab dengan dampak;
-
mengusulkan langkah penanganan.
3. Pilih bentuk asesmen
Tidak semua tujuan harus dinilai menggunakan pilihan ganda.
Pertimbangkan apakah bukti terbaik diperoleh melalui:
-
tes tertulis;
-
praktik;
-
presentasi;
-
proyek;
-
produk;
-
portofolio;
-
kombinasi beberapa teknik.
4. Susun kriteria penilaian
Kriteria harus berkaitan langsung dengan kompetensi.
Untuk presentasi IPA, misalnya, penilaian dapat memuat ketepatan konsep, kemampuan menggunakan bukti, hubungan sebab-akibat, serta kejelasan penyampaian.
Guru perlu berhati-hati agar aspek yang tidak berhubungan dengan tujuan tidak mendapatkan bobot berlebihan.
Jika tujuan utamanya menilai pemahaman IPA, desain slide yang cantik tidak semestinya mengalahkan ketepatan konsep.
5. Pastikan tingkat kesulitan proporsional
Asesmen perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan dasar sekaligus kemampuan yang lebih tinggi sesuai target pembelajaran.
Soal yang semuanya sangat mudah kurang mampu membedakan tingkat penguasaan. Sebaliknya, soal yang terlalu sulit dapat membuat hasil tidak mencerminkan kemampuan secara wajar.
6. Periksa instrumen sebelum digunakan
Guru dapat memeriksa beberapa pertanyaan berikut:
-
Apakah semua soal sesuai dengan tujuan pembelajaran?
-
Apakah instruksi mudah dipahami?
-
Apakah ada soal yang memiliki lebih dari satu kemungkinan jawaban tanpa disengaja?
-
Apakah waktu pengerjaan cukup?
-
Apakah rubrik dapat digunakan secara konsisten?
-
Apakah tugas memberi kesempatan kepada siswa untuk memperlihatkan kompetensinya?
Pemeriksaan sederhana tersebut dapat mengurangi kesalahan penilaian.
Baca Juga: Teks Eksplanasi: Pengertian, Ciri, Tujuan, Struktur, Kaidah Kebahasaan, dan Conto
Contoh Penerapan Asesmen Sumatif dalam Pembelajaran
Bentuk asesmen sebaiknya menyesuaikan mata pelajaran dan kompetensi yang diukur.
Berikut beberapa contoh penerapannya.
Contoh Asesmen Sumatif Matematika SD
Setelah mempelajari pecahan, siswa diberikan sejumlah soal yang mengukur beberapa kemampuan berbeda.
Contoh:
-
Tentukan pecahan yang menunjukkan bagian berwarna pada sebuah gambar.
-
Bandingkan 2/3 dan 3/4.
-
Tentukan hasil 1/2 + 1/4.
-
Ibu mempunyai satu kue dan memberikan 3/8 bagian kepada Rani. Berapa bagian kue yang masih tersisa?
-
Jelaskan cara menemukan jawaban soal nomor empat.
Soal tidak hanya menguji perhitungan, tetapi juga pemahaman konsep dan kemampuan menerapkannya.
Jika tujuan pembelajaran mencakup pemecahan masalah, soal cerita menjadi penting untuk menghasilkan bukti pencapaian tersebut.
Contoh Bahasa Indonesia SMP
Setelah mempelajari teks argumentasi, siswa diminta menulis teks dengan topik:
"Perlukah sekolah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai?"
Kriteria penilaian dapat mencakup:
-
kejelasan pendapat;
-
relevansi alasan;
-
penggunaan fakta atau bukti;
-
hubungan antarparagraf;
-
ketepatan penggunaan bahasa.
Bentuk seperti ini lebih sesuai untuk menilai kemampuan menulis argumentasi daripada hanya memberikan soal definisi teks argumentasi.
Contoh IPA SMP
Setelah mempelajari ekosistem, guru menyediakan kasus mengenai berkurangnya populasi ular di daerah persawahan.
Siswa diminta menjelaskan:
-
perubahan yang mungkin terjadi pada populasi organisme lain;
-
hubungan dalam rantai makanan;
-
kemungkinan dampaknya terhadap keseimbangan ekosistem.
Soal tersebut menilai apakah siswa dapat menerapkan konsep, bukan sekadar menghafalkan definisi produsen dan konsumen.
Contoh SMA
Siswa pada mata pelajaran Ekonomi telah menyelesaikan materi permintaan dan penawaran.
Guru memberikan kasus perubahan harga cabai di suatu daerah kemudian menyediakan data sederhana.
Siswa diminta:
-
membaca perubahan harga dan jumlah barang;
-
menjelaskan faktor yang mungkin memengaruhi permintaan atau penawaran;
-
membuat grafik berdasarkan data;
-
memberikan kesimpulan berdasarkan konsep ekonomi.
Satu tugas dapat menghasilkan beberapa bukti pencapaian apabila dirancang sesuai tujuan pembelajaran.
Apakah Asesmen Sumatif Harus Dilakukan pada Akhir Semester?
Tidak selalu dalam bentuk ujian akhir semester khusus.
Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025 menyebut asesmen sumatif dapat dilakukan setelah satu lingkup materi atau pada akhir semester. Untuk asesmen khusus pada akhir semester, pelaksanaannya bersifat pilihan apabila pendidik telah memiliki data yang cukup untuk mengukur pencapaian hasil belajar selama semester tersebut.
Artinya, istilah asesmen sumatif tidak sama dengan "ujian semester".
Seorang guru dapat memiliki beberapa hasil asesmen sumatif dari berbagai tujuan pembelajaran selama satu semester.
Apabila diperlukan konfirmasi tambahan, asesmen akhir semester dapat dilakukan sesuai perencanaan dan kebijakan satuan pendidikan.
Hal ini juga menunjukkan bahwa asesmen sebaiknya tidak menumpuk seluruh beban penilaian pada satu tes dalam waktu singkat.
Bukti pencapaian dapat dikumpulkan melalui beberapa kegiatan yang dirancang pada waktu berbeda.
Cara Mengolah dan Menindaklanjuti Hasil Asesmen Sumatif
Setelah asesmen selesai, guru tidak cukup hanya menghitung skor.
Hasil perlu dibandingkan dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran untuk melihat kompetensi yang telah dikuasai setiap siswa.
Contohnya, seorang siswa mendapatkan nilai yang cukup tinggi tetapi masih lemah pada satu tujuan penting.
Informasi tersebut lebih bermakna daripada hanya mengetahui nilai keseluruhan karena guru dapat melihat bagian yang membutuhkan tindak lanjut.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:
-
Petakan hasil berdasarkan tujuan pembelajaran. Lihat kompetensi mana yang telah dan belum tercapai.
-
Periksa pola kesalahan. Kesalahan yang sama pada banyak siswa dapat menunjukkan bagian materi yang perlu diperkuat.
-
Berikan informasi hasil yang mudah dipahami. Nilai dapat dilengkapi dengan deskripsi capaian bila diperlukan.
-
Siapkan tindak lanjut. Siswa yang belum mencapai kompetensi tertentu dapat diberikan pembelajaran tambahan, sedangkan siswa yang sudah menguasainya dapat memperoleh pengayaan.
-
Gunakan hasil sebagai bahan perencanaan. Informasi dari satu periode pembelajaran dapat membantu menentukan strategi pembelajaran berikutnya.
Guru juga dapat memanfaatkan perangkat pembelajaran dan asesmen yang tersedia melalui portal resmi Rumah Pendidikan sebagai salah satu bahan pendukung dalam merencanakan pembelajaran.
Hasil sumatif memang menggambarkan pencapaian pada akhir suatu lingkup belajar, tetapi bukan berarti proses belajar harus berhenti setelah nilai keluar.
Siswa tetap dapat menggunakan hasil tersebut untuk mengetahui kompetensi yang perlu diperkuat.
Baca Juga: Teks Deskripsi: Pengertian, Ciri, Struktur, Jenis, dan Contohnya Lengkap
Kesalahan yang Perlu Dihindari dalam Asesmen Sumatif
Kesalahan penyusunan asesmen dapat menyebabkan nilai tidak benar-benar menggambarkan kompetensi siswa.
Beberapa hal berikut perlu diperhatikan.
Menilai materi yang belum dipelajari secara memadai
Asesmen seharusnya berkaitan dengan tujuan dan pengalaman belajar yang telah diberikan.
Siswa tidak semestinya dinilai pada kompetensi yang belum mendapatkan kesempatan cukup untuk dipelajari.
Menggunakan tes tertulis untuk semua kemampuan
Tes tertulis tidak selalu tepat untuk mengukur keterampilan.
Kemampuan melakukan eksperimen, memainkan alat musik, melakukan gerakan olahraga, atau menghasilkan karya akan lebih sesuai dinilai melalui performa.
Soal tidak sesuai tujuan pembelajaran
Jika tujuan meminta siswa menganalisis, sedangkan seluruh soal hanya meminta definisi, asesmen tidak benar-benar mengukur tujuan yang ditetapkan.
Terlalu menilai tampilan
Kesalahan ini dapat muncul pada proyek atau presentasi.
Poster yang sangat rapi belum tentu menunjukkan pemahaman yang lebih baik jika isi dan analisisnya keliru.
Bobot penilaian perlu diarahkan pada kompetensi utama.
Hanya melihat nilai total
Nilai 80 dari dua siswa belum tentu memiliki arti yang sama.
Siswa pertama mungkin sangat kuat pada konsep tetapi melakukan beberapa kesalahan hitung. Siswa kedua mungkin mampu menghitung tetapi belum memahami alasan di balik prosedurnya.
Analisis berdasarkan tujuan pembelajaran akan memberikan informasi yang lebih berguna.
Menganggap satu tes menentukan seluruh kemampuan siswa
Satu kegiatan penilaian dapat dipengaruhi banyak faktor.
Karena itu, penggunaan beberapa bukti pencapaian yang relevan pada waktu berbeda dapat memberikan gambaran yang lebih utuh dibandingkan menggantungkan hasil pada satu tes besar.
FAQ
Apa yang dimaksud dengan asesmen sumatif?
Asesmen sumatif adalah penilaian yang digunakan untuk mengetahui pencapaian hasil belajar setelah siswa menyelesaikan lingkup pembelajaran tertentu. Hasilnya digunakan untuk melihat ketercapaian tujuan pembelajaran dan dapat menjadi bagian dari pengolahan hasil belajar.
Apakah asesmen sumatif selalu berupa ujian tertulis?
Tidak. Asesmen sumatif dapat berbentuk tes tertulis, praktik, proyek, produk, portofolio, observasi performa, atau bentuk lain yang sesuai dengan kompetensi yang dinilai. Panduan resmi pembelajaran dan asesmen juga memberikan ruang penggunaan teknik yang beragam.
Apakah asesmen sumatif sama dengan ujian akhir semester?
Tidak selalu. Asesmen sumatif dapat dilaksanakan setelah satu atau beberapa tujuan pembelajaran selesai. Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025 menyatakan asesmen khusus pada akhir semester bersifat pilihan apabila data hasil asesmen selama semester sudah mencukupi.
Apakah nilai asesmen sumatif masuk ke nilai akhir?
Pada pendidikan dasar dan menengah, hasil asesmen sumatif digunakan untuk menilai pencapaian hasil belajar dan menjadi bagian dalam pengolahan penilaian akhir sesuai mekanisme yang diterapkan satuan pendidikan. Asesmen formatif memiliki fungsi berbeda karena terutama digunakan untuk memberikan umpan balik selama proses belajar.
Apa perbedaan utama asesmen formatif dan sumatif?
Asesmen formatif digunakan untuk mengetahui perkembangan dan memperbaiki pembelajaran ketika proses belajar masih berlangsung. Asesmen sumatif berfokus pada pencapaian hasil setelah lingkup pembelajaran tertentu selesai.
Penutup
Asesmen sumatif berfungsi membantu pendidik mengetahui pencapaian hasil belajar siswa setelah menyelesaikan satu atau beberapa tujuan pembelajaran. Bentuknya tidak terbatas pada ujian tertulis, tetapi dapat berupa praktik, proyek, produk, presentasi, maupun portofolio selama sesuai dengan kompetensi yang hendak dinilai.
Kualitas asesmen bergantung pada kesesuaian antara tujuan pembelajaran, bentuk tugas, kriteria penilaian, dan cara mengolah hasilnya. Guru sebaiknya tidak hanya melihat skor total, tetapi juga memperhatikan kompetensi yang sudah dan belum dikuasai setiap siswa.
Untuk penerapannya, sekolah tetap perlu menyesuaikan mekanisme penilaian dengan ketentuan satuan pendidikan dan pedoman resmi yang berlaku. Jika terdapat perubahan kebijakan, informasi terbaru dapat diperiksa melalui portal resmi Kemendikdasmen.