Kata Baku dan Tidak Baku: Pengertian, Perbedaan, Ciri, dan Contohnya

Kata Baku dan Tidak Baku: Pengertian, Perbedaan, Ciri, dan Contohnya
Foto: Ilustrasi Kata Baku dan Tidak Baku: Pengertian, Perbedaan, Ciri, dan Contohnya.

Kata baku dan tidak baku sering terdengar hampir sama, tetapi penggunaannya dapat menghasilkan penilaian berbeda dalam tugas sekolah, surat resmi, laporan, hingga percakapan sehari-hari. Bentuk seperti praktik dan praktek, misalnya, sama-sama mudah dipahami, tetapi hanya salah satunya yang menjadi bentuk standar.

Kesulitan biasanya muncul karena bentuk tidak baku telah digunakan berulang kali dalam percakapan. Kata tersebut terasa wajar di telinga sehingga penulis tidak menyadari bahwa ejaannya berbeda dari bentuk yang tercatat sebagai standar.

Mengetahui perbedaannya membantu siswa menulis jawaban, makalah, laporan, dan pesan resmi secara lebih tertib. Pemahaman ini juga mencegah anggapan bahwa setiap kata yang sering digunakan masyarakat otomatis menjadi bentuk baku.

Acuan utama untuk memeriksa bentuk dan makna kata adalah KBBI VI Daring. Sementara itu, aturan penulisan seperti pemakaian huruf, tanda baca, dan penulisan unsur kata dapat diperiksa melalui Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi Kelima atau EYD V. KBBI VI Daring tercatat telah dimutakhirkan pada April 2026, sedangkan EYD V menjadi pedoman resmi penggunaan ejaan bahasa Indonesia.

Pengertian Kata Baku

Kata baku adalah kata yang bentuk, penulisan, dan penggunaannya mengikuti standar bahasa Indonesia yang telah ditetapkan melalui kamus serta pedoman kebahasaan.

Dalam KBBI, kata baku salah satunya bermakna tolok ukur yang berlaku untuk kuantitas atau kualitas berdasarkan kesepakatan. Dalam pembahasan bahasa, pengertian tersebut merujuk pada bentuk yang dijadikan standar bersama.

Kata baku biasanya digunakan dalam situasi resmi, pendidikan, karya ilmiah, dokumen pemerintahan, berita, pengumuman, surat dinas, dan komunikasi formal lainnya.

Contohnya adalah izin, aktivitas, praktik, risiko, dan sekadar. Bentuk-bentuk tersebut tercatat sebagai bentuk utama dalam KBBI, sedangkan variasi seperti ijin, aktifitas, praktek, resiko, dan sekedar diberi keterangan sebagai bentuk tidak baku.

Penggunaan kata baku tidak membuat tulisan harus terdengar kaku. Penulis tetap dapat menyusun kalimat yang sederhana dan natural selama kosakata, struktur, dan ejaannya sesuai dengan konteks.

Pengertian Kata Tidak Baku

Kata tidak baku adalah bentuk kata yang tidak mengikuti standar penulisan atau pembentukan kata yang berlaku dalam ragam bahasa resmi.

Bentuk tidak baku dapat muncul karena pengaruh pelafalan, bahasa daerah, kebiasaan percakapan, penyerapan yang belum tepat, atau penulisan yang terus diulang tanpa pemeriksaan.

Sebagai contoh, masyarakat sering mengucapkan silahkan karena bunyinya terasa akrab. Namun, bentuk standar yang tercatat dalam KBBI adalah silakan, sedangkan silahkan diberi label sebagai bentuk tidak baku.

Kata tidak baku tidak selalu membuat komunikasi gagal. Dalam percakapan santai, pesan singkat kepada teman, dialog tokoh, atau karya sastra, bentuk tersebut dapat digunakan untuk menggambarkan kedekatan, latar sosial, maupun cara bicara tertentu.

Masalah muncul ketika bentuk tidak baku digunakan dalam konteks yang menuntut ketepatan bahasa, seperti ujian, laporan, surat lamaran, karya ilmiah, atau dokumen resmi.

Ciri-Ciri Kata Baku dan Tidak Baku

Kata baku dan tidak baku dapat dikenali melalui sumber rujukan, bentuk penulisan, dan konteks penggunaannya.

Ciri-ciri kata baku meliputi:

  • Mengikuti bentuk yang tercatat sebagai lema utama dalam KBBI. Kata tersebut tidak diberi label sebagai bentuk tidak baku.

  • Penulisannya sesuai dengan kaidah ejaan. Susunan huruf, imbuhan, gabungan kata, dan tanda baca mengikuti pedoman resmi.

  • Tidak banyak dipengaruhi cara pengucapan daerah. Bentuknya dapat digunakan oleh penutur bahasa Indonesia dari berbagai wilayah.

  • Lazim dipakai dalam komunikasi resmi. Kata baku digunakan dalam buku pelajaran, surat dinas, berita, laporan, dan karya ilmiah.

  • Bentuknya relatif konsisten. Penulisannya tidak berubah hanya karena kebiasaan pengucapan dalam percakapan.

Sementara itu, kata tidak baku biasanya memiliki ciri berikut:

  • Terbentuk dari kebiasaan pelafalan. Contohnya, zaman sering diucapkan dan ditulis menjadi jaman.

  • Dipengaruhi bahasa daerah atau percakapan. Penggunaan sehari-hari dapat melahirkan bentuk yang berbeda dari standar.

  • Mengalami penghilangan atau penambahan huruf. Contohnya, silakan berubah menjadi silahkan.

  • Sering muncul dalam komunikasi informal. Bentuk tersebut lazim ditemukan dalam percakapan, pesan pribadi, atau dialog santai.

  • Diberi penanda tidak baku dalam kamus. KBBI dapat tetap menampilkan bentuk tersebut, tetapi mengarahkannya kepada bentuk standar.

Keberadaan sebuah kata dalam halaman KBBI tidak otomatis membuktikan bahwa kata itu baku. Pengguna harus membaca keterangannya karena bentuk tidak baku juga dapat dicantumkan agar pencari diarahkan menuju bentuk yang benar.

Baca Juga: Teks Eksplanasi: Pengertian, Ciri, Tujuan, Struktur, Kaidah Kebahasaan, dan Conto

Perbedaan Kata Baku dan Tidak Baku

Perbedaan keduanya tidak hanya terletak pada benar atau salahnya susunan huruf. Konteks, sumber rujukan, dan tujuan komunikasi juga perlu diperhatikan.

Aspek Kata Baku Kata Tidak Baku
Acuan Mengikuti KBBI dan kaidah ejaan Tidak mengikuti bentuk standar
Penggunaan Situasi resmi dan tulisan formal Percakapan santai atau situasi informal
Bentuk Relatif tetap dan konsisten Dapat berubah menurut kebiasaan pelafalan
Pengaruh Lebih netral dari pengaruh daerah Sering dipengaruhi dialek atau bahasa sehari-hari
Contoh aktivitas, izin, praktik aktifitas, ijin, praktek

Kata baku sebaiknya dipilih ketika tulisan akan dibaca oleh masyarakat luas atau dinilai berdasarkan ketepatan bahasa. Bentuknya membantu pembaca dari latar belakang berbeda memahami istilah yang sama.

Kata tidak baku lebih sesuai ketika penulis ingin mempertahankan suasana percakapan. Dalam dialog cerita, misalnya, tokoh dapat mengucapkan bentuk tidak baku untuk menunjukkan keakraban atau karakter tertentu.

Fungsi Penggunaan Kata Baku

Penggunaan kata baku bukan sekadar memenuhi aturan tugas sekolah. Bentuk standar memiliki fungsi praktis dalam komunikasi.

  • Menyatukan pemahaman. Pengguna bahasa dari berbagai daerah memiliki bentuk yang sama sebagai rujukan.

  • Mengurangi kesalahpahaman. Penulisan yang konsisten membuat makna kata lebih mudah dikenali.

  • Mendukung komunikasi resmi. Surat, laporan, pengumuman, dan dokumen memerlukan bentuk yang dapat dipertanggungjawabkan.

  • Membantu kegiatan pendidikan. Siswa dapat menggunakan acuan yang sama ketika membaca, menulis, dan mengerjakan soal.

  • Menjaga ketertiban tulisan. Penggunaan bentuk standar membuat dokumen terlihat lebih rapi dan mudah diperiksa.

  • Memudahkan pencarian informasi. Istilah yang konsisten membantu pembaca menemukan kata yang sama dalam kamus, indeks, dan sumber pembelajaran.

Kata baku bukan bentuk bahasa yang harus digunakan dalam semua percakapan. Pemilihan bahasa yang baik tetap mempertimbangkan situasi, lawan bicara, media, dan tujuan komunikasi.

Mengapa Kata Tidak Baku Sering Digunakan?

Bentuk tidak baku dapat bertahan lama karena lebih sering terdengar dalam komunikasi sehari-hari daripada bentuk standarnya.

Beberapa penyebabnya meliputi:

  • Pengaruh cara mengucapkan kata. Penutur cenderung menulis kata sesuai dengan bunyi yang mereka dengar.

  • Kebiasaan keluarga dan lingkungan. Bentuk yang terus digunakan di sekitar seseorang akan terasa benar meskipun berbeda dari standar.

  • Pengaruh bahasa daerah. Pola bunyi atau pembentukan kata daerah dapat terbawa ke dalam bahasa Indonesia.

  • Kesalahan yang diulang. Bentuk keliru dapat dianggap wajar setelah muncul berkali-kali dalam percakapan atau media sosial.

  • Penyesuaian kata serapan yang belum dipahami. Penutur memakai bentuk yang mendekati bahasa sumber, padahal bahasa Indonesia telah memiliki penulisan standar.

  • Jarang memeriksa kamus. Banyak orang menentukan kebakuan hanya berdasarkan bentuk yang paling sering mereka lihat.

Contohnya, zaman merupakan bentuk baku, sedangkan jaman diberi tanda sebagai bentuk tidak baku dalam KBBI. Namun, bentuk jaman masih sering ditemukan karena sesuai dengan pengucapan sebagian masyarakat.

Baca Juga: Teks Persuasi: Pengertian, Ciri, Struktur, Kaidah Kebahasaan, dan Contohnya

Contoh Kata Baku dan Tidak Baku

Berikut sejumlah pasangan kata yang sering dijumpai dalam tugas sekolah, tulisan, dan komunikasi sehari-hari.

Kata Baku Kata Tidak Baku
aktivitas aktifitas
analisis analisa
apotek apotik
asas azas
atlet atlit
diagnosis diagnosa
ekstrem ekstrim
foto poto
fotokopi fotocopy
frekuensi frekwensi
izin ijin
jadwal jadual
karier karir
kualitas kwalitas
kreativitas kreatifitas
metode metoda
merek merk
nasihat nasehat
nomor nomer
objek obyek
praktik praktek
provinsi propinsi
rapor raport
respons respon
risiko resiko
sekadar sekedar
silakan silahkan
sistem sistim
subjek subyek
teknik tehnik
terampil trampil
utang hutang
zaman jaman

Beberapa pasangan tersebut terlihat mirip karena hanya berbeda satu huruf. Karena itu, bentuk yang sering terdengar belum dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan kebakuan.

KBBI secara tegas mencatat aktivitas, izin, praktik, risiko, sekadar, silakan, dan zaman sebagai bentuk standar, sedangkan variasi pasangannya diberi label tidak baku.

Contoh dalam Kalimat

Tidak baku: Para siswa sedang melakukan aktifitas olahraga.

Baku: Para siswa sedang melakukan aktivitas olahraga.

Bentuk aktivitas digunakan karena menjadi lema utama dalam KBBI. Selain memperbaiki katanya, kalimat tersebut juga dapat disederhanakan menjadi “Para siswa sedang berolahraga.”

Tidak baku: Saya sudah meminta ijin kepada wali kelas.

Baku: Saya sudah meminta izin kepada wali kelas.

Kata izin menjadi bentuk standar, sedangkan ijin merupakan variasi tidak baku.

Tidak baku: Sekedar mengingatkan, tugas dikumpulkan besok.

Baku: Sekadar mengingatkan, tugas dikumpulkan besok.

Kata sekadar dibentuk dari kata kadar. Bentuk sekedar tercatat sebagai bentuk tidak baku.

Tidak baku: Silahkan mengisi daftar hadir.

Baku: Silakan mengisi daftar hadir.

Kata tersebut tidak memerlukan huruf h. Bentuk bakunya adalah silakan.

Baca Juga: Teks Argumentasi: Pengertian, Struktur, Ciri-Ciri, Tujuan, Jenis, dan Contohnya

Apakah Semua Kata dalam KBBI Pasti Baku?

Tidak semua bentuk yang dapat ditemukan melalui pencarian KBBI merupakan kata baku. Kamus juga mencantumkan bentuk tidak baku, variasi daerah, bahasa percakapan, istilah khusus, serta kata lama.

Keterangan yang menyertai sebuah lema harus dibaca dengan teliti. Apabila terdapat tulisan “bentuk tidak baku”, bentuk tersebut sebaiknya tidak digunakan dalam karya tulis formal.

Sebagai contoh, ketika pengguna mencari praktek, KBBI akan mengarahkan kepada praktik. Hal serupa terjadi pada resiko yang diarahkan kepada risiko serta sekedar yang diarahkan kepada sekadar.

Label lain juga perlu diperhatikan. Singkatan cak menunjukkan ragam percakapan, ark menandai bentuk arkais atau lama, sedangkan label bidang menunjukkan bahwa kata digunakan dalam disiplin tertentu.

Dengan demikian, cara mengecek kata tidak berhenti pada pertanyaan “Apakah kata ini ada di KBBI?” Pertanyaan yang lebih tepat adalah “Bagaimana status dan keterangan kata tersebut di KBBI?”

Perbedaan Fungsi KBBI dan EYD

KBBI dan EYD sering dianggap sebagai sumber yang sama, padahal keduanya memiliki fungsi berbeda.

KBBI digunakan untuk memeriksa bentuk kata, makna, kelas kata, pelafalan, dan informasi lain yang berkaitan dengan kosakata.

EYD digunakan untuk memeriksa aturan tata tulis, seperti huruf kapital, huruf miring, penulisan kata, tanda baca, singkatan, angka, dan unsur serapan. EYD V merupakan pemutakhiran dari pedoman ejaan sebelumnya dan memuat penambahan maupun perubahan kaidah yang disesuaikan dengan perkembangan bahasa Indonesia.

Sebagai gambaran, pertanyaan “Apakah bentuk yang benar risiko atau resiko?” diperiksa melalui KBBI. Sementara itu, pertanyaan “Apakah nama bahasa ditulis dengan huruf kapital?” diperiksa melalui EYD.

Kedua sumber tersebut saling melengkapi. Tulisan formal yang baik membutuhkan kosakata yang tepat sekaligus penerapan ejaan yang benar.

Cara Menentukan Kata Baku

Menentukan kata baku sebaiknya dilakukan melalui pemeriksaan, bukan hanya berdasarkan kebiasaan atau ingatan.

Berikut langkah-langkahnya:

  1. Tuliskan bentuk yang diragukan

    Catat dua atau beberapa variasi yang sering ditemukan, misalnya praktik dan praktek.

  2. Cari melalui KBBI VI Daring

    Gunakan kolom pencarian pada portal resmi KBBI. Perhatikan bentuk yang ditampilkan sebagai lema utama.

  3. Baca keterangan pada entri

    Jangan berhenti setelah menemukan kata. Periksa apakah terdapat label “bentuk tidak baku”, ragam percakapan, bahasa daerah, atau bidang tertentu.

  4. Periksa maknanya

    Dua kata yang mirip belum tentu memiliki arti sama. Pastikan kata yang dipilih sesuai dengan maksud kalimat.

  5. Periksa cara penulisannya melalui EYD

    Langkah ini diperlukan apabila keraguan berkaitan dengan huruf kapital, tanda baca, gabungan kata, kata depan, atau unsur serapan.

  6. Gunakan dalam kalimat

    Setelah menemukan bentuk yang benar, buat contoh kalimat agar kata tersebut lebih mudah diingat.

  7. Simpan daftar kesalahan pribadi

    Catat kata yang sering salah ditulis. Daftar singkat berdasarkan kesalahan sendiri biasanya lebih mudah dipelajari daripada menghafalkan ratusan pasangan sekaligus.

Cara tersebut juga membantu ketika sebuah bentuk terasa asing. Kata baku kadang jarang terdengar, tetapi tetap menjadi pilihan yang sesuai untuk komunikasi resmi.

Kesalahan Umum saat Mempelajari Kata Baku

Kesalahan pertama adalah menentukan bentuk baku berdasarkan frekuensi penggunaan. Kata yang sering muncul belum tentu menjadi bentuk standar.

Kesalahan kedua ialah menganggap bentuk yang terdengar lebih resmi pasti baku. Kata aktifitas, misalnya, terdengar formal, tetapi bentuk standarnya adalah aktivitas.

Kesalahan berikutnya adalah hanya mengandalkan pemeriksa ejaan otomatis. Sebuah aplikasi dapat melewatkan kesalahan atau menggunakan basis data yang belum diperbarui.

Siswa juga sering menghafalkan pasangan kata tanpa memahami penggunaannya. Akibatnya, mereka dapat memilih bentuk yang benar tetapi menempatkannya dalam kalimat dengan makna yang keliru.

Kesalahan lain adalah menganggap kata tidak baku tidak boleh digunakan sama sekali. Dalam dialog cerita atau percakapan informal, bentuk tersebut masih dapat digunakan apabila sesuai dengan karakter dan situasi.

Hal yang perlu dihindari adalah mencampurkan bentuk baku dan tidak baku tanpa tujuan dalam tulisan formal. Ketidakkonsistenan membuat tulisan terlihat kurang teliti.

Baca Juga: Teks Deskripsi: Pengertian, Ciri, Struktur, Jenis, dan Contohnya Lengkap

Strategi Mudah Mengingat Kata Baku

Menghafalkan daftar panjang sekaligus bukan metode yang selalu berhasil. Kata lebih mudah diingat apabila dipelajari berdasarkan pola dan penggunaan.

Beberapa strategi yang dapat diterapkan meliputi:

  • Kelompokkan berdasarkan kesalahan huruf. Contohnya, objek–obyek, subjek–subyek, dan sistem–sistim.

  • Buat kalimat pendek. Gunakan kata baku dalam konteks yang dekat dengan kegiatan sehari-hari.

  • Tandai bentuk tidak baku. Tuliskan pasangan dengan format “izin, bukan ijin” agar perbedaannya terlihat jelas.

  • Periksa kembali tulisan sendiri. Cari kata yang sering digunakan dalam tugas, kemudian bandingkan dengan KBBI.

  • Pelajari sedikit demi sedikit. Lima kata setiap hari lebih mudah dipertahankan daripada menghafalkan puluhan kata dalam satu waktu.

  • Gunakan kartu belajar. Tulis bentuk tidak baku pada satu sisi dan bentuk bakunya pada sisi lain.

Seseorang dapat dianggap memahami materi apabila mampu memilih bentuk baku, menjelaskan alasan pemilihannya, serta menempatkan kata tersebut dalam kalimat yang sesuai.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa yang dimaksud dengan kata baku?

Kata baku adalah kata yang bentuk dan penulisannya mengikuti standar bahasa Indonesia. Acuan yang dapat digunakan untuk memeriksa bentuk kata adalah KBBI VI Daring.

Apa yang dimaksud dengan kata tidak baku?

Kata tidak baku adalah bentuk yang tidak mengikuti standar bahasa resmi. Bentuk tersebut biasanya muncul karena pengaruh percakapan, pelafalan, bahasa daerah, atau kebiasaan penulisan.

Apakah kata tidak baku boleh digunakan?

Boleh, selama sesuai dengan konteks. Kata tidak baku dapat digunakan dalam percakapan santai atau dialog tokoh, tetapi sebaiknya dihindari dalam laporan, surat resmi, ujian, dan karya ilmiah.

Bagaimana cara mengecek kata baku?

Cari kata melalui KBBI VI Daring dan baca seluruh keterangan pada entrinya. Pastikan kata tersebut menjadi bentuk utama dan tidak diberi label sebagai bentuk tidak baku.

Apakah semua kata yang ada di KBBI merupakan kata baku?

Tidak. KBBI juga mencantumkan bentuk tidak baku, ragam percakapan, kosakata daerah, dan bentuk lama. Pengguna harus membaca label yang menyertai setiap entri.

Penutup

Kata baku dan tidak baku dibedakan berdasarkan kesesuaiannya dengan standar bahasa Indonesia serta konteks penggunaannya. Kata baku dibutuhkan dalam pendidikan, laporan, surat resmi, karya ilmiah, dan komunikasi publik, sedangkan bentuk tidak baku lebih lazim digunakan dalam percakapan santai.

KBBI membantu pembaca memeriksa bentuk, status, dan makna kata. EYD digunakan untuk memastikan aturan penulisannya sesuai dengan pedoman tata tulis yang berlaku. Keduanya perlu digunakan bersama ketika menyunting tulisan formal.

Kemampuan memilih kata baku dapat dilatih dari kesalahan yang paling sering dilakukan. Ambil beberapa tugas atau pesan resmi yang pernah ditulis, tandai kata yang meragukan, lalu periksa satu per satu melalui sumber resmi. Latihan sederhana tersebut akan membuat pilihan kata semakin tepat dan konsisten.

Artikel terkait