Membaca catatan berkali-kali sering membuat materi terasa semakin familiar, tetapi belum tentu dapat dijelaskan kembali ketika buku ditutup. Teknik Blurting menawarkan pendekatan berbeda: setelah mempelajari suatu topik, kamu mencoba menuliskan sebanyak mungkin informasi yang masih dapat diingat tanpa melihat sumber belajar.
Hasil tulisan tersebut kemudian dibandingkan dengan buku, modul, atau catatan asli. Bagian yang terlupakan, kurang lengkap, atau keliru menjadi petunjuk tentang materi yang perlu dipelajari kembali.
Teknik ini cocok untuk pelajar dan mahasiswa yang menghadapi materi berbasis konsep, istilah, urutan proses, hubungan sebab-akibat, hingga persiapan ujian. Blurting juga tidak membutuhkan aplikasi khusus. Kertas kosong dan sumber materi sudah cukup untuk memulainya.
Namun, blurting bukan sekadar menulis semua yang terlintas dalam pikiran. Supaya efektif, proses mengingat, memeriksa, memperbaiki, dan mengulang perlu dilakukan secara terarah.
Apa Itu Teknik Blurting?
Teknik Blurting adalah metode belajar dengan mencoba mengeluarkan kembali informasi dari ingatan setelah mempelajari suatu materi.
Caranya sederhana. Kamu membaca dan memahami materi terlebih dahulu, menutup sumber belajar, kemudian menuliskan semua hal yang masih dapat diingat tentang topik tersebut.
Setelah selesai, tulisan dibandingkan dengan materi asli.
Dari proses tersebut, kamu dapat mengetahui tiga kondisi:
-
Informasi yang sudah dikuasai, yaitu bagian yang mampu dijelaskan kembali dengan benar.
-
Informasi yang belum lengkap, yaitu bagian yang masih dapat diingat tetapi ada unsur penting yang hilang.
-
Informasi yang keliru atau terlupakan, yaitu bagian yang perlu dipelajari kembali.
Nama "blurting" menggambarkan proses mengeluarkan informasi dari ingatan secara spontan. Karena itu, pada tahap awal kamu tidak perlu membuat catatan yang rapi.
Yang lebih penting adalah mengetahui seberapa banyak informasi yang benar-benar dapat dipanggil kembali tanpa bantuan buku.
Sebagai contoh, setelah mempelajari sistem tata surya, kamu menutup buku dan menulis:
"Matahari merupakan pusat tata surya. Planet mengelilingi Matahari. Ada planet dalam dan planet luar. Merkurius paling dekat dengan Matahari."
Setelah dibandingkan dengan materi, mungkin kamu menemukan bahwa penjelasan tentang perbedaan planet dalam dan planet luar belum lengkap.
Bagian tersebut menjadi prioritas untuk dipelajari kembali.
Mengapa Blurting Berbeda dari Membaca Berulang?
Membaca ulang dapat membuat kalimat terasa familiar. Masalahnya, rasa familiar tidak selalu menunjukkan bahwa suatu informasi dapat dijelaskan tanpa melihat teks.
Ketika buku masih terbuka, jawaban terlihat mudah.
Situasinya berbeda saat menghadapi soal ujian yang meminta kamu menjelaskan konsep tanpa bantuan catatan.
Blurting mengubah arah proses belajar. Alih-alih terus memasukkan informasi dengan membaca, kamu mencoba mengeluarkan informasi yang sudah tersimpan.
Perbedaan sederhananya dapat dilihat berikut ini.
| Aspek | Membaca Berulang | Teknik Blurting |
|---|---|---|
| Aktivitas utama | Membaca kembali materi | Mengingat tanpa melihat materi |
| Sumber belajar | Biasanya tetap terbuka | Ditutup sementara |
| Pemeriksaan pemahaman | Tidak selalu terlihat | Terlihat dari hasil tulisan |
| Kesalahan | Bisa tidak disadari | Dibandingkan dengan sumber asli |
| Fokus pengulangan | Materi secara luas | Bagian yang belum dikuasai |
Bukan berarti membaca ulang harus sepenuhnya ditinggalkan. Membaca tetap diperlukan ketika pertama kali memahami konsep atau ketika hasil blurting menunjukkan adanya bagian yang masih salah.
Perbedaannya, pembacaan ulang dilakukan secara selektif, bukan otomatis mengulang seluruh halaman.
Baca Juga: Cara Menggunakan Google Docs untuk Mengerjakan Tugas Sekolah dan Kuliah
Cara Melakukan Teknik Blurting dengan Benar
Blurting dapat dilakukan menggunakan buku tulis, kertas kosong, papan tulis kecil, atau dokumen digital.
Untuk pemula, kertas kosong sering lebih praktis karena perhatian tidak terganggu oleh pengaturan tampilan atau aplikasi.
Berikut tahapan yang dapat digunakan.
1. Pilih satu materi yang cukup spesifik
Jangan langsung mencoba melakukan blurting untuk satu buku atau satu mata pelajaran penuh.
Pilih satu topik, misalnya:
-
Struktur sel.
-
Sistem pernapasan.
-
Teori permintaan dan penawaran.
-
Unsur intrinsik cerpen.
-
Proses fotosintesis.
-
Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan.
-
Jenis-jenis jaringan komputer.
Topik yang lebih kecil membuat hasil pengujian lebih mudah diperiksa.
2. Pelajari materi sampai memahami gambaran dasarnya
Baca materi secara normal terlebih dahulu.
Pada tahap ini, tujuanmu bukan menghafalkan setiap kalimat, tetapi memahami konsep, istilah utama, hubungan antarbagian, serta urutan jika materi berbentuk proses.
Kamu boleh membuat catatan singkat jika diperlukan.
Namun, hindari langsung melakukan blurting setelah sekadar melihat judul tanpa memahami isinya. Teknik ini berfungsi untuk menguji apa yang sudah dipelajari, bukan menebak materi yang belum pernah dipahami.
3. Tutup semua sumber belajar
Setelah selesai mempelajari satu bagian, tutup buku, modul, catatan, slide, atau halaman materi.
Jangan melihat jawaban ketika mulai menulis.
Tahap ini penting karena tujuan blurting adalah mengetahui informasi yang benar-benar dapat kamu keluarkan dari ingatan.
4. Tulis semua yang masih kamu ingat
Gunakan selembar kertas kosong dan tuliskan sebanyak mungkin informasi tentang topik tersebut.
Tidak harus berbentuk paragraf.
Kamu dapat menggunakan:
-
Poin-poin.
-
Diagram.
-
Mind map sederhana.
-
Urutan proses.
-
Definisi.
-
Rumus.
-
Contoh.
-
Hubungan sebab-akibat.
Misalnya, topiknya adalah fotosintesis.
Hasil blurting awal mungkin seperti ini:
-
Terjadi pada tumbuhan.
-
Memerlukan cahaya.
-
Membutuhkan air dan karbon dioksida.
-
Menghasilkan glukosa.
-
Berhubungan dengan klorofil.
-
Menghasilkan oksigen.
Jangan terlalu memikirkan kerapian pada tahap ini. Fokuslah pada informasi yang dapat diingat tanpa bantuan.
5. Bandingkan dengan sumber belajar
Setelah merasa tidak ada lagi informasi yang dapat ditulis, buka kembali sumber materi.
Bandingkan satu per satu.
Gunakan tanda sederhana, misalnya:
-
✓ untuk informasi yang benar.
-
△ untuk informasi yang benar tetapi kurang lengkap.
-
× untuk informasi yang salah.
-
untuk konsep penting yang sama sekali belum ditulis.
-
Langkah ini membuat kekurangan belajar terlihat secara konkret.
6. Pelajari bagian yang masih lemah
Jangan langsung membaca ulang semuanya.
Fokuskan perhatian pada bagian bertanda △, ×, dan +.
Jika kamu sudah dapat menjelaskan fungsi klorofil dengan benar tetapi lupa tahapan tertentu dalam proses fotosintesis, pelajari bagian yang terlupakan tersebut.
Strategi ini membuat waktu belajar lebih terarah.
7. Lakukan blurting kembali
Setelah mempelajari kekurangan, tutup sumber sekali lagi dan coba tuliskan kembali informasi dari ingatan.
Bandingkan hasil pertama dan kedua.
Tujuan pengulangan bukan menghasilkan catatan yang semakin indah, melainkan memperkecil bagian yang salah atau terlupakan.
Baca Juga: Cara Membuat Daftar Pustaka Otomatis di Microsoft Word dengan Mudah
Contoh Teknik Blurting untuk Materi Pelajaran
Supaya lebih mudah memahami alurnya, anggap seorang siswa sedang mempelajari materi peredaran darah manusia.
Setelah membaca buku, siswa menutup sumber belajar dan menuliskan:
Hasil Blurting Pertama:
-
Jantung memompa darah.
-
Ada arteri dan vena.
-
Darah membawa oksigen.
-
Sel darah merah membawa oksigen.
-
Peredaran darah dibagi menjadi besar dan kecil.
-
Arteri membawa darah keluar dari jantung.
-
Vena membawa darah menuju jantung.
Setelah dibandingkan dengan materi, siswa menemukan bahwa beberapa informasi penting belum ditulis, seperti fungsi kapiler dan jalur peredaran darah kecil.
Ia kemudian mempelajari dua bagian tersebut.
Pada percobaan berikutnya, siswa mencoba menulis:
Hasil Blurting Kedua:
-
Jantung memompa darah ke seluruh tubuh.
-
Arteri membawa darah menjauhi jantung.
-
Vena membawa darah menuju jantung.
-
Kapiler menjadi tempat pertukaran zat antara darah dan jaringan.
-
Peredaran darah kecil berlangsung antara jantung dan paru-paru.
-
Peredaran darah besar berlangsung antara jantung dan bagian tubuh lainnya.
Perubahan antara hasil pertama dan kedua menunjukkan bagian mana yang sudah membaik.
Yang perlu diperhatikan, siswa tidak harus menulis persis seperti kalimat di buku. Selama maknanya benar dan konsepnya dapat dijelaskan, penggunaan bahasa sendiri justru membantu menunjukkan bahwa materi telah dipahami.
Cara Mengetahui Blurting Berhasil atau Tidak
Banyak siswa keliru mengukur keberhasilan belajar berdasarkan jumlah halaman yang sudah dibaca.
Pada blurting, ukuran yang lebih berguna adalah kemampuan menjelaskan materi tanpa bantuan.
Setelah selesai, tanyakan beberapa hal berikut:
-
Apakah saya dapat menyebutkan konsep utama tanpa melihat buku?
-
Apakah saya dapat menjelaskan hubungan antar konsep?
-
Apakah ada istilah yang masih tertukar?
-
Apakah urutan proses yang saya tulis sudah benar?
-
Apakah saya hanya mengingat kata kunci tetapi tidak memahami maknanya?
-
Apakah kesalahan dari percobaan sebelumnya sudah berkurang?
Misalnya, kamu dapat mengingat bahwa mitosis memiliki beberapa fase, tetapi tidak mampu menjelaskan urutannya.
Artinya, materi tersebut belum sepenuhnya dikuasai.
Sebaliknya, jika kamu mampu menjelaskan setiap fase, urutan, dan perubahan penting yang terjadi menggunakan bahasa sendiri, pemahaman sudah lebih kuat.
Blurting dengan demikian berfungsi bukan hanya sebagai kegiatan menghafal, tetapi sebagai alat diagnosis belajar.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Blurting
Teknik yang terlihat sederhana tetap dapat menjadi tidak efektif jika digunakan dengan cara yang salah.
Langsung melihat catatan ketika lupa
Ketika baru beberapa detik tidak menemukan jawaban, sebagian pelajar langsung membuka buku.
Kebiasaan tersebut menghilangkan fungsi utama blurting.
Berikan waktu beberapa saat untuk mencoba mengingat. Jika tetap tidak muncul, barulah tandai bagian tersebut sebagai materi yang perlu dipelajari kembali.
Menyalin materi sebelum blurting
Menyalin satu halaman kemudian langsung menulis kembali dari ingatan dapat membuat aktivitas terasa seperti latihan menyalin.
Lebih baik pahami isi materi terlebih dahulu, kemudian beri jeda singkat sebelum mencoba mengingatnya.
Menghafalkan bentuk kalimat
Tujuan blurting bukan meniru susunan kata dari buku.
Jika definisi dapat dijelaskan menggunakan bahasa sendiri tanpa mengubah maknanya, itu biasanya lebih berguna daripada sekadar mengingat satu kalimat secara persis.
Pengecualian dapat berlaku pada istilah, rumus, simbol, kutipan, atau definisi tertentu yang memang harus digunakan secara tepat.
Melakukan blurting untuk materi terlalu luas
Topik seperti "Biologi kelas XI" terlalu besar.
Pecah menjadi bagian kecil, misalnya sistem pernapasan, sistem pencernaan, atau mekanisme pertukaran gas.
Tidak memeriksa hasil
Menulis dari ingatan saja belum cukup.
Tanpa membandingkannya dengan sumber yang benar, kamu berisiko mempertahankan informasi yang keliru.
Baca Juga: Cara Menggunakan Google Classroom untuk Guru dan Siswa: Panduan Lengkap 2026
Blurting Cocok untuk Materi Apa?
Blurting paling mudah digunakan pada materi yang memiliki informasi yang dapat dijelaskan kembali.
Contohnya meliputi:
-
Biologi, untuk mengingat fungsi organ, proses, klasifikasi, dan istilah.
-
Sejarah, untuk mengingat kronologi, tokoh, sebab, dan akibat peristiwa.
-
Geografi, untuk memahami fenomena, proses, serta hubungan antarkonsep.
-
Ekonomi, untuk mengingat konsep sekaligus hubungan sebab-akibat.
-
Bahasa Indonesia, untuk memahami struktur, ciri, dan kaidah suatu jenis teks.
-
Materi perkuliahan, terutama teori yang memiliki banyak konsep dan istilah.
Teknik ini tetap dapat digunakan pada matematika, fisika, atau mata kuliah kuantitatif, tetapi penggunaannya perlu disesuaikan.
Misalnya, setelah mempelajari persamaan kuadrat, kamu dapat melakukan blurting untuk mengingat:
-
Bentuk umum persamaan kuadrat.
-
Makna diskriminan.
-
Rumus yang berkaitan.
-
Kondisi akar.
-
Langkah dasar penyelesaian.
Namun, kemampuan mengingat rumus tidak cukup untuk menguasai matematika.
Setelah blurting, kamu tetap perlu mengerjakan latihan soal untuk membangun kemampuan menerapkan konsep.
Blurting, Active Recall, dan Feynman Technique: Apa Bedanya?
Beberapa metode belajar terlihat serupa karena sama-sama mendorong pembelajar untuk tidak hanya membaca secara pasif.
Namun, fokus penggunaannya berbeda.
Blurting menekankan pada menuliskan sebanyak mungkin informasi yang dapat diingat tanpa melihat materi.
Active recall merupakan pendekatan yang lebih luas dalam mencoba memanggil kembali informasi dari ingatan. Bentuknya dapat berupa menjawab pertanyaan, flashcard, kuis, latihan soal, maupun blurting.
Sementara Feynman Technique lebih menekankan kemampuan menjelaskan suatu konsep dengan bahasa sederhana, seolah-olah sedang menerangkannya kepada orang lain.
Artinya, blurting dapat dipandang sebagai salah satu bentuk latihan mengingat aktif.
Ketiganya bahkan dapat digabungkan.
Contohnya:
-
Gunakan blurting untuk menemukan materi yang terlupakan.
-
Buat pertanyaan dari bagian yang masih lemah.
-
Jawab pertanyaan tersebut tanpa melihat catatan.
-
Jelaskan konsep sulit menggunakan bahasa sederhana.
-
Periksa kembali dengan sumber belajar.
Dengan cara ini, setiap metode memiliki fungsi yang berbeda dalam satu rangkaian belajar.
Cara Membuat Blurting Lebih Efisien
Melakukan blurting pada seluruh isi buku setiap hari tentu melelahkan.
Kuncinya adalah memilih materi yang memang perlu diuji.
Gunakan satu lembar untuk satu topik
Memberikan satu halaman khusus untuk satu konsep membuat perkembangan belajar lebih mudah dilihat.
Misalnya:
Topik: Sistem Pernapasan
Kemudian bagi halaman menjadi:
-
Konsep yang sudah ingat.
-
Bagian yang terlupa.
-
Bagian yang salah.
-
Materi untuk dipelajari kembali.
Gunakan warna setelah selesai, bukan saat mengingat
Jangan terlalu sibuk memilih warna ketika sedang melakukan blurting.
Tuliskan informasi terlebih dahulu.
Warna dapat digunakan setelah pemeriksaan, misalnya untuk membedakan jawaban benar, kurang lengkap, dan salah.
Jangan mengejar jumlah tulisan
Satu halaman penuh belum tentu menunjukkan pemahaman lebih baik daripada setengah halaman yang tepat.
Perhatikan kualitas informasi.
Tulisan yang berisi definisi, hubungan, proses, dan contoh biasanya memberikan gambaran pemahaman yang lebih baik dibandingkan daftar istilah tanpa penjelasan.
Buat pertanyaan dari bagian yang salah
Bagian yang terus terlupakan dapat diubah menjadi pertanyaan.
Misalnya kamu berulang kali lupa fungsi mitokondria.
Buat pertanyaan:
Apa fungsi utama mitokondria dalam sel?
Gunakan pertanyaan tersebut ketika belajar kembali.
Beri jeda sebelum menguji kembali
Tidak semua pengulangan harus dilakukan beberapa menit kemudian.
Kamu dapat kembali menguji materi pada kesempatan belajar berikutnya untuk mengetahui apakah informasi masih dapat diingat setelah tidak melihatnya selama beberapa waktu.
Baca Juga: Cara Membuat Video Pembelajaran dengan AI untuk Guru dan Siswa
Kapan Blurting Kurang Cocok Digunakan?
Blurting bukan metode universal untuk seluruh aktivitas belajar.
Ada beberapa kondisi ketika teknik lain lebih sesuai.
Jika materi benar-benar baru dan sulit dipahami, jangan memaksa diri mengingat sesuatu yang belum dimengerti. Pelajari konsep dasarnya terlebih dahulu melalui buku, penjelasan guru atau dosen, contoh, atau diskusi.
Blurting juga tidak menggantikan praktik.
Untuk pelajaran seperti:
-
Matematika.
-
Pemrograman.
-
Akuntansi.
-
Statistik.
-
Bahasa asing.
-
Praktikum laboratorium.
-
Keterampilan olahraga.
Mengingat teori hanya salah satu bagian dari proses belajar.
Seseorang dapat mengetahui semua tahap membuat program komputer tetapi tetap kesulitan menulis kode jika tidak pernah berlatih.
Karena itu, gunakan blurting untuk materi yang perlu diingat dan dipahami, kemudian lengkapi dengan latihan yang sesuai karakter pelajaran.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa yang dimaksud dengan teknik Blurting?
Teknik Blurting adalah cara belajar dengan menutup sumber materi lalu menuliskan sebanyak mungkin informasi yang masih dapat diingat. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan sumber asli untuk menemukan bagian yang benar, kurang lengkap, terlupakan, atau salah.
Apakah Blurting sama dengan active recall?
Tidak sepenuhnya sama. Active recall merupakan pendekatan yang lebih luas untuk mencoba mengambil informasi dari ingatan, sedangkan blurting adalah salah satu cara melakukannya melalui kegiatan menuliskan informasi yang dapat diingat.
Apakah Blurting cocok untuk persiapan ujian?
Bisa, terutama untuk menguji penguasaan materi berbasis konsep, definisi, proses, dan hubungan antar informasi. Untuk ujian yang membutuhkan perhitungan atau penerapan konsep, blurting sebaiknya dikombinasikan dengan latihan soal.
Berapa kali Blurting harus dilakukan?
Tidak ada jumlah yang harus sama untuk setiap materi. Ulangi terutama pada bagian yang masih sering terlupakan atau salah hingga kamu mampu menjelaskannya dengan benar tanpa bergantung pada catatan.
Apakah Blurting harus menggunakan tulisan tangan?
Tidak harus. Blurting dapat dilakukan melalui tulisan tangan, dokumen digital, papan tulis, atau bentuk lain yang memungkinkan kamu mencatat informasi tanpa melihat sumber. Pilih media yang paling sedikit mengganggu konsentrasi.
Penutup
Teknik Blurting dapat membantu membuat kegiatan belajar lebih terarah karena kamu tidak hanya membaca materi, tetapi juga menguji apa yang benar-benar masih dapat diingat. Prosesnya dimulai dengan mempelajari satu topik, menutup sumber belajar, menuliskan informasi dari ingatan, lalu membandingkan hasilnya dengan materi asli.
Bagian yang salah atau terlupakan kemudian menjadi prioritas untuk dipelajari kembali. Cara ini dapat mengurangi kebiasaan membaca ulang seluruh materi tanpa mengetahui bagian mana yang sebenarnya masih lemah.
Mulailah dari satu subbab kecil dan gunakan kertas kosong untuk mencoba blurting pertama. Setelah itu, kombinasikan dengan latihan soal, diskusi, atau metode belajar lain sesuai jenis mata pelajaran agar pemahaman tidak berhenti pada kemampuan mengingat informasi.