Asesmen Formatif: Pengertian, Tujuan, Teknik, dan Contohnya dalam Pembelajaran

Asesmen Formatif: Pengertian, Tujuan, Teknik, dan Contohnya dalam Pembelajaran
Foto: Ilustrasi Asesmen Formatif: Pengertian, Tujuan, Teknik, dan Contohnya dalam Pembelajaran.

Asesmen formatif merupakan bagian dari pembelajaran yang digunakan untuk mengetahui perkembangan peserta didik sekaligus memberikan umpan balik selama proses belajar berlangsung. Guru tidak harus menunggu ujian akhir untuk mengetahui apakah siswa memahami materi, karena informasi dapat dikumpulkan melalui pertanyaan, kuis singkat, observasi, tugas, diskusi, refleksi, atau aktivitas sederhana lainnya.

Yang membedakan asesmen formatif dari penilaian yang hanya berorientasi pada angka adalah cara hasilnya digunakan. Ketika ditemukan kesalahan pemahaman, guru dapat memperbaiki penjelasan, memberikan latihan tambahan, mengubah pendekatan, atau menyesuaikan tingkat tantangan. Siswa pun memperoleh informasi tentang bagian yang sudah dikuasai dan apa yang masih perlu diperbaiki.

Dalam praktik pendidikan Indonesia pada 2026, asesmen formatif tetap menjadi bagian dari perangkat dan proses pembelajaran. Informasi resmi Kemendikdasmen juga memasukkan asesmen formatif sebagai salah satu bentuk latihan atau asesmen yang dapat digunakan dalam perangkat ajar.

Pengertian Asesmen Formatif

Asesmen formatif adalah asesmen yang digunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai perkembangan belajar peserta didik sehingga guru dan siswa dapat menentukan langkah perbaikan sebelum proses pembelajaran selesai.

Kata "formatif" menunjukkan bahwa asesmen berfungsi membantu membentuk dan memperbaiki proses belajar, bukan hanya menilai hasil akhirnya.

Sebagai contoh, guru Bahasa Indonesia sedang mengajarkan cara membedakan fakta dan opini. Setelah memberikan penjelasan, guru menampilkan lima kalimat dan meminta siswa menentukan mana yang termasuk fakta dan mana yang merupakan opini.

Jika sebagian besar siswa salah pada jenis kalimat tertentu, guru tidak perlu menunggu ulangan akhir bab. Kesalahan tersebut dapat langsung dibahas dan diberikan contoh tambahan.

Inilah salah satu ciri terpenting asesmen formatif: informasi diperoleh ketika masih ada kesempatan untuk memperbaiki pembelajaran.

Bentuknya juga tidak selalu berupa tes tertulis. Pertanyaan lisan, diskusi, lembar observasi, catatan anekdotal, rubrik, ceklis, portofolio, dan refleksi dapat digunakan selama sesuai dengan tujuan pembelajaran. Portal resmi Kemendikdasmen bahkan mencantumkan berbagai instrumen tersebut dalam perangkat ajar yang dapat digunakan pendidik.

Baca Juga: Teks Deskripsi: Pengertian, Ciri, Struktur, Jenis, dan Contohnya Lengkap

Tujuan Asesmen Formatif dalam Pembelajaran

Tujuan asesmen formatif bukan mencari siswa dengan nilai tertinggi, melainkan memperoleh informasi yang dapat membantu memperbaiki proses belajar.

Beberapa tujuan utamanya meliputi:

  • Memantau perkembangan siswa. Guru dapat melihat apakah pemahaman siswa mengalami kemajuan setelah pembelajaran berlangsung.

  • Menemukan kesulitan lebih cepat. Kesalahan konsep dapat diketahui sebelum menjadi masalah yang terbawa ke materi berikutnya.

  • Memberikan umpan balik. Siswa memperoleh penjelasan mengenai bagian yang sudah benar dan bagian yang masih perlu diperbaiki.

  • Memperbaiki strategi mengajar. Jika banyak siswa melakukan kesalahan yang sama, guru dapat mengevaluasi kembali metode atau penjelasan yang diberikan.

  • Membantu siswa melakukan refleksi. Siswa dapat mengetahui posisi belajarnya sendiri dan menentukan apa yang perlu dipelajari kembali.

  • Menentukan tindak lanjut. Hasil asesmen dapat digunakan untuk penguatan, remedial, pendampingan, atau pengayaan.

  • Menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa. Guru dapat menggunakan bentuk dukungan yang berbeda berdasarkan informasi yang diperoleh.

Praktik asesmen formatif juga menekankan pemberian umpan balik yang membantu proses belajar, sementara asesmen sumatif lebih diarahkan untuk melihat pencapaian pembelajaran setelah proses tertentu selesai.

Karena itu, memberikan kuis saja belum tentu dapat disebut penerapan asesmen formatif yang baik.

Kuis menjadi formatif ketika hasilnya digunakan untuk menjawab pertanyaan berikut: "Apa yang harus diperbaiki setelah ini?"

Ciri-Ciri Asesmen Formatif yang Efektif

Asesmen formatif dapat dilakukan dengan sangat sederhana. Namun, ada beberapa ciri yang membedakannya dari aktivitas penilaian biasa.

Berhubungan langsung dengan tujuan pembelajaran

Pertanyaan atau tugas harus mengukur kemampuan yang memang sedang dikembangkan.

Misalnya, tujuan pembelajaran meminta siswa mampu menjelaskan penyebab terjadinya hujan.

Memberikan soal yang hanya meminta siswa menghafalkan istilah tanpa menjelaskan hubungan prosesnya mungkin belum cukup untuk melihat apakah tujuan tersebut sudah dipahami.

Dilakukan ketika pembelajaran masih dapat diperbaiki

Guru membutuhkan informasi sebelum semuanya terlambat.

Karena itu, asesmen formatif dapat diberikan selama penjelasan, setelah satu bagian materi selesai, pada akhir pertemuan, atau pada kesempatan lain sebelum pembelajaran berlanjut.

Memberikan informasi lebih dari sekadar angka

Nilai 70 hanya menunjukkan jumlah jawaban benar berdasarkan sistem penilaian tertentu.

Informasi seperti "siswa memahami proses penguapan tetapi masih tertukar antara kondensasi dan presipitasi" jauh lebih berguna untuk menentukan pembelajaran berikutnya.

Diikuti umpan balik

Umpan balik sebaiknya memberi arah perbaikan.

Komentar seperti "salah" atau "kurang bagus" tidak menjelaskan apa yang harus dilakukan siswa.

Umpan balik yang lebih membantu misalnya:

"Urutan prosesnya sudah benar, tetapi jelaskan perubahan uap air menjadi titik-titik air ketika membahas kondensasi."

Siswa mengetahui bagian yang benar sekaligus langkah perbaikannya.

Mendorong keterlibatan siswa

Siswa tidak harus selalu menjadi penerima nilai.

Mereka dapat melakukan refleksi, penilaian diri, atau memberikan umpan balik terhadap pekerjaan teman berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.

Tujuannya bukan menggantikan guru, tetapi membantu siswa memahami seperti apa pekerjaan yang memenuhi tujuan pembelajaran.

Teknik Asesmen Formatif yang Dapat Digunakan Guru

Tidak ada satu teknik yang cocok untuk semua materi. Guru dapat memilih cara berdasarkan tujuan pembelajaran, usia siswa, waktu yang tersedia, dan jenis kompetensi yang akan diperiksa.

1. Pertanyaan Lisan

Pertanyaan lisan merupakan teknik paling sederhana.

Guru dapat berhenti sejenak ketika menjelaskan materi dan memberikan pertanyaan yang menguji pemahaman.

Contohnya pada pelajaran IPA:

"Mengapa pakaian lebih cepat kering ketika dijemur di tempat yang terkena sinar matahari?"

Pertanyaan seperti ini lebih berguna daripada hanya bertanya, "Apakah sudah paham?"

Ketika ditanya apakah sudah memahami materi, siswa sering menjawab "sudah" meskipun guru belum memperoleh bukti mengenai pemahamannya.

2. Kuis Singkat

Kuis dapat terdiri atas tiga sampai sepuluh pertanyaan yang berfokus pada konsep tertentu.

Kuis tidak harus selalu menghasilkan nilai yang dicatat sebagai nilai akhir. Guru dapat menggunakannya untuk melihat pola jawaban kelas.

Misalnya, dari lima soal Matematika, sebagian besar siswa benar pada empat soal tetapi salah pada satu soal tentang pembagian pecahan.

Guru memperoleh petunjuk bahwa konsep tersebut perlu diperjelas kembali.

3. Exit Ticket

Exit ticket adalah pertanyaan atau tugas sangat singkat yang dikerjakan menjelang berakhirnya pembelajaran.

Contohnya:

  • Tuliskan satu hal yang sudah kamu pahami.

  • Jelaskan konsep utama pelajaran hari ini dalam dua kalimat.

  • Tuliskan bagian yang masih membingungkan.

  • Kerjakan satu soal yang mewakili materi hari ini.

Guru dapat membaca jawaban sebelum merancang pembelajaran pertemuan berikutnya.

Teknik ini cukup praktis karena tidak membutuhkan tes panjang.

Baca Juga: Teks Observasi: Pengertian, Ciri-Ciri, Struktur, Tujuan, dan Contohnya Lengkap

4. Observasi

Observasi cocok digunakan ketika kemampuan siswa lebih mudah terlihat melalui aktivitas daripada tes tertulis.

Guru Pendidikan Jasmani, misalnya, dapat mengamati posisi tubuh ketika siswa melakukan teknik servis bola voli.

Guru Seni dapat mengamati penerapan teknik tertentu ketika siswa membuat karya.

Sementara guru Bahasa dapat mengamati kemampuan berbicara melalui presentasi atau diskusi.

Agar penilaian tidak hanya berdasarkan kesan, guru dapat menggunakan ceklis atau rubrik sederhana.

5. Penilaian Diri

Pada penilaian diri, siswa menilai perkembangan belajarnya menggunakan pertanyaan atau kriteria yang jelas.

Contohnya:

"Saya sudah dapat menentukan gagasan utama paragraf tanpa bantuan."

Pilihan jawaban dapat berupa:

  • sudah mampu;

  • masih membutuhkan sedikit bantuan;

  • belum memahami.

Hasilnya tidak harus dijadikan nilai.

Penilaian diri berguna untuk melatih siswa mengenali kemampuan dan kebutuhan belajarnya sendiri.

6. Penilaian Teman Sebaya

Siswa dapat memberikan masukan terhadap pekerjaan temannya menggunakan kriteria yang telah ditentukan guru.

Misalnya, dalam latihan menulis paragraf argumentasi, siswa diminta memeriksa apakah tulisan teman sudah memiliki:

  • pendapat yang jelas;

  • alasan yang relevan;

  • bukti atau contoh;

  • hubungan antarkalimat yang logis.

Penilaian teman sebaya harus memiliki panduan. Tanpa kriteria, komentar mudah berubah menjadi pendapat seperti "bagus" atau "kurang menarik" yang tidak memberikan informasi berarti.

7. Refleksi Singkat

Guru dapat meminta siswa menulis refleksi setelah menyelesaikan materi.

Contohnya:

"Konsep apa yang paling mudah kamu pahami hari ini dan konsep mana yang masih perlu dijelaskan lagi?"

Jawaban membantu guru mengenali persepsi siswa mengenai proses belajarnya.

Namun, refleksi sebaiknya tidak menjadi satu-satunya bukti penguasaan materi. Siswa dapat merasa memahami sebuah konsep tetapi belum tentu mampu menerapkannya.

Karena itu, refleksi dapat dikombinasikan dengan soal atau aktivitas lain.

8. Tugas dan Portofolio

Perkembangan siswa dapat dilihat dari serangkaian pekerjaan, bukan hanya satu tes.

Misalnya, guru Bahasa Indonesia menyimpan beberapa versi tulisan siswa dari awal hingga akhir unit pembelajaran.

Guru kemudian dapat melihat perubahan dalam struktur tulisan, penggunaan bukti, pemilihan kosakata, atau ketepatan ejaan.

Cara ini berguna untuk kompetensi yang berkembang secara bertahap.

Perbedaan Asesmen Formatif, Diagnostik, dan Sumatif

Ketiga istilah tersebut sering digunakan berdekatan, sehingga mudah tertukar.

Perbedaannya dapat dipahami dari tujuan penggunaan informasinya.

Jenis Asesmen Fokus Waktu Umum Pemanfaatan
Diagnostik Mengetahui kemampuan atau kebutuhan awal Sebelum materi tertentu Menentukan titik awal pembelajaran
Formatif Memantau dan memperbaiki perkembangan belajar Selama proses pembelajaran Memberikan umpan balik dan menentukan perbaikan
Sumatif Melihat pencapaian setelah suatu periode pembelajaran Setelah unit atau periode tertentu Menilai hasil belajar

Dalam praktiknya, batas istilah tersebut tidak selalu benar-benar terpisah.

Asesmen awal, misalnya, dapat memiliki fungsi formatif karena hasilnya digunakan untuk menentukan strategi pembelajaran. Hal terpenting bukan sekadar nama asesmennya, tetapi untuk apa hasilnya digunakan.

Cara sederhana mengingatnya adalah:

Diagnostik: Apa titik awal siswa?

Formatif: Apa yang perlu diperbaiki selama belajar?

Sumatif: Apa yang telah dicapai setelah belajar?

Asesmen formatif dan sumatif memiliki fungsi berbeda. Informasi resmi Kemendikdasmen pada 2026 juga tetap menempatkan penilaian sebagai bagian dari proses belajar agar guru dapat melihat perkembangan siswa dan menentukan tindak lanjut pembelajaran yang sesuai.

Contoh Asesmen Formatif dalam Pembelajaran

Penerapan asesmen formatif akan lebih mudah dipahami melalui contoh.

Contoh Matematika SD

Guru sedang mengajarkan pecahan senilai.

Setelah memberikan beberapa contoh, guru meminta siswa menjawab tiga pertanyaan:

  1. Apakah 1/2 sama dengan 2/4?

  2. Tuliskan pecahan yang senilai dengan 3/5.

  3. Jelaskan mengapa 2/3 tidak sama dengan 2/6.

Misalnya hampir semua siswa dapat menjawab soal pertama, tetapi banyak yang salah pada pertanyaan kedua dan ketiga.

Guru memperoleh informasi bahwa siswa mengenali contoh pecahan senilai tetapi belum memahami pola pembentukannya.

Tindak lanjut yang tepat bukan langsung memberikan sepuluh soal tambahan dengan bentuk sama.

Guru dapat kembali menggunakan gambar atau model bagian-bagian yang sama untuk menjelaskan mengapa pembilang dan penyebut harus berubah dengan faktor yang sama.

Contoh Bahasa Indonesia SMP

Siswa sedang belajar membuat paragraf argumentasi.

Guru memberikan pernyataan:

"Penggunaan plastik sekali pakai di sekolah perlu dikurangi."

Siswa diminta menulis satu alasan dan satu bukti yang mendukung pendapat tersebut.

Seorang siswa menulis:

"Plastik harus dikurangi karena plastik itu tidak bagus."

Kalimat tersebut menunjukkan siswa sudah memberikan alasan, tetapi alasannya belum spesifik.

Guru dapat memberi umpan balik:

"Jelaskan dampak apa yang membuat penggunaan plastik perlu dikurangi. Setelah itu, tambahkan contoh atau bukti yang mendukung alasan tersebut."

Umpan balik seperti ini menunjukkan bagian yang harus diperbaiki tanpa langsung memberikan jawaban jadi.

Contoh IPA SMP

Setelah membahas rantai makanan, guru menampilkan gambar ekosistem sawah.

Siswa diminta membuat rantai makanan berdasarkan organisme yang tersedia.

Jika banyak siswa menempatkan padi setelah belalang, guru mengetahui bahwa hubungan antara produsen dan konsumen belum sepenuhnya dipahami.

Guru dapat menghentikan aktivitas berikutnya untuk memberikan penguatan singkat.

Contoh SMA

Guru Ekonomi sedang menjelaskan konsep permintaan.

Di tengah pembelajaran, siswa diberikan situasi:

"Harga sebuah produk naik, sedangkan faktor lain dianggap tetap. Apa yang biasanya terjadi pada jumlah barang yang diminta?"

Guru meminta semua siswa menuliskan jawaban beserta alasannya.

Kesalahan pada alasan lebih penting daripada sekadar pilihan jawaban benar atau salah karena membantu guru mengetahui bagaimana siswa memahami hubungan antara harga dan jumlah permintaan.

Baca Juga: Teks Argumentasi: Pengertian, Struktur, Ciri-Ciri, Tujuan, Jenis, dan Contohnya

Cara Menindaklanjuti Hasil Asesmen Formatif

Mengumpulkan jawaban siswa hanyalah tahap awal.

Nilai sebenarnya dari asesmen formatif muncul ketika informasi tersebut digunakan untuk menentukan tindakan.

Guru dapat melakukan langkah berikut.

  1. Kelompokkan pola jawaban. Identifikasi konsep yang sudah dikuasai dan kesalahan yang paling banyak terjadi.

  2. Cari penyebab kesalahan. Bedakan antara siswa yang salah menghitung, tidak memahami konsep, salah membaca pertanyaan, atau belum menguasai kemampuan prasyarat.

  3. Berikan umpan balik spesifik. Jelaskan apa yang sudah benar, apa yang perlu diperbaiki, dan langkah berikutnya.

  4. Sesuaikan kegiatan pembelajaran. Guru dapat mengulang bagian tertentu, memberikan contoh berbeda, menggunakan media lain, atau mengadakan latihan tambahan.

  5. Berikan pengayaan jika diperlukan. Siswa yang telah memahami materi dapat memperoleh tugas dengan tingkat tantangan lebih tinggi.

  6. Periksa kembali pemahaman. Setelah perbaikan dilakukan, berikan pertanyaan atau aktivitas singkat untuk melihat apakah kesalahan sudah teratasi.

Contohnya, 25 dari 30 siswa salah memahami satu konsep.

Dalam kondisi tersebut, kesalahan mungkin bukan masalah lima siswa yang berhasil menjawab, tetapi tanda bahwa penjelasan atau aktivitas pembelajaran perlu diperiksa kembali.

Sebaliknya, jika hanya dua siswa mengalami kesulitan, guru tidak selalu harus mengulang seluruh pembelajaran untuk satu kelas. Pendampingan dapat diberikan secara lebih terarah.

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Asesmen Formatif

Asesmen formatif dapat berubah menjadi kegiatan administratif apabila tujuan awalnya dilupakan.

Semua aktivitas harus diberi angka

Guru tidak harus mengubah setiap pertanyaan, refleksi, atau exit ticket menjadi angka.

Beberapa informasi justru lebih berguna dalam bentuk catatan singkat mengenai perkembangan atau kesalahan siswa.

Terlalu banyak memberikan tes

Asesmen formatif bukan berarti siswa harus terus-menerus mengerjakan ujian.

Diskusi, demonstrasi, pengamatan pekerjaan, pertanyaan kelas, dan refleksi juga dapat memberikan bukti belajar.

Umpan balik terlalu umum

Komentar "bagus", "kurang", atau "belajar lagi" tidak memberikan petunjuk yang cukup.

Lebih baik menjelaskan bagian tertentu yang perlu diperbaiki.

Memberikan jawaban lengkap sebagai umpan balik

Jika guru langsung memperbaiki semua pekerjaan siswa, siswa kehilangan kesempatan memikirkan kesalahannya sendiri.

Umpan balik dapat berupa petunjuk.

Contohnya:

"Periksa kembali hubungan antara data pada paragraf kedua dan kesimpulan yang kamu buat."

Siswa tetap harus melakukan proses berpikir.

Tidak menggunakan hasil untuk mengubah pembelajaran

Guru mungkin sudah memiliki jadwal materi yang padat, tetapi melanjutkan pelajaran ketika sebagian besar siswa belum memahami fondasinya dapat menambah kesulitan berikutnya.

Asesmen formatif seharusnya memberi ruang bagi penyesuaian.

Menjadikan asesmen sebagai alat mempermalukan siswa

Hasil asesmen tidak perlu diumumkan dengan cara yang membuat siswa takut melakukan kesalahan.

Kesalahan justru dapat menjadi informasi penting mengenai apa yang perlu dipelajari.

Baca Juga: Teks Narasi: Pengertian, Ciri, Struktur, Jenis, dan Contohnya Lengkap

Cara Membuat Asesmen Formatif Lebih Bermakna

Asesmen formatif tidak harus membutuhkan waktu lama. Kuncinya adalah memilih bukti belajar yang benar-benar mewakili tujuan pembelajaran.

Jika guru ingin mengetahui apakah siswa mampu menjelaskan, jangan hanya menggunakan soal pilihan ganda.

Jika tujuan pembelajaran meminta siswa mampu mempraktikkan, berikan kesempatan untuk menunjukkan keterampilannya.

Jika tujuannya adalah menganalisis, pertanyaan sebaiknya meminta siswa menghubungkan informasi atau memberikan alasan.

Prinsip sederhana yang dapat digunakan adalah:

Tujuan → Bukti → Umpan balik → Tindak lanjut.

Pertama, tentukan apa yang harus dikuasai siswa.

Kedua, tentukan bukti seperti apa yang menunjukkan bahwa kemampuan tersebut sudah berkembang.

Ketiga, berikan umpan balik berdasarkan bukti yang ditemukan.

Terakhir, tentukan tindakan berikutnya.

Guru yang membutuhkan referensi perangkat pembelajaran juga dapat memanfaatkan Rumah Pendidikan sebagai portal resmi Kemendikdasmen. Perangkat ajar yang tersedia dapat memuat strategi asesmen serta berbagai bentuk latihan atau instrumen sesuai kebutuhan pembelajaran.

Dengan pendekatan tersebut, asesmen tidak lagi berdiri terpisah dari proses mengajar. Kegiatan belajar, asesmen, umpan balik, dan perbaikan menjadi rangkaian yang saling berhubungan.

FAQ

Apakah asesmen formatif harus diberi nilai?

Tidak selalu. Tujuan utamanya adalah mendapatkan informasi mengenai perkembangan belajar dan memberikan umpan balik. Guru dapat menggunakan catatan, rubrik, ceklis, komentar, atau bentuk informasi lain tanpa harus mengubah semuanya menjadi angka.

Kapan asesmen formatif dilakukan?

Asesmen formatif dapat dilakukan selama proses pembelajaran ketika guru membutuhkan informasi mengenai pemahaman atau perkembangan siswa. Bentuknya dapat muncul di awal kegiatan, di tengah penjelasan, setelah latihan, maupun menjelang pembelajaran berakhir.

Apakah kuis termasuk asesmen formatif?

Bisa. Kuis termasuk asesmen formatif jika hasilnya digunakan untuk mengetahui perkembangan belajar dan menentukan tindak lanjut. Jika kuis hanya menghasilkan angka tanpa umpan balik atau perbaikan, fungsi formatifnya menjadi jauh lebih terbatas.

Apa contoh asesmen formatif yang paling sederhana?

Pertanyaan lisan, exit ticket, refleksi satu menit, kuis tiga soal, atau meminta siswa menjelaskan kembali sebuah konsep dapat menjadi asesmen formatif sederhana. Teknik yang dipilih harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang sedang diperiksa.

Apa perbedaan utama asesmen formatif dan sumatif?

Asesmen formatif digunakan terutama untuk memperbaiki pembelajaran ketika proses belajar masih berlangsung. Asesmen sumatif lebih berfokus pada penilaian pencapaian setelah suatu unit atau periode pembelajaran selesai.

Penutup

Asesmen formatif membantu guru mengetahui perkembangan peserta didik ketika masih ada kesempatan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Bentuknya tidak terbatas pada tes, tetapi dapat berupa pertanyaan, observasi, kuis, refleksi, exit ticket, portofolio, penilaian diri, hingga tugas praktik.

Kualitas asesmen formatif tidak ditentukan oleh banyaknya soal atau angka yang dihasilkan. Hal yang lebih penting adalah apakah guru memperoleh bukti belajar, memberikan umpan balik yang jelas, dan menggunakan informasi tersebut untuk menentukan pembelajaran berikutnya.

Guru dapat memulainya dari cara sederhana: tetapkan tujuan, pilih bukti yang ingin diamati, lihat pola kesalahan siswa, lalu lakukan tindak lanjut. Untuk informasi atau perangkat pendidikan yang dapat berubah, pendidik dapat memeriksa kembali portal resmi Kemendikdasmen agar tetap mengikuti layanan dan panduan yang berlaku.

Artikel terkait