Cara Menulis Daftar Pustaka yang Benar Sesuai PUEBI/EYD V dan APA Style 7

Cara Menulis Daftar Pustaka yang Benar Sesuai PUEBI/EYD V dan APA Style 7
Foto: Ilustrasi Cara Menulis Daftar Pustaka yang Benar Sesuai PUEBI/EYD V dan APA Style 7.

Daftar pustaka sering dianggap sebagai bagian yang mudah karena ditempatkan di akhir tulisan. Kenyataannya, kesalahan nama penulis, tahun, tanda baca, huruf miring, hingga urutan sumber masih sering ditemukan dalam tugas sekolah dan karya ilmiah.

Memahami cara menulis daftar pustaka yang benar sesuai PUEBI dan APA Style membantu penulis menunjukkan asal informasi secara jelas. Pembaca juga dapat menemukan kembali buku, jurnal, laporan, atau halaman web yang digunakan.

Ada satu pembaruan istilah yang perlu dipahami. PUEBI bukan lagi pedoman ejaan terbaru yang berlaku. Pada 16 Agustus 2022, Badan Bahasa menetapkan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi Kelima atau EYD V dan mencabut ketentuan PUEBI sebelumnya. Karena istilah PUEBI masih banyak digunakan dalam pencarian dan percakapan, pembahasan ini tetap menyebutkannya sambil memakai EYD V sebagai acuan mutakhir.

EYD V dan APA Style memiliki fungsi berbeda. EYD V mengatur penulisan bahasa Indonesia, sedangkan APA Style mengatur sistem kutipan dan susunan informasi sumber. Keduanya perlu diterapkan secara bersamaan agar daftar pustaka rapi, mudah diperiksa, dan sesuai kebutuhan akademik.

Apa yang Dimaksud dengan Daftar Pustaka?

Daftar pustaka adalah daftar sumber yang digunakan sebagai rujukan dalam sebuah tulisan. Sumber tersebut dapat berupa buku, artikel jurnal, laporan, skripsi, tesis, berita, dokumen lembaga, maupun halaman website.

Dalam APA Style, bagian ini lebih tepat disebut daftar referensi karena hanya memuat sumber yang benar-benar dirujuk dalam isi tulisan. Setiap sumber yang dikutip dalam teks harus mempunyai pasangan pada daftar referensi, kecuali jenis komunikasi tertentu yang memang tidak dapat ditemukan kembali oleh pembaca.

Daftar pustaka mempunyai beberapa fungsi:

  • Menunjukkan asal informasi. Pembaca dapat membedakan gagasan penulis dengan informasi yang berasal dari pihak lain.

  • Memudahkan pemeriksaan sumber. Identitas yang lengkap membantu pembaca menemukan buku, jurnal, atau dokumen yang digunakan.

  • Menghargai penulis asli. Pencantuman rujukan memberikan pengakuan kepada pihak yang menghasilkan gagasan, data, atau hasil penelitian.

  • Menguatkan pembahasan. Tulisan yang didukung sumber relevan memiliki dasar yang lebih jelas daripada pendapat tanpa rujukan.

  • Mencegah pengakuan gagasan orang lain sebagai milik sendiri. Penggunaan kata, gagasan, atau gambar pihak lain tanpa pengakuan yang layak dapat termasuk plagiarisme.

Daftar pustaka bukan sekadar formalitas pada halaman terakhir. Ketepatan penulisannya menunjukkan bahwa proses membaca dan penggunaan sumber dilakukan secara tertib.

Perbedaan Fungsi EYD V dan APA Style

Judul “daftar pustaka sesuai PUEBI” sering menimbulkan anggapan bahwa pedoman ejaan menentukan seluruh urutan penulisan sumber. Anggapan tersebut kurang tepat.

EYD V mengatur penggunaan huruf, penulisan kata, tanda baca, serta penulisan unsur serapan dalam bahasa Indonesia. Pedoman ini membantu penulis menentukan huruf kapital, huruf miring, tanda titik, tanda koma, dan bentuk kata yang benar.

Sementara itu, APA Style menentukan unsur sumber, urutannya, bentuk nama penulis, penulisan tahun, judul, penerbit, nama jurnal, volume, DOI, URL, hingga hubungan antara kutipan dalam teks dan daftar referensi. Pedoman resmi APA menjelaskan bahwa entri referensi dibangun dari empat unsur utama, yaitu penulis, tanggal, judul, dan sumber.

Perbedaannya dapat diringkas sebagai berikut.

Pedoman Bagian yang Diatur Contoh Penerapan
EYD V Ejaan bahasa Indonesia, huruf kapital, huruf miring, kata, dan tanda baca Penulisan judul bahasa Indonesia, nama lembaga, serta tanda baca dalam kalimat
APA Style Kutipan, unsur referensi, urutan informasi, dan format daftar referensi Nama belakang penulis, tahun dalam kurung, judul, penerbit, DOI, serta hanging indent
Pedoman lembaga Tata letak tugas yang berlaku di sekolah atau kampus Ukuran huruf, jarak spasi, nama bagian, dan format sampul

Apabila guru, dosen, sekolah, kampus, atau jurnal mempunyai pedoman khusus, ketentuan tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu. Beberapa lembaga mengadaptasi APA Style ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengikuti seluruh format aslinya.

Baca Juga: Teks Deskripsi: Pengertian, Ciri, Struktur, Jenis, dan Contohnya Lengkap

Unsur Utama Daftar Pustaka APA Style

Cara sederhana mengingat susunan referensi APA adalah menggunakan pola siapa, kapan, apa, dan di mana.

1. Penulis atau Siapa

Bagian pertama menunjukkan pihak yang bertanggung jawab terhadap karya. Penulis dapat berupa individu, beberapa individu, organisasi, lembaga pemerintah, atau perusahaan.

Nama penulis individu ditulis dengan mendahulukan nama keluarga atau bagian nama yang diperlakukan sebagai nama belakang, kemudian diikuti inisial.

Contoh:

Pratama, R.

Untuk dua penulis, gunakan tanda ampersand sebelum nama terakhir:

Pratama, R., & Lestari, N. A.

Urutan penulis harus mengikuti sumber asli. Jangan mengubah urutannya berdasarkan abjad karena posisi nama dapat menunjukkan pembagian kontribusi.

2. Tahun atau Kapan

Tahun penerbitan ditulis setelah nama penulis dan ditempatkan dalam tanda kurung.

Contoh:

Pratama, R. (2025).

Untuk berita atau halaman web yang mencantumkan tanggal lengkap, tuliskan tahun, bulan, dan tanggal sesuai format APA.

Jika tahun tidak tersedia, gunakan keterangan n.d. yang berarti no date. Dalam tugas berbahasa Indonesia, beberapa lembaga mengizinkan “tanpa tahun”, tetapi penggunaannya harus mengikuti pedoman yang ditetapkan.

3. Judul atau Apa

Judul menunjukkan nama karya yang digunakan. Bentuk huruf miring ditentukan berdasarkan jenis sumber.

Judul buku, laporan, skripsi, tesis, dan halaman web umumnya dicetak miring. Judul artikel jurnal atau bab buku tidak dicetak miring karena karya tersebut merupakan bagian dari terbitan yang lebih besar.

Dalam APA Style, judul buku dan artikel menggunakan sentence case. Huruf kapital digunakan pada kata pertama judul, kata pertama setelah titik dua, dan nama diri.

Contoh:

Strategi belajar mandiri untuk siswa sekolah menengah

Bukan:

Strategi Belajar Mandiri untuk Siswa Sekolah Menengah

4. Sumber atau Di Mana

Bagian sumber menunjukkan tempat karya diterbitkan atau ditemukan.

Sumber dapat berupa:

  • Nama penerbit untuk buku.

  • Nama jurnal, volume, nomor, dan halaman untuk artikel ilmiah.

  • Nama website dan URL untuk halaman daring.

  • Nama repositori dan URL untuk skripsi atau tesis.

  • Nama lembaga untuk laporan.

  • DOI untuk artikel yang mempunyai identitas digital permanen.

Empat unsur tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk yang sama. Format akhirnya menyesuaikan jenis sumber yang digunakan.

Aturan Umum Daftar Pustaka APA Style 7

APA Style menggunakan beberapa ketentuan tata letak agar daftar referensi mudah dibaca.

Disusun Berdasarkan Abjad

Sumber diurutkan berdasarkan nama belakang penulis pertama. Jika penulisnya adalah organisasi, gunakan nama organisasi tersebut untuk menentukan urutan.

Nomor urut tidak diperlukan dalam daftar referensi APA. Penulisan langsung dimulai dari nama penulis.

Menggunakan Hanging Indent

Baris pertama setiap referensi dimulai dari margin kiri. Baris kedua dan seterusnya menjorok ke dalam sebesar 0,5 inci atau sekitar 1,27 sentimeter.

Format tersebut disebut hanging indent. Pedoman resmi APA juga menetapkan spasi ganda pada seluruh bagian daftar referensi dalam naskah yang menggunakan format APA penuh.

Pada Microsoft Word, format ini dapat dibuat melalui pengaturan Paragraph, kemudian memilih Special: Hanging.

Nama Penulis Menggunakan Inisial

Nama depan dan nama tengah tidak ditulis secara lengkap. Gunakan nama belakang, koma, lalu inisial.

Contoh:

Nama asli: Ratna Ayu Lestari
Penulisan: Lestari, R. A.

Untuk sumber dengan maksimal 20 penulis, semua nama dicantumkan dalam daftar referensi. Jika terdapat 21 penulis atau lebih, tuliskan 19 nama pertama, tambahkan elipsis, lalu nama penulis terakhir tanpa ampersand sebelum nama terakhir.

Setiap Sumber Diakhiri Tanda Titik

Sebagian besar unsur referensi dipisahkan menggunakan tanda titik. Namun, tanda titik tidak ditambahkan setelah DOI atau URL karena dapat dianggap sebagai bagian dari alamat ketika disalin.

DOI Ditulis sebagai Tautan

DOI digunakan apabila tersedia karena menjadi pengenal permanen untuk karya digital. Penulisannya menggunakan bentuk tautan DOI, bukan diawali keterangan “DOI:” atau “doi:”.

Jika artikel tidak memiliki DOI dan diperoleh dari halaman web terbuka, URL dapat dicantumkan sesuai ketentuan jenis sumber. Aturan DOI dan URL dijelaskan secara khusus dalam pedoman APA.

Tanggal Akses Tidak Selalu Diperlukan

Tanggal akses hanya digunakan ketika isi halaman dirancang untuk berubah dari waktu ke waktu dan versi lamanya tidak diarsipkan.

Sebagian besar artikel, berita, buku elektronik, dan dokumen PDF tidak membutuhkan tanggal akses.

Cara Menulis Daftar Pustaka dari Buku

Format umum buku dengan satu penulis adalah:

Nama belakang, Inisial. (Tahun). Judul buku. Penerbit.

Contoh berikut menggunakan data rekaan:

Pratama, R. (2024). Strategi belajar mandiri untuk siswa. Pustaka Cendekia.

Nama kota penerbit tidak dicantumkan dalam APA Style edisi ketujuh. Informasi edisi atau volume ditempatkan setelah judul dalam tanda kurung dan tidak dicetak miring.

Contoh buku edisi kedua:

Lestari, N. A. (2025). Dasar-dasar penulisan akademik (Edisi ke-2). Media Ilmu.

Untuk dua penulis:

Wijaya, D. P., & Rahmawati, S. (2023). Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Lentera Pendidikan.

Jika penulis dan penerbit merupakan organisasi yang sama, nama organisasi tetap dicantumkan sebagai penulis, sedangkan nama penerbit dapat dihilangkan untuk menghindari pengulangan.

Cara Menulis Daftar Pustaka dari Artikel Jurnal

Format dasarnya adalah:

Nama belakang, Inisial. (Tahun). Judul artikel. Nama Jurnal, volume(nomor), halaman. DOI

Contoh:

Lestari, A. N., & Wijaya, D. P. (2025). Kebiasaan membaca dan kemampuan menulis siswa sekolah menengah. Jurnal Pendidikan Bahasa, 14(2), 115–129. https://doi.org/10.xxxx/xxxxx

Pada contoh tersebut:

  • Judul artikel tidak dicetak miring.

  • Nama jurnal dicetak miring.

  • Nomor volume dicetak miring.

  • Nomor terbitan ditempatkan dalam kurung dan tidak dicetak miring.

  • Rentang halaman ditulis setelah nomor terbitan.

  • DOI dicantumkan pada bagian akhir jika tersedia.

Jika artikel memakai nomor artikel dan tidak memiliki rentang halaman, gunakan nomor artikel yang tercantum pada sumber.

Baca Juga: Teks Observasi: Pengertian, Ciri-Ciri, Struktur, Tujuan, dan Contohnya Lengkap

Cara Menulis Daftar Pustaka dari Website

Format halaman website adalah:

Penulis. (Tahun, Bulan Tanggal). Judul halaman. Nama Website. URL

Contoh:

Kurniawan, T. (2026, April 12). Cara membangun kebiasaan membaca di rumah. Portal Literasi Pelajar. [URL langsung halaman]

Jika penulisnya berupa lembaga:

Pusat Literasi Sekolah. (2026, May 8). Panduan kegiatan membaca sebelum pembelajaran. [URL langsung halaman]

Nama website tidak perlu diulang apabila sama dengan nama penulis organisasi.

Jangan menggunakan alamat halaman utama apabila informasi diambil dari halaman yang lebih khusus. URL perlu mengarah sedekat mungkin ke dokumen atau artikel yang digunakan.

Jika halaman tidak mencantumkan nama penulis individu, periksa apakah organisasi pengelola dapat digunakan sebagai penulis. Jangan langsung menuliskan “Anonim” hanya karena nama seseorang tidak tersedia.

Cara Menulis Daftar Pustaka dari Artikel Berita Online

Format berita online berbeda dari halaman website biasa karena nama media diperlakukan sebagai nama terbitan.

Formatnya:

Nama belakang, Inisial. (Tahun, Bulan Tanggal). Judul berita. Nama Media. URL

Contoh:

Hidayat, M. (2026, July 18). Sekolah memperluas program membaca 15 menit. Harian Pendidikan. [URL berita]

Judul berita tidak dicetak miring, sedangkan nama media dicetak miring.

Apabila berita tidak memiliki nama penulis, judul berita dipindahkan ke posisi penulis. Urutan referensi kemudian ditentukan berdasarkan kata pertama yang bermakna dalam judul.

Cara Menulis Daftar Pustaka dari Skripsi atau Tesis

Format skripsi atau tesis bergantung pada status publikasinya.

Untuk karya yang tersedia melalui repositori:

Nama belakang, Inisial. (Tahun). Judul karya [Jenis karya, Nama perguruan tinggi]. Nama Repositori. URL

Contoh:

Wulandari, S. (2025). Hubungan kebiasaan membaca dengan kemampuan menulis argumentasi siswa [Skripsi sarjana, Universitas Cakrawala]. Repositori Universitas Cakrawala. [URL dokumen]

Keterangan dalam tanda kurung siku membantu pembaca mengenali jenis karya dan institusi asalnya.

Skripsi atau tesis yang tidak tersedia melalui repositori menggunakan format berbeda karena termasuk karya yang tidak dipublikasikan. Pedoman resmi APA membedakan referensi untuk karya yang diterbitkan dan tidak diterbitkan.

Cara Menulis Daftar Pustaka dari Laporan Lembaga

Laporan dapat ditulis oleh individu maupun organisasi.

Format laporan organisasi:

Nama organisasi. (Tahun). Judul laporan (Nomor laporan jika tersedia). Penerbit. URL

Contoh:

Pusat Kajian Pendidikan. (2025). Laporan kebiasaan membaca pelajar 2025 (Laporan No. 12). Lembaga Cendekia. [URL laporan]

Jika organisasi penulis juga menjadi penerbit, nama penerbit tidak perlu diulang.

Untuk laporan pemerintah, gunakan nama lembaga yang tercantum sebagai pihak yang bertanggung jawab. Hindari menebak nama penulis berdasarkan pejabat yang menandatangani kata pengantar.

Hubungan Kutipan dalam Teks dengan Daftar Pustaka

Daftar pustaka tidak dapat dipisahkan dari kutipan dalam teks. APA Style menggunakan sistem penulis dan tahun.

Ada dua bentuk kutipan utama.

Kutipan Naratif

Nama penulis menjadi bagian dari kalimat.

Contoh:

Pratama (2024) menjelaskan bahwa kebiasaan belajar terbentuk melalui kegiatan yang dilakukan secara konsisten.

Kutipan dalam Kurung

Nama penulis dan tahun ditempatkan dalam tanda kurung.

Contoh:

Kebiasaan belajar dapat dibentuk melalui kegiatan yang dilakukan secara konsisten (Pratama, 2024).

Untuk tiga penulis atau lebih, kutipan dalam teks menggunakan nama penulis pertama diikuti et al. sejak penyebutan pertama. Ketentuan ini berbeda dari daftar referensi yang dapat memuat hingga 20 nama penulis.

Kutipan langsung juga memerlukan nomor halaman apabila tersedia.

Contoh:

“Pembiasaan membaca perlu dilakukan melalui jadwal yang dapat diterapkan secara realistis” (Pratama, 2024, p. 27).

Setelah kutipan tersebut digunakan, sumber lengkap Pratama harus tersedia dalam daftar pustaka.

Penerapan EYD V dalam Daftar Pustaka

EYD V tetap digunakan ketika sumber atau keterangan ditulis dalam bahasa Indonesia.

Penerapannya terlihat pada beberapa bagian berikut:

  • Huruf kapital. Nama orang, lembaga, kota, dan unsur nama diri ditulis dengan huruf kapital.

  • Huruf miring. Judul buku, nama jurnal, dan kata asing tertentu dicetak miring sesuai fungsi serta gaya referensi yang digunakan.

  • Tanda titik. Tanda titik memisahkan unsur penulis, tahun, judul, dan sumber dalam referensi.

  • Tanda koma. Tanda koma digunakan untuk memisahkan nama belakang dengan inisial serta beberapa unsur publikasi.

  • Tanda kurung. Tahun, edisi, nomor terbitan, dan deskripsi karya dapat ditempatkan dalam tanda kurung sesuai format.

  • Nama lembaga. Nama resmi organisasi harus dipertahankan dan tidak diterjemahkan secara sembarangan.

Judul sumber tidak perlu diterjemahkan hanya agar sesuai dengan bahasa tulisan. Pertahankan judul sebagaimana tercantum pada karya asli, kecuali pedoman lembaga meminta terjemahan dalam tanda kurung siku.

Baca Juga: Teks Argumentasi: Pengertian, Struktur, Ciri-Ciri, Tujuan, Jenis, dan Contohnya

Langkah-Langkah Membuat Daftar Pustaka

Daftar pustaka lebih mudah disusun apabila informasi sumber dicatat sejak awal pengerjaan tugas.

1. Catat Sumber Saat Membaca

Jangan menunggu sampai makalah selesai. Catat nama penulis, tahun, judul, penerbit, nama jurnal, volume, halaman, DOI, dan URL ketika sumber pertama kali digunakan.

2. Tentukan Jenis Sumber

Periksa apakah sumber berupa buku, jurnal, berita, laporan, skripsi, atau halaman website.

Jenis sumber menentukan bagian yang dicetak miring dan informasi yang perlu dicantumkan.

3. Cari Sumber Asli

Jangan membuat referensi berdasarkan kutipan yang ditemukan dalam artikel lain jika sumber aslinya masih dapat diperoleh.

Menggunakan sumber asli mengurangi risiko kesalahan nama, tahun, judul, dan konteks informasi.

4. Susun Empat Unsur Dasar

Temukan penulis, tanggal, judul, dan sumber. Jika salah satu informasi tidak tersedia, gunakan aturan untuk informasi yang hilang, bukan menebaknya.

Pedoman APA menyediakan penyesuaian khusus untuk sumber tanpa penulis, tanpa tanggal, atau tanpa judul.

5. Cocokkan dengan Kutipan

Periksa setiap kutipan dalam isi tulisan. Pastikan nama penulis dan tahun memiliki pasangan pada daftar pustaka.

Lakukan pula pemeriksaan sebaliknya. Hapus sumber yang tidak pernah dirujuk apabila tugas menggunakan sistem daftar referensi APA.

6. Urutkan Berdasarkan Abjad

Urutkan berdasarkan nama belakang penulis pertama atau nama organisasi.

Jika penulis yang sama memiliki beberapa karya, urutkan berdasarkan tahun dari yang lebih lama menuju yang lebih baru.

7. Terapkan Hanging Indent

Gunakan fitur paragraf pada aplikasi pengolah kata. Jangan membuat inden dengan menekan tombol spasi berulang kali karena tata letaknya mudah berubah.

8. Periksa Format Akhir

Periksa huruf miring, kapitalisasi, tanda baca, DOI, URL, dan konsistensi gaya. Satu daftar pustaka tidak sebaiknya mencampurkan APA, MLA, dan format lain.

Kesalahan Umum dan Cara Memperbaikinya

Kesalahan daftar pustaka sering terjadi karena penulis hanya menyalin tampilan sumber tanpa menyesuaikannya dengan jenis referensi.

Kesalahan Cara Memperbaiki
Menulis nama depan secara lengkap Gunakan nama belakang dan inisial sesuai APA Style
Mengurutkan sumber berdasarkan waktu penggunaan Urutkan berdasarkan abjad nama penulis pertama
Menuliskan kota penerbit Hilangkan kota penerbit pada format APA Style 7
Semua kata dalam judul menggunakan kapital Gunakan sentence case untuk judul buku dan artikel
Menambahkan nomor urut Hapus nomor karena daftar referensi APA disusun langsung secara alfabetis
DOI ditulis sebagai teks biasa Gunakan bentuk tautan DOI
Tanggal akses dicantumkan pada semua website Gunakan hanya untuk halaman yang berubah dan tidak diarsipkan
Kutipan tidak memiliki sumber lengkap Tambahkan pasangan referensinya
Menulis URL halaman utama Gunakan URL langsung menuju halaman yang dirujuk
Membuat inden dengan spasi Gunakan fitur hanging indent

Kesalahan lain adalah mengandalkan aplikasi pembuat sitasi tanpa memeriksa hasilnya. Alat otomatis dapat membantu, tetapi informasi yang ditarik dari halaman web belum tentu lengkap atau ditempatkan pada kolom yang benar.

Baca Juga: Teks Narasi: Pengertian, Ciri, Struktur, Jenis, dan Contohnya Lengkap

Checklist Sebelum Mengumpulkan Tugas

Gunakan pertanyaan berikut untuk memeriksa daftar pustaka:

  • Apakah semua kutipan mempunyai sumber lengkap?

  • Apakah semua referensi benar-benar digunakan dalam tulisan?

  • Apakah nama dan tahun sama antara kutipan dengan daftar pustaka?

  • Apakah sumber sudah diurutkan berdasarkan abjad?

  • Apakah judul dan nama terbitan menggunakan huruf miring secara tepat?

  • Apakah volume jurnal dan nomor terbitan dapat dibedakan?

  • Apakah DOI atau URL mengarah ke sumber yang benar?

  • Apakah setiap entri memakai hanging indent?

  • Apakah format seluruh referensi konsisten?

  • Apakah pedoman sekolah atau kampus sudah diperiksa?

Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan setelah dokumen selesai agar perubahan kutipan selama penyuntingan tidak menimbulkan sumber yang tertinggal.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah PUEBI masih menjadi pedoman ejaan terbaru?

Tidak. PUEBI telah digantikan oleh EYD Edisi V sejak 16 Agustus 2022. Istilah PUEBI masih sering digunakan, tetapi acuan resmi bahasa Indonesia yang berlaku adalah EYD V.

Bagaimana urutan daftar pustaka menurut APA Style?

Urutan dasar setiap referensi adalah penulis, tahun, judul, dan sumber. Seluruh entri kemudian disusun berdasarkan abjad nama belakang penulis pertama.

Apakah daftar pustaka APA harus memakai nomor?

Tidak. Daftar referensi APA tidak menggunakan numbering karena sumber disusun secara alfabetis berdasarkan penulis.

Apakah semua website harus mencantumkan tanggal akses?

Tidak. Tanggal akses hanya dibutuhkan untuk halaman yang isinya dapat berubah dari waktu ke waktu dan tidak menyediakan arsip versi sebelumnya.

Bagaimana jika sumber tidak memiliki nama penulis?

Judul karya dipindahkan ke posisi penulis, kemudian diikuti tahun dan informasi sumber lainnya. Sebelum menggunakan cara tersebut, periksa apakah organisasi pengelola halaman dapat diperlakukan sebagai penulis.

Penutup

Cara menulis daftar pustaka yang benar membutuhkan dua ketelitian sekaligus. EYD V digunakan untuk menjaga ketepatan ejaan bahasa Indonesia, sedangkan APA Style mengatur susunan penulis, tahun, judul, sumber, serta hubungan referensi dengan kutipan dalam teks.

Mulailah dengan mengenali jenis sumber dan mencatat identitasnya sejak proses membaca. Setelah itu, susun berdasarkan pola penulis, tanggal, judul, dan sumber, lalu urutkan secara alfabetis serta terapkan hanging indent.

Jangan langsung mempercayai hasil aplikasi sitasi tanpa pemeriksaan. Cocokkan kembali nama, tahun, judul, DOI, URL, huruf miring, dan tanda baca dengan sumber asli. Latihan menggunakan beberapa jenis sumber akan membuat penyusunan daftar pustaka lebih cepat sekaligus mengurangi kesalahan pada tugas berikutnya.

Artikel terkait