Membaca catatan berkali-kali sering membuat materi terasa sudah dikuasai, padahal informasi tersebut belum tentu dapat diingat saat ujian. Masalahnya bukan selalu terletak pada kurangnya waktu belajar, melainkan pada cara otak dilatih untuk mengambil kembali informasi.
Teknik active recall membantu pelajar dan mahasiswa belajar dengan mencoba mengingat materi tanpa langsung melihat buku, catatan, atau jawaban. Proses ini membuat kegiatan belajar lebih aktif karena kamu harus menjawab pertanyaan, menjelaskan konsep, menuliskan informasi, atau mengerjakan latihan berdasarkan ingatan sendiri.
Metode ini dapat digunakan untuk berbagai mata pelajaran, mulai dari sejarah, biologi, bahasa, matematika, hingga materi perkuliahan. Namun, active recall bukan sekadar menghafal jawaban. Teknik ini perlu diterapkan dengan pertanyaan yang tepat, pemeriksaan hasil, perbaikan kesalahan, dan jadwal pengulangan yang teratur agar materi benar-benar dipahami serta tersimpan lebih lama.
Apa Itu Teknik Active Recall?
Active recall adalah teknik belajar yang dilakukan dengan memanggil kembali informasi dari ingatan tanpa melihat sumber materi terlebih dahulu. Sederhananya, kamu menutup buku lalu mencoba menjawab pertanyaan berdasarkan apa yang masih diingat.
Misalnya, setelah mempelajari sistem pernapasan manusia, kamu tidak langsung membaca ulang seluruh bab. Kamu dapat menutup buku dan menjawab pertanyaan seperti:
-
Apa fungsi alveolus?
-
Bagaimana urutan masuknya udara ke paru-paru?
-
Apa perbedaan pernapasan dada dan pernapasan perut?
-
Mengapa pertukaran oksigen terjadi di alveolus?
Ketika mencoba menjawab, otak harus mencari informasi yang sebelumnya dipelajari. Usaha mengambil informasi itulah yang menjadi inti active recall.
Jawaban yang belum lengkap bukan berarti kegiatan belajar gagal. Kesulitan mengingat justru menunjukkan bagian mana yang belum dikuasai sehingga waktu belajar dapat diarahkan pada materi yang benar-benar membutuhkan perhatian.
Active recall berbeda dari membaca ulang. Saat membaca, informasi tersedia di depan mata sehingga terasa mudah dikenali. Saat melakukan active recall, kamu harus menghasilkan jawaban sendiri tanpa bantuan langsung.
Baca Juga: Cara Menulis Kesimpulan yang Baik dan Benar untuk Makalah, Skripsi, dan Artikel
Mengapa Active Recall Membantu Materi Lebih Mudah Diingat?
Otak tidak hanya perlu menerima informasi, tetapi juga perlu berlatih menemukan kembali informasi tersebut. Semakin sering proses pengambilan informasi dilakukan dengan benar, semakin mudah materi dipanggil ketika dibutuhkan.
Teknik ini membantu kegiatan belajar melalui beberapa cara.
Mengubah belajar pasif menjadi aktif
Membaca dan menandai teks tidak selalu membuat pembaca benar-benar memahami materi. Kamu mungkin merasa familiar dengan sebuah halaman karena sudah melihatnya beberapa kali, tetapi belum tentu mampu menjelaskan isinya.
Active recall memaksa kamu mengolah informasi. Kamu harus menyusun jawaban, menghubungkan konsep, dan mengenali bagian yang terlupakan.
Menunjukkan kekurangan pemahaman
Saat hanya membaca ulang, bagian yang belum dipahami sering tidak terlihat. Kalimat di buku dapat terasa masuk akal karena penjelasannya tersedia.
Ketika buku ditutup, kamu akan mengetahui apakah konsep tersebut benar-benar dapat dijelaskan. Jika jawaban terhenti, terlalu umum, atau keliru, bagian itu perlu dipelajari kembali.
Melatih kesiapan menghadapi soal
Ujian pada dasarnya meminta siswa mengambil informasi dari ingatan dan menggunakannya untuk menjawab pertanyaan. Active recall melatih proses yang serupa.
Latihan ini tidak harus selalu berbentuk pilihan ganda. Pertanyaan uraian, latihan menjelaskan, peta konsep kosong, dan soal studi kasus juga dapat digunakan.
Membantu mengurangi pengulangan yang tidak perlu
Tanpa evaluasi, siswa sering menghabiskan waktu membaca semua materi dari awal. Padahal, sebagian materi mungkin sudah dikuasai.
Dengan active recall, kamu dapat membedakan materi yang sudah kuat, masih samar, dan belum dipahami. Waktu belajar kemudian difokuskan pada bagian yang masih lemah.
Perbedaan Active Recall dan Belajar Pasif
Active recall sering disamakan dengan membaca ulang atau membuat rangkuman. Padahal, ketiganya memiliki fungsi berbeda.
| Metode belajar | Kegiatan utama | Kelemahan yang perlu diperhatikan |
|---|---|---|
| Membaca ulang | Membaca materi yang sama beberapa kali | Dapat menimbulkan rasa familiar tanpa kemampuan menjelaskan |
| Menandai teks | Memberi warna pada bagian penting | Siswa dapat menandai terlalu banyak bagian tanpa memproses isinya |
| Membuat rangkuman | Menulis ulang gagasan penting | Bisa berubah menjadi kegiatan menyalin apabila tidak menggunakan kalimat sendiri |
| Active recall | Mengambil informasi dari ingatan tanpa melihat sumber | Membutuhkan usaha lebih besar dan pemeriksaan jawaban |
| Latihan soal | Menerapkan konsep untuk menjawab masalah | Kurang efektif jika hanya menghafal pola jawaban |
Membaca, mencatat, dan menandai teks tidak harus ditinggalkan. Ketiganya tetap berguna pada tahap awal untuk mengenali materi. Namun, kegiatan tersebut sebaiknya dilanjutkan dengan latihan mengambil kembali informasi.
Sebagai contoh, kamu dapat membaca satu subbab selama 15 menit, menutup buku, lalu menuliskan lima hal yang masih diingat. Setelah itu, bandingkan tulisan tersebut dengan materi asli.
Cara Menerapkan Active Recall saat Belajar
Active recall tidak memerlukan alat khusus. Buku catatan, lembar kosong, kartu pertanyaan, atau dokumen digital sudah cukup untuk memulainya.
1. Pelajari materi dalam bagian kecil
Jangan langsung mencoba mengingat satu bab panjang. Bagi materi menjadi beberapa bagian, misalnya satu konsep, satu subbab, atau satu kelompok rumus.
Pembagian materi membuat pertanyaan lebih terarah dan memudahkan kamu menemukan bagian yang belum dipahami.
2. Tutup sumber belajar
Setelah membaca dan memahami satu bagian, tutup buku, catatan, presentasi, atau video pembelajaran. Jangan melihat jawaban ketika sedang mencoba mengingat.
Kamu boleh membuka kembali sumber setelah selesai menjawab untuk memeriksa hasil.
3. Buat pertanyaan berdasarkan materi
Ubah judul dan konsep penting menjadi pertanyaan. Hindari pertanyaan yang hanya meminta satu kata apabila materi sebenarnya membutuhkan pemahaman.
Contoh pertanyaan kurang mendalam:
-
Apa itu fotosintesis?
Pertanyaan tersebut dapat dikembangkan menjadi:
-
Apa yang dimaksud dengan fotosintesis?
-
Bahan apa saja yang dibutuhkan tumbuhan dalam fotosintesis?
-
Di bagian mana proses fotosintesis berlangsung?
-
Mengapa cahaya memengaruhi proses fotosintesis?
-
Apa hasil utama fotosintesis?
Dengan beberapa pertanyaan, kamu dapat menguji definisi, proses, sebab, dan hubungan antarkonsep.
4. Jawab menggunakan ingatan sendiri
Tuliskan atau ucapkan jawaban tanpa melihat sumber. Gunakan kalimat sendiri agar terlihat apakah kamu memahami gagasan tersebut atau hanya mengingat susunan kata dari buku.
Untuk materi yang berbentuk proses, coba jelaskan urutannya. Untuk materi hitungan, kerjakan soal tanpa menyalin contoh. Untuk materi bahasa, buat contoh kalimat baru.
5. Periksa dan tandai kesalahan
Buka kembali sumber belajar, lalu bandingkan jawabanmu. Tandai bagian yang:
-
Sudah benar dan lengkap.
-
Benar tetapi belum lengkap.
-
Masih tertukar dengan konsep lain.
-
Tidak dapat diingat.
-
Dipahami secara keliru.
Pemeriksaan jawaban tidak boleh dilewatkan. Mengulang jawaban yang salah tanpa koreksi dapat membuat kesalahan semakin melekat.
6. Perbaiki jawaban dengan penjelasan singkat
Jangan langsung membaca ulang seluruh bab ketika menemukan kesalahan. Pelajari bagian yang relevan, kemudian tulis perbaikannya secara singkat.
Setelah beberapa menit, tutup kembali materi dan jawab pertanyaan yang sama. Tujuannya bukan menyalin jawaban, melainkan memastikan perbaikan sudah dipahami.
7. Ulangi pada waktu berbeda
Materi yang berhasil dijawab hari ini belum tentu tetap diingat minggu depan. Karena itu, lakukan pengulangan pada beberapa jarak waktu.
Kamu dapat mencoba pola sederhana berikut:
-
Pengulangan pertama: setelah selesai mempelajari materi.
-
Pengulangan kedua: satu hari kemudian.
-
Pengulangan ketiga: tiga hari kemudian.
-
Pengulangan keempat: satu minggu kemudian.
-
Pengulangan berikutnya: disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan jadwal ujian.
Jarak tersebut tidak harus diterapkan secara kaku. Materi yang sulit dapat diulang lebih sering, sedangkan materi yang sudah kuat dapat diberi jarak lebih panjang.
Baca Juga: Cara Menulis Daftar Pustaka yang Benar Sesuai PUEBI/EYD V dan APA Style 7
Bentuk Latihan Active Recall yang Bisa Digunakan
Active recall tidak hanya dilakukan menggunakan kartu pertanyaan. Bentuk latihan dapat disesuaikan dengan jenis materi dan kebiasaan belajar.
Menjawab pertanyaan tanpa melihat catatan
Tuliskan beberapa pertanyaan setelah membaca materi. Pada sesi berikutnya, jawab pertanyaan tersebut sebelum membuka buku.
Cara ini cocok untuk mata pelajaran yang banyak memuat definisi, konsep, proses, tokoh, dan peristiwa.
Menulis semua yang masih diingat
Siapkan kertas kosong, lalu tuliskan seluruh informasi yang kamu ingat tentang satu topik. Setelah selesai, bandingkan tulisan dengan sumber asli.
Teknik ini membantu melihat hubungan antargagasan sekaligus menemukan bagian yang hilang.
Menjelaskan materi dengan suara
Cobalah menjelaskan materi seolah-olah sedang mengajar teman. Penjelasan dapat dilakukan sendiri, direkam, atau disampaikan kepada kelompok belajar.
Apabila kamu sering berhenti, menggunakan istilah yang tidak jelas, atau tidak dapat memberikan contoh, pemahamanmu mungkin masih perlu diperkuat.
Membuat peta konsep kosong
Buat kerangka peta konsep tanpa isi, kemudian lengkapi berdasarkan ingatan. Misalnya, tuliskan topik “Sistem Pemerintahan Indonesia” di tengah, lalu isi lembaga, fungsi, dan hubungan kewenangannya.
Peta konsep membantu menguji struktur informasi, bukan hanya definisi terpisah.
Mengerjakan soal latihan
Soal latihan termasuk bentuk active recall apabila dikerjakan tanpa melihat jawaban atau contoh penyelesaian. Setelah selesai, periksa langkah dan alasan di balik jawaban tersebut.
Untuk soal hitungan, jangan hanya melihat hasil akhir. Periksa pemilihan rumus, penggantian nilai, satuan, serta proses perhitungan.
Menggunakan kartu pertanyaan
Bagian depan kartu berisi pertanyaan, istilah, gambar, atau kasus. Bagian belakang berisi jawaban singkat dan penjelasan.
Kartu pertanyaan cocok untuk kosakata, rumus, istilah ilmiah, tanggal penting, dan konsep yang perlu diulang secara berkala. Namun, jangan membuat jawaban terlalu panjang karena kartu akan sulit digunakan.
Contoh Active Recall untuk Berbagai Materi
Cara menggunakan active recall perlu disesuaikan dengan karakter setiap mata pelajaran.
Contoh untuk pelajaran sejarah
Materi: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Pertanyaan yang dapat digunakan:
-
Apa peristiwa yang melatarbelakangi penyusunan teks proklamasi?
-
Siapa saja yang terlibat dalam penyusunannya?
-
Di mana teks proklamasi dirumuskan?
-
Mengapa terdapat perbedaan pendapat antara golongan muda dan golongan tua?
-
Apa dampak proklamasi bagi pembentukan pemerintahan Indonesia?
Pertanyaan terakhir lebih mendalam daripada sekadar menghafal tanggal karena meminta siswa memahami akibat suatu peristiwa.
Contoh untuk pelajaran matematika
Materi: Persamaan linear satu variabel.
Latihan yang kurang tepat adalah menghafal urutan penyelesaian tanpa mengetahui alasan setiap langkah. Latihan yang lebih baik adalah mengerjakan beberapa bentuk soal dan menjelaskan mengapa operasi yang sama harus dilakukan pada kedua ruas.
Contoh pertanyaan:
-
Apa tujuan memindahkan suatu bilangan dari satu ruas ke ruas lain?
-
Mengapa kedua ruas harus diperlakukan sama?
-
Bagaimana cara memeriksa apakah nilai variabel sudah benar?
Setelah memperoleh jawaban, masukkan kembali nilai variabel ke persamaan awal untuk memeriksa hasil.
Contoh untuk pelajaran bahasa
Materi: Kalimat efektif.
Kamu dapat mencoba menyebutkan ciri kalimat efektif, lalu memperbaiki kalimat yang boros atau tidak logis.
Contoh kurang tepat:
“Para siswa-siswa diminta untuk agar segera berkumpul bersama.”
Perbaikannya:
“Para siswa diminta segera berkumpul.”
Latihan tersebut lebih bermanfaat daripada hanya menghafal definisi karena kamu harus mengenali kesalahan dan memperbaikinya.
Contoh untuk mahasiswa
Materi: Teori komunikasi organisasi.
Mahasiswa dapat menutup modul lalu menjawab:
-
Apa gagasan utama teori tersebut?
-
Masalah apa yang berusaha dijelaskan?
-
Apa perbedaannya dengan teori lain?
-
Bagaimana teori tersebut digunakan untuk menganalisis komunikasi dalam kepanitiaan?
-
Apa keterbatasannya?
Pertanyaan penerapan dan perbandingan membantu mencegah pembelajaran yang hanya berpusat pada hafalan istilah.
Active Recall dan Spaced Repetition, Apa Bedanya?
Active recall dan spaced repetition sering digunakan bersamaan, tetapi keduanya bukan konsep yang sama.
Active recall berkaitan dengan cara belajar, yaitu mencoba mengambil informasi dari ingatan. Spaced repetition berkaitan dengan waktu pengulangan, yaitu mengulang materi pada jarak tertentu.
Contohnya, kamu menjawab kartu pertanyaan tanpa melihat jawaban. Kegiatan menjawab tersebut adalah active recall. Ketika kartu yang sama diulang besok, tiga hari lagi, dan satu minggu kemudian, pengaturan waktunya termasuk spaced repetition.
Kombinasi keduanya dapat dilakukan dengan langkah berikut:
-
Buat pertanyaan setelah mempelajari materi.
-
Jawab pertanyaan tanpa melihat catatan.
-
Tandai tingkat penguasaan setiap pertanyaan.
-
Ulangi pertanyaan sulit lebih cepat.
-
Beri jarak lebih panjang untuk pertanyaan yang sudah mudah.
-
Tetap lakukan pemeriksaan agar kesalahan tidak diulang.
Tidak semua materi harus dimasukkan ke dalam kartu digital. Soal uraian, latihan praktik, diskusi, dan simulasi tetap diperlukan untuk materi yang menuntut penalaran atau keterampilan.
Baca Juga: Cara Menulis Surat Resmi yang Baik dan Benar: Struktur, Format, Kaidah, dan Contohnya
Kesalahan Umum saat Menggunakan Active Recall
Active recall dapat menjadi kurang efektif apabila diterapkan secara terburu-buru atau hanya mengejar jumlah pertanyaan.
Membuka jawaban terlalu cepat
Sebagian siswa langsung melihat catatan ketika merasa sedikit kesulitan. Akibatnya, otak tidak mendapatkan kesempatan cukup untuk mencari informasi.
Berikan waktu beberapa saat untuk berpikir. Namun, jangan memaksakan diri terlalu lama jika materi memang belum pernah dipahami.
Membuat pertanyaan terlalu mudah
Pertanyaan seperti “Apa kepanjangan dari…?” berguna untuk fakta tertentu, tetapi tidak cukup untuk menguji pemahaman.
Tambahkan pertanyaan yang meminta perbandingan, alasan, hubungan sebab-akibat, contoh, dan penerapan.
Menghafal bentuk soal
Siswa dapat terlihat lancar menjawab karena sudah mengenali urutan pertanyaan, bukan karena memahami materi. Masalah ini sering terjadi ketika kartu selalu dipelajari dalam susunan yang sama.
Acak urutan pertanyaan dan ubah bentuk soal. Gunakan kasus baru untuk melihat apakah konsep dapat diterapkan.
Tidak memeriksa jawaban
Active recall tanpa koreksi berisiko mempertahankan kesalahan. Jawaban yang terasa benar belum tentu sesuai konsep.
Gunakan buku pelajaran, catatan guru, modul perkuliahan, atau sumber akademik yang relevan untuk memeriksa hasil.
Memasukkan terlalu banyak informasi dalam satu kartu
Satu kartu yang berisi penjelasan sangat panjang akan sulit diingat dan dievaluasi. Pecah materi menjadi beberapa pertanyaan yang fokus.
Namun, jangan memecahnya terlalu kecil sampai hubungan antarkonsep hilang. Selingi pertanyaan fakta dengan pertanyaan yang meminta penjelasan menyeluruh.
Menggunakan active recall untuk materi yang belum dipahami
Teknik ini bukan pengganti penjelasan awal. Jika kamu belum memahami konsep dasar, pelajari materinya terlebih dahulu melalui buku, penjelasan guru, video pembelajaran, atau diskusi.
Active recall digunakan setelah ada informasi yang cukup untuk diambil kembali dari ingatan.
Cara Menyusun Jadwal Active Recall
Jadwal belajar tidak perlu rumit. Hal yang lebih penting adalah konsistensi dan penyesuaian berdasarkan kesulitan materi.
Berikut contoh jadwal untuk materi yang dipelajari pada hari Senin:
-
Senin: membaca materi dan melakukan recall pertama.
-
Selasa: menjawab pertanyaan tanpa catatan.
-
Kamis: mengulang pertanyaan yang masih salah.
-
Minggu: mengerjakan latihan campuran.
-
Minggu berikutnya: melakukan tes singkat tanpa bantuan.
-
Menjelang ujian: menggabungkan materi lama dan baru.
Hindari mempelajari satu topik dalam sesi yang terlalu panjang. Sesi 20–40 menit dengan tujuan jelas sering lebih mudah dijalankan daripada belajar berjam-jam tanpa evaluasi.
Kamu juga dapat membagi pertanyaan menjadi tiga kategori:
-
Belum dikuasai: jawaban salah atau tidak dapat diingat.
-
Perlu diperkuat: jawaban benar tetapi belum lengkap.
-
Sudah kuat: jawaban benar, jelas, dan dapat diterapkan.
Materi pada kategori pertama harus mendapatkan lebih banyak waktu. Materi yang sudah kuat tetap perlu ditinjau, tetapi tidak harus diulang sesering materi yang masih lemah.
Tips agar Active Recall Tidak Terasa Membebani
Teknik ini memang membutuhkan usaha mental lebih besar daripada membaca ulang. Rasa sulit bukan selalu tanda bahwa metode tersebut tidak cocok.
Mulailah dengan jumlah pertanyaan yang terbatas. Lima sampai sepuluh pertanyaan yang berkualitas lebih berguna daripada puluhan kartu yang dibuat terburu-buru.
Gunakan bahasa sendiri ketika menjawab. Kamu tidak harus mengingat susunan kalimat dalam buku, kecuali materi tersebut memang menuntut kutipan, istilah, rumus, atau definisi tertentu.
Gabungkan active recall dengan kegiatan lain, seperti:
-
Membaca penjelasan sebelum membuat pertanyaan.
-
Berdiskusi untuk membandingkan pemahaman.
-
Mengerjakan soal dengan tingkat kesulitan berbeda.
-
Membuat contoh baru.
-
Mempraktikkan keterampilan di laboratorium atau lapangan.
-
Meminta umpan balik guru atau dosen.
Beristirahatlah ketika konsentrasi menurun. Menambah jumlah pertanyaan saat sudah kelelahan dapat membuat pemeriksaan jawaban kurang teliti.
Baca Juga: Cara Membuat Proposal : Struktur, Jenis, Format Penulisan, dan Contoh
Cara Menilai Apakah Active Recall Berhasil
Keberhasilan active recall tidak hanya diukur dari banyaknya kartu yang selesai dijawab. Perhatikan perubahan kemampuanmu dari waktu ke waktu.
Beberapa tanda bahwa metode ini berjalan dengan baik adalah:
-
Kamu dapat menjelaskan materi tanpa membaca catatan.
-
Jawaban menjadi lebih lengkap setelah beberapa pengulangan.
-
Kesalahan yang sama semakin jarang muncul.
-
Kamu dapat menghubungkan satu konsep dengan konsep lain.
-
Kamu mampu menjawab soal dalam bentuk yang berbeda.
-
Waktu yang diperlukan untuk mengingat informasi menjadi lebih singkat.
-
Kamu dapat memberikan contoh sendiri.
-
Materi lama masih dapat diingat ketika mempelajari topik baru.
Lakukan tes singkat secara berkala. Campurkan pertanyaan lama dan baru agar hasilnya tidak hanya menunjukkan ingatan jangka pendek.
Apabila kamu selalu benar pada kartu, tetapi kesulitan mengerjakan soal ujian, kemungkinan pertanyaannya terlalu sederhana. Tingkatkan latihan dengan soal penerapan, analisis kasus, perbandingan, atau penjelasan terbuka.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah active recall sama dengan menghafal?
Tidak sepenuhnya. Active recall dapat digunakan untuk mengingat fakta, tetapi juga bisa melatih pemahaman, penerapan, perbandingan, dan analisis. Hasilnya bergantung pada jenis pertanyaan yang digunakan.
Berapa lama sebaiknya melakukan active recall?
Durasi dapat disesuaikan dengan jumlah materi dan kemampuan konsentrasi. Sesi sekitar 20–40 menit dapat digunakan sebagai titik awal, kemudian diikuti istirahat singkat dan evaluasi hasil.
Apakah active recall cocok untuk semua mata pelajaran?
Teknik ini dapat diterapkan pada hampir semua mata pelajaran, tetapi bentuk latihannya perlu disesuaikan. Materi konsep dapat menggunakan pertanyaan, sedangkan matematika, olahraga, seni, dan praktik laboratorium tetap membutuhkan latihan langsung.
Apakah boleh menggunakan aplikasi kartu belajar?
Boleh, selama aplikasi digunakan untuk menjawab sebelum melihat jawaban. Aplikasi hanya membantu menyimpan dan menjadwalkan pertanyaan, sedangkan kualitas belajar tetap ditentukan oleh isi pertanyaan, pemeriksaan, dan pemahaman pengguna.
Mengapa materi masih lupa meskipun sudah memakai active recall?
Lupa dapat terjadi karena pengulangan terlalu jarang, pertanyaan terlalu mudah, materi belum dipahami, atau jawaban tidak pernah diperiksa. Perbaiki jadwal, gunakan variasi soal, dan ulangi bagian yang masih lemah pada jarak waktu yang sesuai.
Penutup
Teknik active recall membantu pelajar dan mahasiswa belajar dengan mengambil kembali informasi dari ingatan, bukan hanya membaca materi secara berulang. Metode ini dapat dimulai dengan langkah sederhana: pelajari bagian kecil, tutup sumber, jawab pertanyaan, periksa kesalahan, lalu ulangi pada waktu berbeda.
Hasil belajar akan lebih terasa ketika pertanyaan tidak hanya menguji definisi, tetapi juga alasan, proses, perbandingan, contoh, dan penerapan. Active recall juga sebaiknya dipadukan dengan latihan soal, diskusi, praktik, serta spaced repetition agar pemahaman tetap terjaga.
Mulailah dari satu materi yang sedang dipelajari dan buat beberapa pertanyaan penting. Dari hasil jawaban tersebut, kamu dapat menentukan bagian yang sudah dikuasai dan bagian yang perlu dipelajari kembali.